We’ll Meet Again, Kita Kan Jumpa Lagi

gramedia.com

Penulis: Mary Higgins Clark
Penerjemah: Ade Dina Sigarlaki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 464 halaman
Cetakan: ke-3, April 2005

Molly Carpenter Lasch bertekad membuktikan dirinya tidak bersalah, meski telah
menjalani lima setengah tahun di penjara akibat tuduhan membunuh suaminya
sendiri. Dokter Gary Lasch ditemukan tewas dalam keadaan duduk memunggungi,
sedangkan Molly didapati pengurus rumahtangganya berlumuran darah kering dan
seperti orang melamun. Diduga ia melakukan itu karena sakit hati dikhianati sang
suami. Gary berselingkuh dengan seorang perawat sampai hamil.

Dalam masa pembebasan bersyaratnya, Molly bertemu dengan Fran Simmons. Teman
sekolahnya yang bergelut di dunia reportase investigasi televisi ini yakin bahwa
ia tidak bersalah. Keyakinan Fran menguatkan hati Molly sebab pengacaranya pun
tidak mempercayainya.

Latarbelakang Fran sendiri bukannya cerah benderang. Ia menyimpan kenangan pahit
di kota kelahiran tersebut karena ayahnya bunuh diri dalam mobil pada hari
wisudanya. Sang ayah tertekan lantaran menggelapkan dana sumbangan perpustakaan.
Peristiwa yang tak lenyap dari benak masyarakat setempat dan selalu diidentikkan
dengan Fran ke mana pun ia pergi.

Fran berusaha menghidupkan kekuatan Molly untuk bertahan, tatkala sekali lagi ia
didakwa membunuh. Ingatan Molly yang samar dan jiwanya yang tertekan justru
menimbulkan prasangka bahwa wanita itu benar-benar membunuh Gary Lasch, juga
mantan kekasihnya yang telah meninggalkan dunia perawat. Dengan mengesampingkan
emosinya sendiri, Fran memasang mata dan menemukan aneka teka-teki. Siapakah
yang diuntungkan dengan kasus ini? Apa kaitannya dengan Lasch Hospital dan mitra
Gary, Peter Black? Dan mengapa Cal Whitehall menganggapnya usikan? Mengapa pula
Edna Barry, pengurus rumahtangga Molly, ketakutan saat Fran mengendus fakta
ihwal putranya yang sakit?

Menilik kasus misterius dari sudut pandang seorang reporter investigasi terasa
lebih mencengkeram (bagi saya) dibandingkan detektif dengan segala prosedurnya.
Penelusuran Fran dan konflik yang bertaburan berhasil menghadirkan cekaman dalam
setiap sub plot, menyingkirkan kesangsian yang bermunculan, sekaligus menyajikan
potret kelam dunia medis yang tidak jarang bernuansa materialistis dan ambisi.

Sekilas, tema novel ini mirip dengan Daddy’s Little Girl dengan karakter wanita
tangguh yang membuat Mary Higgins Clark kerap disenadakan dengan Sidney Sheldon.
Akan tetapi kelitannya luar biasa, sehingga tebakan-tebakan akan ending dan
pelaku utamanya meleset jauh namun tetap masuk akal.

Jadi, masih beranggapan bahwa novel MHC adalah kisah drama romansa?

[rating=3]

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s