Menerjemahkan Idiom dan Peribahasa

Tulisan ini berawal dari diskusi beberapa hari yang lalu di Facebook Nur Aini seputar pemakaian padanan, mana yang perlu dipertahankan guna mendekati istilah asli dan maknanya, mana yang perlu total diluruhkan dalam bahasa Indonesia. Seperti pernah diuraikan dalam buku Dari Katabelece Sampai Kakus, tidak ada kata yang benar-benar bersinonim. Ini terkait teori medan makna dalam linguistik, tepatnya semantik, yang pernah saya bahas dalam skripsi.

Idealnya, idiom dan peribahasa yang terdapat di buku asli diterjemahkan idiom dan peribahasa juga.

Contoh: All that glitters is not gold. Mengartikannya Belum tentu yang berkilau itu emas tidak salah, di samping beberapa alternatif sesuai konteks:

Jangan menilai orang dari penampilannya.

Belum tentu seindah kelihatannya.

Jangan mudah terkecoh iming-iming.

Bila ingin menggunakan peribahasa juga, yang mendekati adalah Jangan membeli kucing dalam karung.

Masalah timbul ketika ungkapan dan peribahasa yang digunakan teramat khas serta kurang populer di bahasa Indonesia.

Contoh: Hunger is a good sauce.

Saya pribadi kesulitan mengingat peribahasa yang khas Indonesia untuk padanannya, tetapi lebih mudah mengartikan langsung Makanan terasa paling lezat ketika kita sedang lapar.

Contoh lain: As likely as a mouse falling in love with a cat

Bila diterjemahkan Ingin dibuah manggis hutan, masak ranum tergantung tinggi, saya khawatir pembaca akan berkerut kening. Seorang kolega editor pernah menyarankan, terutama untuk pembaca buku remaja, agar penerjemah mengupayakan kata sefamilier mungkin sehingga pembaca tidak ‘bekerja keras’ dan merasakan kalimat yang cair. Tentu tidak berarti penerjemah tak boleh memperkenalkan kosakata baru.

Mencari padanan peribahasa dan ungkapan yang pas memakan waktu dan terbilang kerja ekstra. Pasalnya, selain distorsi tadi, kamus-kamus ungkapan serta peribahasa (biasanya menjadi satu paket) disusun berdasarkan kata yang terkandung secara alfabetis (misalnya ‘abu’, ’emas’, dll) sehingga kalau tidak hafal, harus menelusuri sendiri. Saya pribadi belum pernah berhasil menemukan yang tepat dengan cara googling.

Hasil diskusi saya dengan Lulu adalah, tepatnya pendapat Lulu sendiri yang saya setujui, tidak perlu dipaksakan kecuali jika tokohnya memang selalu menggunakan idiom saat berbicara.

Sedikit temuan, saat saya menggunakan keyword ‘proverb wishing for impossible‘ di Google, hasilnya adalah tautan ini. Apakah berarti pesimisme sudah menjadi ciri khas dan membudaya di Indonesia?

Publicités

6 thoughts on “Menerjemahkan Idiom dan Peribahasa

  1. Hoa…iya, masalah idiom ini kadang2 memang bikin keriting. Karena tidak hafal seluruh peribahasa Indonesia, penggunaan kamus hampir nggak efektif. Kalau ada yg teringat, aku berusaha menggunakan idiom juga, tapi kalau mentok terpaksa diterjemahkan dari idiom aslinya. Siapa ya yg mau repot bikin kamus idiom Inggris – idiom Indonesia? Rini? Hihihi.

    1. Penggunaan kamus hampir tidak efektif, aha…tepat sekali, Mbak. Ternyata aku tidak sendiri.
      Kamus idiom kan sudah ada Mbak, eh tapi namanya kamus ungkapan *lirik meja*. Sebenarnya sama nggak, ya?:D

      1. Maksudku, dari ungkapan Inggris ke ungkapan Indonesia. Ada kah? Biasanya kamus idiom Inggris ya diterjemahkan apa adanya juga. Emang, ujung2nya nggak mau maksa, hehehe.

      2. Ooh, kalo itu ada, Mbak. Ini aku punya terbitan GPU, baru terbit bulan lalu:)

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s