Saatnya Meninjau Ulang Kerja sama dengan Penerbit

Postingan ini terkait hubungan penerjemah dan editor (lepas) dengan penerbit. Seperti halnya kebanyakan hubungan kerja, ada cocok dan tidak cocok alias jodoh-jodohan. Berikut poin-poin yang membuat saya merasa perlu menimbang ulang kelanjutan kerja sama dengan penerbit tertentu.

Pembayaran tersendat. Maksimal batas kesabaran saya adalah satu bulan. Menurut saya, ini aspek yang paling fatal. Apalagi jika tenggatnya mepet dan kita sudah menyerahkan hasil kerja tepat waktu.

Bukti terbit sampai harus ditagih. Kesannya mungkin sepele, satu eksemplar buku yang sebenarnya bisa dibeli sendiri di toko terdekat dan tidak sampai menghabiskan honor. Tapi seperti yang mungkin Anda ketahui, acap kali menagih sesuatu yang merupakan hak kita malah membuat kita malu sendiri (sekalipun menanyakan dengan bahasa yang sesantun mungkin). Perasaan menyiksa itu, terlebih bila menagih berkali-kali, menciptakan rasa malas bekerja sama lagi. Lebih parahnya, bila tahu-tahu buku terbit dan kita tahu sekian lama kemudian dari orang lain alias tidak memperoleh jatah.

Lain halnya bila sedari awal pihak penerbit sudah memberitahukan bahwa penerjemah tidak memperoleh bukti terbit. Sedihnya, ini baru diketahui setelah pekerjaan berjalan atau bahkan sudah rampung. Faktor lain bisa menjadi pelipur, misal besaran honor (pernah ada penerbit yang tidak memberikan bukti karena harganya terbilang mahal dan diproduksi secara eksklusif) sehingga kita bisa membeli sendiri barang satu eksemplar untuk dokumentasi.

Selingkung yang berbeda secara prinsip. Saya memahami bahwa tidak semua penerbit menerapkan KBBI seratus persen, namun ada unsur-unsur yang berlaku umum dalam penerjemahan. Sulit rasanya menghasilkan karya maksimal apabila dibendung aturan kurang berterima, di antaranya jika semua istilah asing harus diterjemahkan dan dibubuhkan dalam tanda kurung dan kebersikukuhan editor yang tidak mau menerima masukan yang sesungguhnya bersumber dari kritik pembaca. Memang hak penerbit untuk berpegang terus pada selingkung yang diyakini, hak penerjemah/editor pulalah untuk menilai apakah itu menyamankan pekerjaan atau tidak.

Tenggat senantiasa kejar tayang. Memang ada penerjemah dan editor yang sanggup bekerja cepat, bahkan tergolong ‘kilat’. Saya mengagumi itu, akan tetapi saya sendiri tidak berani. Sebetah-betahnya di depan komputer atau membaca cerita yang seru, saya tetap cinta bantal guling dan tidak ingin mengorbankan waktu istirahat di malam hari. Kalau nekat melakukannya, bisa dipastikan hasilnya rimbun typo dan banyak lagi kesalahan lain. Lebih baik minta dua bulan tapi selesai satu setengah bulan daripada bersedia satu bulan sambil terseok-seok atau menyanggupi namun praktiknya molor akibat salah perkiraan. Saya percaya para editor memaklumi dan penuh pengertian, tetapi kalau sering-sering…? Alamak!

Ini pendirian saya pribadi, penerjemah lain belum tentu sama.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s