Karya-karya Asing yang Sulit Diterjemahkan

Menurut saya, ada buku atau karya dalam bahasa asing yang sulit diterjemahkan dengan pas. Ini menyangkut nuansa bahasa, antara lain, sebagai elemen khas sebuah karya tulis. Kebanyakan berupa puisi atau syair kuno, antara lain soneta Shakespeare dan teks Beowulf yang sangat rumit.

Contoh soneta Shakespeare dari sana:

Whoso list to hunt, I know where is an hind,
      But, as for me: helas, I may no more.
      The vain travail hath wearied me so sore,
      I am of them, that farthest cometh behind.

Meski tidak bisa menyebut judul, saya membayangkan sebuah buku (fiksi) yang penuh pun alias wordgame juga sukar diterjemahkan secara ‘mendekati sempurna’ lantaran unsur budaya yang amat lekat. Kembali pada buku klasik, dialek dan banyak komponen lain menciptakan problematika yang khas pula. Seperti dalam novel Pollyanna ini:

« All right–but don’t furgit ter say I’ll work fur my board an’ keep, » put in Jimmy. « I ain’t no beggar, an’ biz’ness is biz’ness, even with Ladies’ Aiders, I’m thinkin’. » He hesitated, then added: « An’ I s’pose I better stay where I be fur a spell yet–till you hear. »

Penerjemahan bahasa yang sama-sama asing (baca: non Indonesia) acap kali mengalami distorsi besar pula. Mas Agus pernah menyampaikan bahwa buku-buku Khalil Gibran lebih baik diterjemahkan dari bahasa aslinya (Arab, CMIIW) dan bukan dari terjemahan Inggris yang dialihbahasakan ulang ke Indonesia. Saya sendiri pernah merasakan pergeseran yang cukup mengganggu ketika menerjemahkan bahasa Inggris dari teks yang aslinya berbahasa Arab. Mau tak mau, saya harus mencari tahu kata aslinya karena kadang kosakata Inggris tidak cukup mewakili maksud yang hendak disampaikan penulis.

Pengalihbahasaan buku Prancis ke Inggris juga demikian. Saat diterjemahkan ke bahasa Indonesia, akan teraba bahasa sumbernya. Apa mau dikata, lost in translation sukar dielakkan. Menerjemahkan memang kerap menuntut alih budaya dan berpikir dalam bahasa tersebut seutuhnya. Saya sangat kagum dan salut membaca novel remaja Ttokpokki karya Donna Nadira dengan bahasa Inggris yang segar dan lincah. Sepertinya sulit menerjemahkan buku itu tanpa kehilangan napas cerianya.

Sementara itu, ada buku yang terjemahannya jauh lebih bagus ketimbang buku asli. Saya berani menyebut Tintin sebagai salah satunya. Versi bahasa Indonesianya sangat mulus dan menggelitik (terkhusus Kapten Haddock), namun saat membaca bahasa Prancisnya, saya bingung harus tertawa di sebelah mana:D

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s