Haru-biru Menerjemahkan ‘When God was a Rabbit’

« Memories no matter how small or inconsequential are the pages that define us. »

Sesungguhnya saya cinta sekali novel drama, itu sudah terbukti ketika saya menerjemahkan Marriage Bureau for Elite People. Dulu saya pernah mengira bahwa drama identik dengan percintaan, ternyata tidak demikian. Drama secara istilah lebih dekat dengan sandiwara/teater atau film, tetapi dalam karya prosa (novel) pun, drama merupakan komponen yang hampir selalu ada. Ini bisa dipadukan dengan subgenre lain, misalnya YA/teen drama gothic drama, sampai crime drama.

Ketika editor menyebutkan bahwa buku yang tersedia untuk dikerjakan adalah When God was a Rabbit dan saya buru-buru membaca sinopsisnya, saya berjingkrak. Drama keluarga! Saya langsung mengiyakan opsi PDF agar bisa membaca file-nya saat itu juga. Pembukanya sudah menggedor hati, bisa Anda baca di situ.

Sarah Winman dalam diskusi bukunya di Bloomsbury, Amerika.

Memang judulnya saja sudah menggelitik, tuhan siapa yang berbentuk kelinci? Atau siapa yang menyembah dan menuhankan kelinci? Pertanyaan itu tidak langsung terjawab. Saya terhanyut dalam gaya tutur Sarah Winman yang menyerupai memoar dengan diksi serba padat dan ringkas. Dialog dan narasi bisa dikatakan seimbang, namun tidak banyak deskripsi. Pemakaian sudut pandang orang pertama menjadikan proses penerjemahannya relatif lebih lancar dan meluncur dalam tempo satu setengah bulan. Pada waktu itu, saya sempat panik membandingkan jumlah total halaman PDF dengan word karena nyaris tak berbeda. Bahkan hanya berselisih sedikit sekali. Saya khawatir ada yang terlewat, tapi memang font-nya besar-besar. Seorang rekan penerjemah mengalami hal persis sama dengan pekerjaan yang digarap bersamaan dan mengatakan bahwa itu lumrah terkait tahap peluwesan saat alih bahasa.

When God Was A Rabbit adalah novel yang penuh pengungkapan terang-terangan dan lugas dalam segi bahasa. Sebisa mungkin saya berusaha menjaga keutuhan gaya penulisnya, antara lain dengan tidak memenggal semua kalimat panjang yang dihubungkan dengan ‘dan’ dan ‘dan’, meski terkadang saya bubuhkan substitusi penghubung.

Untuk menghindari kontroversi yang mungkin terjadi, nama god si kelinci ditulis dengan huruf G kecil sesuai buku aslinya.

Setiap sub plot mengandung kejutan, oleh karena itu kata ganti ‘ia’ dan ‘dia’ bertaburan karena penerjemahan berupaya setia pada keputusan penulis. Bisa jadi ini membuat pembaca menerka-nerka, tetapi saya tidak ingin kelewat memperjelasnya agar kejutan yang dirancang penulis tidak rusak.

Beberapa sastrawan terkemuka di zaman dahulu menyatakan bahwa menerjemahkan adalah proses belajar menulis yang baik dan efektif. Itu sangat terbukti ketika saya menggarap When God was a Rabbit. Ada rasa iri sekaligus terpukau karena Sarah Winman menyiapkan debut secara matang, dalam novel mengenai persahabatan dan persaudaraan tersebut. Tidak ada karakter yang mubazir. Semua penting sesuai porsinya. Saya sulit berhenti karena ingin mengetahui apa yang terjadi selanjutnya dan senantiasa diberi kejutan.

Elly, tokoh sentral cerita, menggelontorkan kisah sedari masih kecil sampai dewasa. Latar masa kanak-kanaknya pun sekitar tahun 60-an, membuat saya merasa punya alasan mendengarkan lagu rock dan slow rock jadul seperti Queen dan Beatles. Anda tentu tahu dari lagu apa adegan berikut ini:

Jenny Penny mendengarkan. Ia tersenyum. “Aku juga. Aku hafal semua liriknya. Aku mulai ya. I see a little silhuetto of  a man. Scary mush, Scary mush, will you do the fandango?”

 

“Kau tidak boleh lewat!” pekik Mrs. Penny.

 

Thunderbolt and lightning, very very frightening. MEEE!” aku menyanyi.

Saat editor menyampaikan bahwa hatinya ikut remuk membaca subplot tertentu dan tertawa membaca bagian lain, saya bahagia. Semoga pembaca pun merasakan demikian.

Bila Anda ingin membaca fiksi dengan karakter-karakter tidak biasa, tidak ada yang sempurna, bahkan bisa dikatakan eksentrik semua, inilah buku yang tepat ^_^

Publicités

2 thoughts on “Haru-biru Menerjemahkan ‘When God was a Rabbit’

  1. Salam kenal Mbak Rini, saya baru kelar baca novel « When God was A Rabbit », suka sekali dg tema ceritanya & salut jg dg terjemahannya, mengalir 🙂

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s