Setelah Mendapat Kritik

Bila melahirkan karya yang dipublikasi, harus siap mendapatkan kritik.

Tidak ada buku yang sempurna.

Kalimat-kalimat itu sudah kerap saya dengar, baca dan ngiangkan, sebab sejak menerjuni dunia penulisan (sebelum fokus di penerjemahan dan penyuntingan buku), saya sudah ‘berlatih’ dengan aneka kritik pula. Tetap saja, saat dilayangkan pada hasil terjemahan meski bukan yang kali pertama pula, saya tertegun. Yang langsung terlintas dan sepertinya diidamkan semua orang adalah « Saya berharap memperoleh kritik membangun yang disampaikan dengan cara santun ».

Memang, ini bukan ‘kiamat’. Saya bisa mencamkan ucapan seorang editor yang sangat saya percayai, « Kalau dikritik, jangan bela diri. » Kemudian saya teringat beberapa penerjemah lain yang amat senior dan tidak luput dari kritikan pula, bahkan lebih ‘mengenaskan’ karena dilontarkan di depan umum dan sebagian cenderung mengecam tanpa memberi jalan keluar. Di sebuah blog, salah satu penerjemah yang merangkap editor juga mengemukakan perasaan down dan khawatir reputasinya terancam di mata para relasi serta klien potensial. Alhamdulillah yang terjadi malah sebaliknya.

Saya mulai membaca-baca ulasan buku yang pernah saya garap terjemahannya, terutama yang sejenis dengan genre yang dikritik tersebut. Akhirnya saya mencoba mempraktikkan Glad Game alias Permainan Sukacita ala Pollyanna agar situasi yang menghambat produktivitas ini tidak berlarut-larut. Karena saya tengah menyunting, saya meningkatkan bela rasa terhadap penerjemah. Jujur saja, sebelumnya saya sering geram dan menyiksa diri dengan omelan-omelan (bahasa gaulnya, sebentar-sebentar jedotin kepala ke tembok) yang membuat stres ketimbang menyelesaikan masalah. Padahal kendati jenuh dan kesal tidak dilarang, lebih baik sambil terus dikerjakan agar lekas selesai dan bagaimanapun juga, saya bisa belajar banyak dari situ. Tentu selain keuntungan membaca lebih dulu buku yang bersangkutan beserta versi aslinya.

Kalau ada kesalahan yang ‘parah’, saya jadikan catatan untuk diri sendiri supaya ketika menerjemahkan bisa menghindari atau mengantisipasinya. Kalau ada kekeliruan yang sering muncul meski terbilang sederhana, saya bawa tersenyum saja dan berpikir, mungkin penerjemah sedang kurang sehat, mengantuk, atau bekerja sambil mengasuh anak. Barangkali argumen ini kurang profesional, namun bagi saya pribadi, meringankan pikiran sewaktu bekerja karena saya belajar sedikit lebih berempati terhadap penerjemah tersebut. Dengan kata lain, bersikap manusiawi saja, deh.

Di samping itu, kritik pedas tersebut mengingatkan saya pada suatu ekspektasi untuk menghasilkan karya terjemahan/editan yang bisa dinikmati semua lapisan dan kalangan. Tanpa bermaksud menyerah, ternyata itu tidak mungkin karena berarti saya harus ‘menyenangkan’ semua orang sedangkan selera pembaca saja begitu variatif. Jadi, terima kasih kepada sang pelontar kritik, membuat saya sadar untuk bersikap realistis.

Publicités

4 thoughts on “Setelah Mendapat Kritik

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s