Saat Masih Merintis Karier…

…dan menjalani penerjemahan dokumen sekitar 13 tahun yang lalu, saya sudah menunjukkan minat lebih besar pada buku. Oleh karenanya, ‘dokumen’ yang saya sentuh paling-paling abstrak mahasiswa dan artikel untuk bahan kuliah mereka. Di luar itu, semasa ngantor, saya berkutat dengan copywriting bahasa Inggris seputar tekstil dan IT. Banyak pengetahuan yang berguguran, atau bisa juga disebut ketinggalan dan aus, sehingga ketika saya mulai berkegiatan di sana dengan tugas yang kurang-lebih sama, saya harus mulai dari nol lagi.

Saya tidak ingat apakah pernah menerjemahkan yang murni untuk berlatih, kecuali buku manual mainan para keponakan. Bahkan salah seorang dari mereka membayar saya dengan tiga bungkus mi instan, karena sudah diajari bahwa bekerja itu tidak boleh dianggap enteng:D. Saat menggarap buku berbau teknik untuk kepentingan sebuah perusahaan, saya tak urung tersenyum-senyum karena dari jurusan Sastra bisa ‘menyeberang’. Demikian pula saat menerjemahkan buku bertopik militer yang masih membuat saya tercengang-cengang sampai kini, meski tidak bisa dijabarkan isinya. Kerja bahu-membahu dengan Mas Agus yang cukup berat, mengingat para keponakan mondar-mandir ingin memakai komputer, bahkan melingkar sambil memeluk kaki saya saking tidak sabar menunggu giliran.

Tentu saja, waktu itu saya belum memiliki atau merasa perlu membeli KBBI, musababnya adalah lebih kerap mengikuti gaya bahasa selera klien.

Buku lain yang saya rambah ialah buku teks mahasiswa berbagai jurusan. Ini pening juga namun menyenangkan di beberapa sisi. Ketika menggarap sekaligus meringkas buku Manajemen Keuangan, misalnya, saya ‘terpaksa’ banyak diskusi. Demikian pula saat menerjemahkan buku berbau psikologi dan SDM, bidang yang pernah amat saya minati untuk melanjutkan jenjang pendidikan, saya tersadar bahwa sepertinya terlalu berat kalau kuliah lagi di jurusan itu :)).

Tenggat waktu menerjemahkan buku kuliah hampir sama dengan buku untuk penerbit. Sekarang saya sudah tidak sempat mengerjakannya lagi. Alhamdulillah, para keponakan sudah terbiasa (atau dipaksa untuk itu) dengan buku pegangan berbahasa Inggris sesuai kurikulum zaman sekarang. Malah kadang-kadang saya nebeng kamus milik mereka:D

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s