The Palace of Illusions (Istana Khayalan)

gramediapustakautama.com

Penerjemah: Gita Yuliani K.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 496 halaman
Cetakan: I, Juli 2009

Apa yang jumlahnya lebih banyak daripada rumput?

Pikiran-pikiran yang timbul dalam benak manusia.

Siapa yang sesungguhnya kaya?

Orang yang menganggap sama baik hal yang menyenangkan

maupun tidak menyenangkan,

kekayaan dan kesengsaraan, masa lalu dan masa depan.

(hal. 309)

Siapa bilang perempuan adalah kaum lemah? Setidaknya cerita klasik pewayangan
menunjukkan kebalikannya. Dropadi, putri Prabu Dropada, yang terbakar amarah
karena sikap tak hirau ayahnya dan lahir dari api memperlihatkan kemampuan
menerima nasib sebagaimana disampaikan peramal sakti kepadanya. Dengan ambisi
mengukir sejarah tertanam dalam hati, adik Drestadyumna yang dikenal dengan nama
Panchali itu menjadi satu-satunya pelaku poliandri. Ia menjadi istri kelima
ksatria Pandawa, kendati hal tersebut bukan kehendaknya pribadi.

Melalui kacamata putri berkulit gelap namun memesona ini, Chitra Banerjee, yang
mengemuka dengan dwilogi ‘Sister of My Heart’ dan ‘Vine of Desire’ serta
‘Mistress of Spices’, menuturkan kisah Mahabharata sedari mula walau kemelut
keluarga Prabu Dropada menjadi titik tolaknya. Ihwal perseteruan sang prabu
dengan Drona, sahabat seperguruan yang murka karena ia ingkar janji usai
menduduki tahta. Dendam membatu di hati Dropada sehingga menghendaki putra yang
kelak menuntaskannya. Juga sesuatu yang terselip dari penelusuran kisah-kisah
versi lainnya: hasrat hati Panchali terhadap Karna. Hanya selubung kasta yang
menciptakan jurang ketidakmungkinan mereka bersatu. Bagi Dre, sang kakak, Karna
memperoleh kerajaan karena kemurahan hati Duryodana sahabatnya dan tetap tak
sederajat dengan adik semata wayangnya. Karena pahatan takdir pula, Panchali
malah mengucapkan perkataan menusuk yang menempatkan Karna sebagai musuh seumur
hidupnya.

Karena cinta yang terus menyubur dalam setiap detak jantung itulah, Panchali tak
kuasa mencintai kelima suaminya. Hatinya terbelah-belah senantiasa, terutama
mengetahui banyak pula wanita yang merindukan tampil istimewa di hadapan lelaki
gagah tersebut. Di lain pihak, Panchali harus bersaing kekuasaan dengan ibu
mertuanya, Ratu Kunti. Demi kepastian bahwa kedudukannya tak terkalahkan itulah,
Kunti menitahkan putra-putranya berbagi istri.

Bagi yang belum terbiasa dengan cerita wayang, Banerjee menyisipkan perangkat
bantu berupa silsilah keluarga di bagian muka. Beberapa nama agak terkesan
asing, seperti Madrim menjadi Madri, Abiyasa menjadi Byasa, dan Kresna menjadi
Krishna. Karakter yang disebut terakhir dibiarkan sebagaimana reputasinya,
titisan dewa yang penuh muslihat kendati nampak bijak dan kerap berada di sisi
Arjuna selaku sahabat. Krishna pembisik paling berpengaruh kala Arjuna
berhadapan dengan Karna dan membuatnya menyesal di kemudian hari.

Peperangan tak pernah melegakan dahaga akan dendam dan kepuasan batin. Selalu
ada korban, selalu ada nyawa terenggut percuma, selalu ada airmata yang tak
tertebus kepedihannya. Itulah pesan pokok yang dihidangkan novel ini. Panchali
bersumbangsih tak sedikit, melalui kutukannya, melalui peristiwa memalukan yang
dikemas seluwes mungkin oleh Banerjee sehingga pembaca tetap menikmati keindahan
cerita sekaligus memahami apa yang terjadi pada sang ratu.

Karakter Panchali ditampilkan sangat alamiah dengan segi kewanitaan dan
perangainya yang unik. Meski kerap menggelegak, ia tak kuasa menahan cemburu
kala Arjuna menganbil istri lain dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
Ia tidak mampu mengingkari kepedulian pada Karna. Ia tidak sanggup mengelak
atensi lembut Bima yang nyata-nyata paling mencintainya. Di samping itu, Gandari
yang mendampingi Destarastra dengan sumpah tak pernah menikmati keindahan
melalui indra penglihatan seperti sang suami pun dilukiskan sedikit lain dari
versi-versi yang telah lebih dulu ditebarkan. Meski beberapa bagian cerita
menyuarakan ketidaksukaan pada kondisi perempuan, novel ini sama sekali tidak
bernada menggugat ‘kesetaraan’. Ini terbukti dari penggalan berikut:

..Bagaimanapun, kau salah kalau menganggap kaum perempuan

sebagai makhluk yang tidak bersalah. »

..Aku mendengar suara-suara dan pikiran para perempuan, pahit

dan berselisih. Ada yang mengharapkan kematian dan penyakit

bagi saingan mereka,yang lain ingin mengendalikan rumah tangga mereka.

Ada yang memarahi anak-anak dengan kata-kata

yang meninggalkan luka di dalam hati mereka.

Ada yang memukul gadis pelayan atau mengusir mereka

tanpa uang sepeser pun ke dalam moncong dunia yang lapar.

Ada juga yang membisikkan ketidakpuasan mereka

ke dalam telinga suami mereka yang tengah tidur, sepanjang malam,

sehingga para laki-laki ketika bangun pagi, melaksanakan kemarahan

yang membusuk di dalam diri para istri mereka.

(hal. 103)

Banerjee menampakkan kepiawaiannya mengolah cerita berbau peperangan dan
kebajikan yang sarat renungan. Mengenai berbagai aji-aji, kutukan, sikap
ksatria, dan cinta pada keluarga. Kekhasannya tak terlupa, berganti sudut
pandang tanpa pemberitahuan, dan pemaparan yang divariasikan.
Ending novel ini lebih mudah diserap dibandingkan novel-novel terdahulu.

Anda penggemar kisah wayang? Maka The Palace of Illusions tidak boleh
dilewatkan.

[rating=5]

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s