Seni Berlibur Dua Freelancer

Lokasi: Pringsewu, Banyumas

Berapa lama Anda sanggup berlibur? Saya baru ‘sukses’ satu minggu, menjelang akhir tahun lalu ketika keliling Jawa Tengah naik motor. Liburan yang benar-benar dinikmati, tidak memikirkan pekerjaan. Ketika kakak saya menikah 3 tahun yang lalu, bisa dikatakan semi libur meski sempat dikontak editor mengenai terjemahan. Berhubung tambahan tugas dadakan itu relatif tidak banyak, dibantu adik yang terbirit-birit ke warnet, saya menyanggupi.

Seorang kolega editor berkata, ia tahan libur selama apa pun terutama jika anak-anaknya sedang libur sekolah. Saya tanya, « Kalau lagi ulangan, nggak perlu libur juga untuk mendampingi? » Beliau bilang, « Buat apa, wong anaknya juga di sekolah. »

Punya warung yang baru seumur jagung dan butuh pemantauan berkala menjadikan kami belum sempat berlibur jauh-jauh lagi. Kalau hendak bepergian agak lama pun (di dalam kota), kami harus mengatur kesepakatan dengan Dik Asisten yang kadang-kadang pulang kampung juga selain hari liburnya yang rutin. Syukurlah keluarga besar mengerti, mungkin karena adik kami pun pernah beternak ayam dan tidak bisa meninggalkannya lama-lama pada periode tertentu.

Bagi kami yang sama-sama freelancer ini, berlibur pun ada taktiknya. Persiapan dana khusus, itu sudah pasti. Kami bukan perencana yang baik, dalam arti saklek, namun berusaha (dan ini terilhami pasutri freelancer lain) agar sewaktu pulang, kantong tidak bolong apalagi minus. Saat berlibur, pengeluaran dikontrol sedemikian rupa supaya tidak jor-joran yang berujung gigit jari setiba di rumah. Ini hasil belajar dari pengalaman ke Malang suatu tahun, dalam kereta di perjalanan pulang hanya bisa nyengir-nyengir menahan lapar dan tidak berani membeli apa-apa selain nasi ayam di Rancaekek (yang isinya ternyata hanya tempe itu). Terus terang saja, ludesnya uang sehingga harus memutar otak untuk sehari-hari begitu tiba di rumah membuat badan lebih lelah dari semestinya. Plus bete. Masa’ habis liburan bete? Gagal dong.

Ada yang berkomentar, « Makanya, harus dicanangkan ‘celengan’ deadline supaya habis liburan tidak bengong. » Mengingat pemanasan untuk lanjut bekerja kerap kali makan waktu, saya tidak bisa menerapkan yang satu ini. Juga saran kerabat lain agar bepergian di tengah-tengah deadline. Wah, itu sangat berisiko. Saya lebih suka menyelesaikannya lebih awal, seperti tahun lalu itu, sehingga perjalanan benar-benar rileks.

Publicités

4 thoughts on “Seni Berlibur Dua Freelancer

    1. Hihihi, ini Renegade-nya nggak tahan lapar, Kang. Masih kebayang-bayang nih sop buntut Rajapolah yang enaaak banget itu:D

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s