Miskomunikasi

« Lebih baik langsung bicara dengan pengorder bersangkutan, daripada lewat saya, khawatir timbul miskomunikasi, » demikian kata seorang kolega ketika menyampaikan tawaran/kesempatan menjadi editor sebuah proyek buku.

Saya tersenyum saja. Wajar bila kolega yang sudah kami kenal lama ini tidak mau katempuhan kalau bertindak sebagai ‘perantara’. Ia sendiri tidak ingin menjembatani terlalu jauh, dalam arti mencampuri urusan kerja sama. Tapi menurut saya, miskomunikasi tidak dijamin bisa dihindarkan dengan bertemu langsung. Semua kembali pada rezeki dan iktikad baik kedua belah pihak untuk menjaga hubungan bisnis.

Suatu tahun, saya pergi ke luar kota pagi-pagi sekali karena sebuah perusahaan periklanan menginginkan tatap muka untuk membahas suatu pekerjaan. Saya bersedia datang disebabkan pihak mereka (dan produsen) sepakat menggunakan jasa kami. Detail-detailnya saja yang perlu dipercakapkan, termasuk segala berkas yang perlu ditandatangani. Sebenarnya firasat tidak enak sudah muncul karena mendadak pagi itu semua bus terlambat. Kalau boleh jujur, apa yang dibicarakan di kantor klien waktu itu bisa disampaikan melalui email dan/atau telepon. Pamungkasnya, proyek dijanjikan akan berjalan satu tahun berikut segala arahannya.

Bulan pertama, setelah revisi mondar-mandir dan dihubungi lewat email lebih dari tiga kali sehari, pembayaran masuk tepat waktu. Selanjutnya urusan menjadi lebih alot. Revisi lebih sering, dan tim penilainya terdiri dari lima orang. Bayangkan sukarnya mengikuti pendapat yang berbeda-beda. Saya setor, tunggu punya tunggu tidak ada kabar. Berhubung pekerjaan berikut harus dimulai segera, saya mengontak pihak periklanan.

Apa yang terjadi?

Semua konsep yang sudah disetujui dimentahkan, tulisan saya dinilai tidak bagus. Yang cukup menyakitkan, klien berkata, « Kami memakai jasa penulis lain (dan menyebut nama lengkapnya). Coba kalau Mbak seperti dia, datang-datang bawa sepuluh cerita dan semuanya kami suka. » Saya tidak menanggapi, hanya mencatat nama perusahaan tersebut dalam hati berikut produsen mitranya. Tentu saja kerja sama tidak dilanjutkan. Sudah banyak waktu terbuang dan saya memilih menggarap pekerjaan ‘utama’ saat itu, yakni menerjemahkan dan menyunting.

Pelajaran: jangan terpesona nama besar.

Di lain hari, saya kembali bertemu langsung dengan perwakilan suatu perusahaan penerbitan yang menawari proyek terjemahan. Kesan pertama baik-baik saja, proyek terbilang lancar kendati urusan administrasi agak macet dan harus beberapa kali diingatkan. Karena seringnya saya bertemu editor ini dan cukup banyak yang kami perbincangkan, harapan saya, setiap evaluasi akan ia sampaikan langsung. Jadi sekiranya ada kekurangan atau koreksi, saya bisa langsung memperbaikinya.

Pekerjaan tinggal satu tahap lagi (satu buku lagi), dan saya menerima email yang sepertinya salah kirim. Itu terlihat dari sapaan editor tersebut yang jelas-jelas bukan ditujukan kepada saya. Isinya penilaian negatif terhadap terjemahan saya beserta komentar tidak perlu terkait hal-hal pribadi yang tidak ada hubungannya dengan urusan profesional kami. Anda bisa bayangkan perasaan saya saat membacanya, sembari mengingat betapa manis dan ramah editor ini setiap kali kami bertemu.

Kritik tidak membangun seperti itu sebenarnya bukan hal luar biasa. Saat masih menggarap dokumen pun, saya pernah menghadapi klien yang berkelit bayar dengan alasan terjemahan saya kurang memuaskan tapi kemudian menghubungi beberapa kali lagi untuk memakai jasa saya. Tapi terus terang, peristiwa di atas cukup membuat saya tertegun karena salah menilai orang padahal sudah bertemu muka.

Bukunya sudah terbit. Tentu saja tanpa kabar kepada saya, apalagi complimentary copy. Saya merasa tak perlu mempromosikan. Mengenai insiden email, saya sudah mengambil tindakan yang perlu termasuk menghubungi pihak petinggi perusahaan demi menyelamatkan nama baik saya (siapa yang tahu email tersebut ditembuskan ke mana-mana?). Itu lebih penting. Ihwal kerja sama dengan editor itu, sudah barang tentu saya tak tertarik lagi. Sedikit pun.

Pelajarannya, dengarkan kata hati. Proyek bernilai besar dan menggiurkan tidak selalu membahagiakan.

Semoga pengalaman ini tak terulang, saya bisa lebih taktis dan hati-hati alias tidak mudah terpukau lagi, serta tidak menimpa siapa pun yang terjun di bidang ini. Rezeki sudah diatur, barangkali jatah saya adalah yang via komunikasi email saja.

Tulisan ini diposting tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih kepada beberapa klien yang memang bertemu muka dan bekerja sama dengan sangat baik lagi menyenangkan.

Publicités

2 thoughts on “Miskomunikasi

  1. Mungkin inilah pentingnya bahwa bekerja sama lebih baik dengan orang yang telah kita kenal, bukan yang telah mengenal kita. Bukan persoalan kita berburuk sangka kepada orang lain, melainkan persoalan kenyamanan bekerja dan jaminan « keselamatan » atas pekerjaan yang telah kita lakukan. Terlalu curiga memang tidak disarankan, tetapi sikap waspada yang introspektif, apalagi dengan pengalaman kita malang-melintang di dunia pekerjaan yang sudah cukup lama kita geluti ini setidaknya memberikan kita banyak pelajaran untuk mengenali ciri-ciri tertentu yang mungkin mencurigakan bagi « keselamatan » kerja kita.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s