Menyunting Karya Lokal vs Terjemahan

Saya tidak akan memperpanjang debat, keluhan atau fenomena dominasi buku terjemahan atas buku keluaran penulis asli Indonesia. Telah jelas disebutkan dalam sebuah artikel/liputan Majalah Annida lama, bahwa untuk memenuhi tenggat produksi, salah satunya, buku terjemahan lebih siap. Seorang editor yang saya temui dalam suatu bincang-bincang di sebuah penerbitan pun menyatakan bahwa penilaian yang dilakukan atas naskah karya lokal dan terjemahan, mengingat naskah terjemahan dari sananya (baca: buku aslinya) sudah jadi sedangkan karya lokal masih perlu pembenahan.

Nyamannya menyunting karya terjemahan adalah keleluasaan relatif lebih. Kebanyakan penulis sudah memercayakan penggarapan alih bahasa kepada pihak penerbit di negara lain, walau kebijakan penerbit (termasuk dalam klausul kontrak hak penerjemahan) adalah menyerahkan salinan hasil terjemahan tersebut ke penerbit/agen aslinya di luar negeri sana, seperti yang sudah saya terangkan di tulisan itu.

Belum pernah ada tuntutan ‘macam-macam’ dari penulis luar, bahkan mereka sangat mengerti jika ada hal-hal yang terpaksa dipangkas atau lost in translation terkait alasan kultur, misalnya. Ketika saya menyunting hasil terjemahan dan memberikan catatan koreksi yang ditembuskan oleh penerbit kepada penerjemah bersangkutan, sejauh ini tak pernah ada penerjemah yang protes. Bahkan belum lama ini, saya memberi tahu seorang penerjemah sangat kampiun (telah mengerjakan seratus buku lebih) bahwa saya menyunting hasil karyanya di sebuah penerbitan, beliau dengan senang hati mempersilakan saya memberi masukan dan menyatakan bahwa saran saya itu berguna di kemudian hari.

Apa lagi kelebihan menyunting buku terjemahan daripada karya lokal? Fokus kerja benar-benar pada struktur, kelogisan, pilihan kata, keluwesan, dan hal-hal lainnya. Tak pernah mengurusi typo yang termasuk stadium kronis. Pasalnya, semua penerjemah tahu bahwa tata bahasa dan ejaan dasar sangat penting dalam persyaratan pekerjaan ini. Barang siapa yang masih salah menempatkan huruf besar, tanda titik sebelum tanda petik dan bukannya sesudah dalam dialog, menulis ‘disini’ ‘benar benar’ atau ‘di terangkan’ dijamin tidak lulus tes menjadi penerjemah.

Selebihnya, aturan main sama saja. Tenggat tergantung jadwal terbit dan negosiasi. Demikian pula kompensasi. Bila naskah lokal yang disunting membutuhkan penggalian lebih jauh dan permak besar alias rewrite, penyunting mendapat honor lebih dan kalau mau, dicantumkan sebagai co-writer (apabila disepakati empunya naskah). Penyunting karya terjemahan yang harus menerjemahkan ulang akan memperoleh kompensasi penerjemahan, yang otomatis lebih besar, walaupun tidak selalu mengakibatkan namanya berdampingan dengan nama penerjemah di halaman hak cipta buku ketika terbit. Bahkan belum pernah ada kenalan penyunting yang menceritakan pengalaman semacam itu kepada saya.

Bukan berarti semua penulis Indonesia cenderung antikritik. Saya pernah menangani naskah yang mulus sekali sehingga tinggal mempertahankan gayanya saja dan membereskan sedikit-sedikit padahal ia belum pernah menerbitkan buku. Di sinilah saya mengetahui bahwa klaim banyak membaca (perlu dipertanyakan lebih jauh, gerangan apa yang dibaca?) dan sudah terkenalnya seseorang di bidang tulis-menulis (alias sudah menerbitkan buku beberapa judul) tidak menjamin kualitas tulisannya ketika sampai di meja editor.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s