Risiko Penerjemah Buku

Beberapa hal sering dialami juga oleh penulis.

1. Dimintai buku gratisan, padahal jatah penerjemah paling banyak lima eksemplar dan setahu saya, hanya satu penerbit yang berkebijakan begitu. Selebihnya rata-rata memberikan satu eksemplar saja.

2. Dibandingkan dengan penerjemah bidang lain, khususnya mengenai pendapatan. Ini sudah sering terjadi, maka komentar yang demikian menurut saya tidak perlu ditanggapi terlalu jauh apalagi sampai diperdebatkan karena tidak akan mencapai titik temu.

3. Dikomentari pembaca, « Terjemahannya tidak enak. » Tapi tidak ada alasannya, hanya tambahan, « Pokoknya nggak enak, deh. » Sebagaimana wejangan Mbak Poppy, saya biasa mengabaikan saja komentar seperti ini.

4. Komentar lain, « Bagi-bagi order, dong. »

5. Komentar yang tak kalah sering, « Bagi contact person, dong. » Atau « Kenalkan sama editor anu, pliiis… » Terserah Anda menanggapinya, tapi saran saya, pertimbangkan dulu jika Anda berposisi editor in house. Senangkah diserbu pelamar yang ‘tak dikenal’ seketika karena email Anda ‘jalan-jalan’ tanpa setahu pemiliknya?

6. Dikoreksi sesama penerjemah/editor karena typo dalam kalimat komentar, postingan, atau status di jejaring sosial. Demikian pula bila kalimat atau frasa bermultimakna. Tidak semua seperti ini, memang.

7. Dikomentari pembaca tentang elemen yang bukan ‘wilayah kekuasaan’ kita, semisal soal cover dan sinopsis cover belakang.

8. Dibandingkan dengan ‘para dewa’ antara lain penerjemah kawakan yang merangkap pesastra dari zaman dahulu kala. Sedih memang, tapi bukan hanya pembaca yang melakukan komparasi bukan apel dengan apel ini. Saya pernah mendapat perlakuan serupa dari penerjemah senior.

9. Menghadapi pembaca yang bersikukuh lebih suka membaca buku aslinya yang berbahasa asing dan menyamaratakan semua buku terjemahan sebagai ‘produk gagal’.

10. Bertemu senior ‘kejam’.

11. Hasil terjemahan diobrak-abrik editor hingga nyaris tidak menyisakan gaya kita semula. Saya pernah mengalami ini, tapi alhamdulillah hanya dua kali.

12. Ejaan nama salah ketika tercantum dalam buku.

13. Buku yang diterjemahkan disukai pembaca, tapi jarang yang mengomentari terjemahannya kecuali ada yang salah/dianggap kurang pas.

14. Saat menerjemahkan buku seri, kemudian sekuelnya digarap orang lain, pembaca justru protes kepada kita. Belum lagi kalau seri tersebut tidak dilanjutkan oleh penerbit.

Masih berpikir bahwa penerjemah buku itu kerjaan enteng dan bisa dilakukan sambil leyeh-leyeh?

Publicités

11 thoughts on “Risiko Penerjemah Buku

    1. Gubrak! Astagaa…semoga Melody tak pernah dibegitukan, ya.
      Senior ‘kejam’ itu ya, antara lain membandingkan kita dengan para kampiun dan terkesan memandang semua penerjemah baru tidak kompeten. Padahal baca bukunya juga nggak, hihihi.

  1. Nomer 9 tuh. wkwkwkw. Kalau yang berkomentar seperti itu bukan penerjemah buku atau novel, bisa ditantang dengan, « coba terjemahin satu bab dari satu novel ke Bahasa Indonesia terus kasi ke orang dan suruh orang itu baca. Minta komentarnya, enak atau nggak? Berasa terjemahan atau nggak? » Kalau hasilnya bagus dan nggak berasa terjemahan, mungkin orang itu berbakat juga jadi penerjemah buku 😛

      1. hihihi…tapi duit mah tetep duit ;P
        kalau dia emang penerjemah juga…kan kita bisa berguru 😛

      2. Hahaha, bener. Duit mah nggak bisa nyetak sendiri.
        Tapi naga-naganya kalau kita berguru, dipungut bayaran deh, Nui:p

  2. Paling setuju sama poin 4,5,dan 13, mbak Rini 🙂

    Kalau poin 11,terkadang editor harus mengobrak-abrik kalau gaya terjemahannya gak sesuai dengan gaya selingkung penerbit. Karena itu editor yang baik harusnya memberikan catatan editor, menjelaskan gaya selingkung, dan contoh terjemahan buku serupa. Jadi penerjemahnya punya gambaran. Kemarin waktu aku nangani naskah dari Qanita digituin sama editornya 🙂

    Jadi penerjemah memang banyak dukanya, tapi juga banyak sukanya 🙂

    1. Betul Selvy, sayang sekali pada kasusku tahu-tahu sudah berubah saja, tidak ada alasan apalagi catatan. Tidak mengapa, jadi pelajaran buatku ketika menyunting terjemahan:)

  3. Kesulitan lain: ketemu puisi, dan ini harus diterjemahkan. Nerjemahin novel saja sudah sulit, apa lagi puisi. Kalau pengarangnya masih hidup, mungkin bisa kita tanyakan, tapi kalau sudah meninggal?
    Menerjemahkan novel yang sudah diterjemahkan dari bahasa lain (misalnya aslinya bahasa Prancis, Jerman, Itali dsb.) yang tidak kita kuasai itu juga sulit. Kalau nemu kalimat yang tidak ‘bunyi’, kita juga tidak tahu penerjemahannya itu benar atau tidak.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s