Membaca Ulang

Sudah lazim rasanya, ketika membaca karya/tulisan-tulisan dulu dan sekarang, akan tampak perbedaan. Saya pernah tersenyum-senyum saking malu pada kepercayaan diri sendiri yang berlebih saat menemukan berkas-berkas naskah yang dikirim ke media dan sudah menguning sebagian. Ketikannya ada yang pudar, miring, dan nekat saya kirimkan juga meski hanya dikoreksi dengan tip-ex, padahal seharusnya saya perbaiki lagi sampai rapi. Ada pula yang saya ketik terlalu kecil, lantaran baru belajar komputer, dan menggunakan kertas continuous form. Itu ‘berkat’ malas bertanya pada yang sudah berpengalaman. Terus terang rasa enggan, yang lebih tepat disebut malu, itu masih ada sampai sekarang.

Itu baru sebatas tampilan belaka, belum lagi isi. Kadar koreksi diri jauh lebih meningkat semenjak saya menerjemahkan dan menyunting buku. Setiap kali terbit, saya berusaha membaca kembali supaya kesalahan, yang pastinya dirapikan editor, tidak terulang di kemudian hari. Lumrah saja bahwa ketika masih merintis di bidang ini pun, kekurangan sangat banyak meski sekarang belum bisa dikatakan ‘bersih total’. Ada yang saya terjemahkan datar-datar saja alias tidak terpikir untuk otak-atik struktur demi keluwesan, ada yang salah melihat rujukan (ini diketahui setelah buku tersebut dibaca dan ditelaah seorang senior). Pernah juga muka jadi merah padam melihat hasil suntingan yang belum selaras dan tampak benar bahwa saya kurang memanfaatkan kepercayaan serta kewenangan dari penerbit untuk ‘merombak’ secara kreatif. Tidak selalu yang dulu itu kurang baik. Pada suatu tahun, saya mendapati bahwa terjemahan saya yang belakangan kurang memuaskan ketimbang sebelumnya.

Apa kata Mas Agus ketika saya mintai pendapat? « Kamu terlalu sibuk, » katanya. Saya akui, saya introspeksi, dan saya coba benahi supaya dari buku ke buku memperoleh ‘napas’ yang semestinya.

Hal serupa berlaku pada membaca karya-karya orang lain, khususnya buku lokal. Sampai kini, lemari saya masih didominasi buku terjemahan. Saya tidak alergi buku lokal, pada dasarnya temalah yang menjadi sorotan awal untuk menentukan keputusan membeli. Ketika beres-beres koleksi beberapa hari yang lalu, saya sempatkan membaca beberapa judul – termasuk yang belum disentuh sejak lama. Ternyata selera saya bergeser. Faktor umur adalah yang ‘dicurigai’ paling awal.

Ada novel yang semasa saya masih remaja atau maksimal usia 20-an tampak seru dan mengesankan, berubah ‘biasa saja’ sewaktu dibuka-buka belakangan. Nonfiksi tema tertentu yang dulu mengundang penasaran kini kurang menarik lagi. Ini semata preferensi pribadi, bukan berarti buku tersebut jelek.

Bahkan ada buku yang dijadikan materi terjemahan pernah saya ganjar lima bintang. Saat dalam penggarapan dan mau tak mau menilik lebih dalam, bintangnya menurun satu. Jelas, bukannya saya berekspektasi berlebihan dan menginginkan buku yang ‘sempurna’. Seperti kata Bung Hatta dalam biografinya yang diterbitkan KPG, « Buku sempurna adalah buku yang tidak pernah ditulis. »

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s