Apakah Penulis-penulis Ini Kejam?

123rf.com

 

Sebagai pembaca, saya hampir tidak pernah berkomunikasi dengan penulis yang karyanya saya kagumi. Banyak alasan, kendati di era sosmed ini ‘rumah’ penulis tersebut bisa dengan mudah diketahui. Yang utama: sungkan. Bahasa lainnya: segan. Tentu, bukan berarti tak pernah sama sekali. Namun lebih sering saya menyambangi blognya saja, melihat-lihat tulisan seputar proses kreatifnya atau yang lebih kerap, hal-hal yang mengganggu dan mengesalkan baginya. Kadang ada yang sama, kadang berbeda.

Ada penulis yang terkesan ‘menganggurkan’ komentar-komentar di blognya dan membuat saya bertanya-tanya, tetapi kini tidak lagi. Tidak setelah saya sering mendapati forum rapi (dengan ‘kerusuhan’ terkendali) yang jelas-jelas menyatakan bahwa banyak postingan/komentar yang bisa dikategorikan ‘nyampah’, misalnya « Nice posting« . Dan memang ada komentar-komentar yang terlalu retoris untuk ditanggapi. Sekali waktu saya menyampaikan salut dan apresiasi kepada seorang penulis, kemudian yang menjawab adalah editornya. Itu pun sangat bisa dimengerti.

Sebagai penulis, saya tergolong relatif mujur karena tidak bergerak di bidang yang ‘basah’ dalam arti membuat terkenal sehingga kebanjiran fans dengan aneka ragam karakternya seperti teman-teman lain yang jauh lebih populer sehingga akun FB-nya sampai penuh. Saya tidak sampai harus mencantumkan ‘punya akun FB tapi tidak ingin menambah teman’ seperti yang dilakukan seorang penulis di profil singkatnya.

Kembali pada kontak dengan penulis tadi, kebutuhan ‘menjenguk’ mulai terasa ketika saya menulis ulasan buku. Tidak harus berinteraksi ‘langsung’ juga, kadang-kadang hanya ingin menyampaikan bahwa dalam ulasan saya, ada kesan yang melekat dari bukunya. Tak pelak, ada juga kejadian menggelikan. Kenalan dari zaman dulu kala tidak mengingat saya setelah bukunya terbit, malah usai membaca ulasan, kami seperti berkenalan dari nol lagi.:D

Kebutuhan di atas kian meningkat saat saya menerjemahkan atau menggarap suntingan buku hasil terjemahan. Mungkin terkesan kurang kerjaan atau membuang waktu, tapi saya gemar meriset langsung dari web penulis, syukur-syukur ada forumnya seperti Mary Hoffman.

Bagian yang selalu menyita perhatian saya di web-web para penulis itu adalah Q&A-nya. Ternyata mereka yang sudah sohor di tingkat dunia pun masih diserbu pertanyaan mendasar tentang cara menulis dan keinginan menerbitkan buku. Saya belajar banyak dari metode komunikasi mereka yang mungkin ‘kejam’ di mata orang tertentu.

Ambil contoh Catherine Fisher, penulis Incarceron. Q&A-nya sudah 249 halaman! Sangat wajar apabila ia mencantumkan Please do not send repeat questions. Repeated questions will not be answered. Lalu saya membaca lebih jauh di halaman terbarunya.

Hi! I love your books, and as a fan may I tell that you should considered Ben Barnes as Finn for Incaceron’s movie, he’s british and a really great actor, he reminds me the character of Finn’s! he starred in the title role in a film adaptation of Oscar Wilde’s Dorian Gray with Colin Firth and also in the movie called Killing Bono..well I hope you to considered my idea and excuse me if I wrote wrong some words I’m from spain.

Thanks Grace, but it’s out of my hands!

Sandra Brown juga menyampaikan dengan jelas bahwa ia tidak bisa menilik naskah (calon) penulis lain untuk memberikan penilaian dengan dasar hak cipta dan hasil konsultasi dengan agennya. Sementara pengelola web resmi Stephen King mengemukakan sebagai berikut:

Stephen has no public email address and we do not give out his personal email address.

Messages can be posted on the Stephen King Message Board which Stephen does read, although not every day and he does not read every message.

Apakah mereka kejam? Menurut saya tidak, hanya tegas. Dan itu baik bagi kedua belah pihak, dalam hal ini penulis serta pembaca sendiri. Memang ada pembaca yang gemar terus bertanya ini-itu, bahkan sampai yang personal dan sebenarnya tidak perlu (seperti di web SK tersebut), tetapi ada juga pembaca yang berharap karya terbaru segera dirampungkan. Tidak semuanya bisa dipuaskan, bukan?

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s