Permainan Maut

Permainan Maut

Penulis: Lexie Xu

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Tebal: 288 halaman

« Yah, memang ada orang-orang yang masih belum belajar apa-apa meski kepala sudah botak, perut sudah buncit, dan keriput berseliweran di mana-mana. »  (hal. 10)

Terasa benar perkataan Hanny, Jenny, Markus dan Tony di buku pertama (Obsesi): Kadang lebih baik berharap bahwa pelaku kejahatannya adalah hantu. Meminjam istilah Sunda,’jurig bungkeuleukan’ alias manusia ada kalanya bertindak lebih buas daripada binatang, sangat keji dan kejam.

Benang merah Permainan Maut adalah hubungan kakak-adik yang, berkat peralihan sudut pandang penceritaannya, memungkinkan pembaca melihat dari dua sisi. Tory yang eksentrik (‘bintang tamu’ di buku ketiga ini), kakak Tony yang ‘disembunyikan’ karena perilakunya yang ajaib dan suka menindas sehingga disebut Nenek Sihir oleh adiknya sendiri. Sebagaimana kebanyakan orang, Tory berbuat aneh-aneh pun karena menutupi sesuatu. Atau tepatnya, tidak ingin menunjukkan perasaan sebenarnya.

Semua orang punya rahasia. Semua keluarga menyimpan rahasia gelap.

Ihwal persaudaraan tadi merembet tentunya, pada Markus sahabat Tony sedari kecil yang juga dekat dengan Tory. Terciptalah segitiga dilematis. Kemudian kakak-beradik Ailina dan Celina, tuan rumah di penginapan yang memiliki karakter bertolakbelakang. Termasuk kakak-adik dalam legenda mendirikan bulu roma yang menjadi fondasi misteri cerita, kedengkian yang berakibat maut dan menewaskan banyak orang.

Teknik penulis luar biasa. Terlihat benar ia sudah merancang bahan-bahan untuk serinya ini, kini dengan mengungkap suatu cerita paralel dari segi waktu yang kemudian mempertemukan para tokoh, terkait buku sebelumnya, di satu titik. Kejelian yang cerdik karena pembaca di sini memang perlu menyimak buku keduanya, Pengurus MOS Harus Mati, sehingga aroma bahaya semakin pekat tercium.

Kini Lexie Xu menggiring Markus dan Tony dalam petualangan berisiko tinggi. Di Pontianak, persisnya kawasan terpencil tanpa melupakan eksotisme setempat dan kuliner yang menggiurkan, ditambah bahasa daerah yang disematkan tanpa mengganggu atau membuat kerut kening. Sejumlah aksi yang mengasyikkan serta kejutan-kejutan menjadikan saya enggan memejamkan mata sebelum menamatkan baca. Di samping penggalian karakterisasi, dialognya pun semakin matang. Akan bertambah elok bila ‘hell’ dan ‘crap’ dikurangi sedikit.

Dari sini, saya bisa menyimpulkan, ada orang yang memang tidak ingin menyayangi sehingga tidak perlu disayangi. Ada orang yang salah kaprah meluapkan kasih sayangnya sehingga tidak berpikir jernih dan bertindak di luar batas. Ada orang yang tidak bisa melupakan kesumat begitu saja, kendati apa yang dialaminya tampak remeh dan mereka yang menjadi sasaran dendamnya sudah melanjutkan hidup.

Pesannya: orang yang kaukira teman dan kaukenal baik bisa saja berubah. Mungkin menjadi orang asing bagimu, mungkin juga ia memang menyimpan sesuatu yang tidak pernah kauketahui dan kausangka-sangka.

Endingnya jempolan, thriller tulen. Saya menanti buku terakhirnya.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s