Sanksi Denda Untuk Penerjemah

Tidak banyak yang tahu bahwa ada beberapa penerbit yang memberlakukan peraturan semacam ini. Mungkin karena belum pernah bekerja sama dengan penerbit tersebut. Seperti dijelaskan Lulu di postingannya, alasan kuat penerbit adalah mendisiplinkan penerjemah sesuai jadwal terbit buku yang pasti berantakan dan merepotkan apabila penerjemah terlambat menyetorkan hasil.

Ketika bicara kualitas, memang sukar membandingluruskannya dengan kecepatan. Masalah kuota halaman saja (yang relevan sekali dengan kecepatan kerja), sependek pengetahuan saya, tergantung kepada jam terbang. Dengan kata lain, saking sudah banyak menerjemahkan, kosakata yang terekam di otak pasti berlimpah juga. Termasuk idiom, yang kerap mendorong penerjemah sering-sering membuka kamus. Sungguh ini bukan argumen defensif, namun terus terang saya bukan penerjemah yang berani ‘ngebut’.

Kembali pada topik denda, ada yang menetapkan lima ratus rupiah per halaman per hari keterlambatan. Ini paling menggelisahkan, sehingga ketika saya terlambat (dikarenakan topiknya lumayan berat dan bahasa penulisnya juga tidak encer), tiap malam saya berhitung sudah kena potong berapa. Salah satu lini penerbitan besar memberlakukan 5% dari total nilai honor (selain kena pajak juga tentunya), penerbitan lainnya sebesar 2% dari total honor per hari.

Berhubung peraturan semacam ini sulit ditawar (khusus untuk relasi-relasi yang pernah berhubungan dengan saya), siasat mengelakkan denda hanya dengan negosiasi tenggat. Selain itu, rata-rata penerbit yang menetapkan sanksi denda memberikan SPK (akan dibahas di postingan berikut). Maka saya harus mencermati isi SPK sehingga tidak terjadi suatu kesalahan konyol seperti pengalaman tahun lalu. Waktu itu saya menerjemahkan satu buku seri anak dan kena denda gara-gara tidak membaca SPK dengan teliti. Saya mengira keempat hasil terjemahan disetor pada tanggal yang sama, ternyata harus berurutan. Buku pertama di tanggal sekian, yang kedua seminggu setelahnya, dan seterusnya. Sang editor sampai mengontak saya via email dan mengingatkan, « Nanti kena dendanya besar, lho. »

Masih menyangkut denda, seorang penyunting pernah bermurah hati sekali (baca: kasihan kepada saya). Ia meminta saya mengirimkan hasil yang sudah dikerjakan pada tanggal tenggat lebih dulu sehingga hanya kena denda sebagian. Penyunting lain pernah memberikan jalan tengah ini juga. Namun karena pada kesempatan kedua ini saya menggunakan metode yang keliru (melewatkan kata-kata sulit), terjemahan bolong-bolong dan akan membebani editor ketika memeriksa jika dikerjakan secepat kilat. Sudah terlambat, kena denda, jangan sampai menyetor hasil semrawut. Syukurlah tinggal menyunting saja, jadi mundurnya tidak kelewat lama.

Tidak banyak penerbit yang menetapkan denda begini, namun bukan berarti penerbit lain boleh diperlakukan ‘seenaknya’. Kalau terlambat sampai keterlaluan, berkali-kali dan tanpa kabar, apalagi hasilnya mengecewakan, klien akan kapok dan mengucapkan selamat tinggal untuk seterusnya. Perlu diingat bahwa dunia perbukuan ini ‘kecil’, dalam arti pihak-pihak yang terlibat saling mengenal. Seorang editor bisa saja memasukkan nama penerjemah tertentu dalam blacklist dengan cap ‘tukang telat’ dan bercerita kepada editor lainnya. Jadi, mari mempertahankan kinerja. Terlambat bukannya tidak boleh, tapi harus konfirmasi dan usahakan tidak sering-sering. Selamat bekerja:)

Publicités

10 thoughts on “Sanksi Denda Untuk Penerjemah

  1. ass. mba nurul,

    dulu saya pernah free lance di Bhuana Ilmu Populer. sekarang gak lagi. sekarang pengen lagi jadi penerjemah inggris-indonesia. tapi persaingan makin sulit,haha. ada saran,apakah harus kursus bahasa asing lain,agar bisa jadi penerjemah bahasa lainnya selain inggris-indonesia/
    hihi,makasih ya mba, semoga sukses selalu. amien

    wass.

    1. Waalaikumsalam, Mbak Lea, panggil saja Rini:)
      Kalau kursus bahasa asing lain, terus terang saya tidak tahu efektivitasnya terhadap profesi ini karena bahasa asing akan terasah kalau sering dipakai, menurut saya. Jadi kalau setelah kursus tidak digunakan, bisa aus juga. Saya juga belum pernah mendengar pelatihan khusus menerjemahkan bahasa non Inggris, mohon maaf kalau tidak membantu ya:)
      Terima kasih kembali sudah berkunjung, sukses juga buat Mbak Lea. Aamiin.

  2. Dulu aku pernah ada kontrak yang seperti itu, kalau telat setor dipotong sekian persen per hari keterlambatan. Jujur, agak sedikit membuat beban sih Teh, karena ini kerjasama pertama dg penerbit itu, jadi ingin menawar tenggat sama ediotrnya kok rasanya gak sopan. 😀

    1. Sepertinya aku tahu penerbit yang mana, hehe.
      Betul, Anggun, kalau baru pertama kali bekerja sama sebaiknya tidak menawar tenggat:)

  3. Alhamdulilah selama ini editor2ku masih mau menerima negosiasi. Mudah-mudahan nggak sampai kena denda. Thanks Rin sudah mengingatkan lagi 🙂

  4. Ka, saya penerjemah juga. Saya mau mengirimkan sampel terjemahan saya. Kira2 ada saran ga ka kemana aja.

    Thank you in advance.

    1. Catherine, silakan cek alamat penerbit di buku-buku terjemahan yang Catherine baca. Bisa juga lihat di toko buku, biasanya ada satu eksemplar yang tidak berplastik.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s