Empat Tahun Memprogram ‘Ketika Dia Kembali’

Saya bukan penulis yang seproduktif teman-teman lain. Saya tipe yang menikmati penulisan lambat dan mudah kehabisan napas jika menggarap naskah panjang. Ada teman yang menganggap naskah 80 halaman itu tipis, namun bagi saya sudah mukjizat bila bisa merampungkannya. Selain itu, saya gagap menulis fiksi walau novel dan kumpulan cerpen mendominasi koleksi buku saya. Belum lagi fiksi remaja, atau pada masa tersebut populer disebut teenlit.

Modal saya satu saja: saya suka sekali thriller. Maka saat sebuah penerbit mengulurkan kesempatan untuk menggarapnya, saya segera menyambut. Satu bulan draft awal rampung (dengan masa melamun yang cukup lama untuk mengendapkan ide), saya diminta merevisi. Saya minta waktu agak lama sebab Mas Agus mengalami kecelakaan lalu lintas dan editor mempersilakan.

Sayang, revisi tidak dianggap memuaskan oleh penerbit bersangkutan dan saya menjemput pulang naskah ini.

Beberapa bulan setelahnya, saya merombak naskah tersebut. Membaca ulang. Bolak-balik bertanya kepada Mas Agus, bagaimana baiknya, bagaimana kalau ini jadi begini, tokoh anu jadi begitu. Ia tetap sabar dan akhirnya menandaskan, « Ikuti kata hatimu. » Menurutnya, kalau saya yakin akan suatu gagasan, biasanya sampai terbawa mimpi dan demam segala. Itulah yang terjadi. Mengapa bisa tergolong cepat menuliskannya? Karena sebagian kecil isi novel ini terinspirasi sebuah kisah nyata, yang kemudian dikembangkan dengan imajinasi saya sendiri. Peristiwa bullying di sekolah yang terus terulang, bahkan sampai diangkat ke film-film (horor Indonesia) segala. Saya meluangkan waktu untuk menonton beberapa judul yang fokus pada topik itu.

Setelah ‘diformat ulang’, tidak terhitung penerbit yang membaca dan menolaknya. Pelbagai alasan tidak lagi saya ingat. Beragam kota, itu sudah jelas. Namun bukan karena itu saya memutuskan menerbitkannya secara independen. Keputusan tersebut tetap mengalami proses yang tidak sebentar. Terlebih saat sebuah penerbit sangat besar menyatakan naskah ini layak terbit. Hati saya berbunga-bunga, dan jadi percaya diri lagi setelah sempat berpikir, « Jangan-jangan novel ini memang buruk. »

Penerbit tersebut (inisialnya dicantumkan di Ucapan Terima Kasih) meminta saya menambah halaman, asal jangan bertele-tele. Saya mentok di situ. Bukan tak mau merevisi, namun memperpanjang cerita yang sudah saya anggap tamat rasanya ‘mustahil’. Maka sambil menelusuri berbagai kemungkinan, saya mantap memilih Halaman Moeka Publishing sebagai mitra penerbitan. Secara khusus pula meminta Retnadi Nur’aini, siswi terbaik Workshop Menyunting Blogfam awal tahun lalu, untuk menggarap editingnya. Keputusan yang didiskusikan matang-matang dengan Mas Agus, tentunya, didasari antara lain penilaian subjektif kami karena sepanjang mengenal dan berbisnis (saya sering berbelanja buku di toko online Retno), ia tidak pernah sekalipun menawari saya menerbitkan di  Halaman Moeka. Apalagi secara agresif.

Cita-cita ‘sepele’ saya terpenuhi, yakni punya buku bersampul hitam:D Retno mempersilakan saya memeriksa hasil proof, mengobrol sering-sering tentang adaptasi latar dan deskripsi mengingat banyak sekali perubahan terjadi dalam empat tahun ini. Khususnya karena sebagian besar novel mengambil lokasi sekolah.

Apakah novel ini seram? Pertanyaan itu membuat saya merinding, sejujurnya. Tapi kadar keseraman amat relatif, seperti halnya humor dan romansa drama. Anda sendirilah yang bisa menilai:)

Publicités

4 thoughts on “Empat Tahun Memprogram ‘Ketika Dia Kembali’

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s