Satu Atap Dua (Pekerja Buku) Freelance

Menurut banyak orang, termasuk saudara dan kerabat, saya beruntung karena memiliki pasangan hidup yang kurang-lebih satu profesi. Itu tidak saya ingkari. Mereka berpendapat, antara lain, setidaknya sama-sama menggemari buku menjadikan koleksi buku kami lebih banyak (baca: alasan membeli buku selalu ada).

Argumen tersebut tidak sepenuhnya betul. Selera baca kami yang berbeda memang membuka kesempatan untuk mempergemuk (atau meluapkan?) isi lemari buku. Tapi karakter Mas Agus bukan (book)shopaholic seperti saya. Membeli bohlam lima ribuan pun bisa dia coba satu-satu di supermarket. Kalau perlu batal beli, meski sudah jauh-jauh berkeliling. Apalagi buku yang, walau sudah menjadi semi bahan kebutuhan pokok buat kami, memerlukan waktu dan perhatian khusus.

Ini juga terkait karakter/gaya baca Mas Agus yang mulai menulari saya (setelah nyaris 11 tahun menikah, oh alangkah sulitnya melunturkan suatu kebiasaan). Ia mencermati kata demi kata, tidak biasa melompati bagian apalagi skimming kecuali sangat terpaksa. Mas Agus membaca demi rekreasi, tak masalah baginya membaca dua halaman sehari dan baru dilanjut lagi minggu depan. Maka cukup bisa dimaklumi jika ia selektif berbelanja, tidak impulsif apalagi mengikuti lapar mata. Ia bisa tenang-tenang saja di tengah kehebohan pembeli di ajang bursa diskon besar-besaran yang cukup kerap kami datangi. Di samping itu, kegemaran Mas Agus adalah buku-buku terbitan lama yang relatif sukar diperoleh kecuali di toko online atau buku-buku tebal (acap kali bertema rumit juga) yang otomatis tidak murah. Sependek ingatan saya, ia hanya pernah kalap membeli Sejarah Indonesia Modern dan Dari Puncak Bagdad yang kini sudah berpindah tangan ke putra asuh kami untuk kepentingan kuliah. Itu pun karena diskonnya lumayan di sebuah toko kecil yang sedang cuci gudang.

Pendapat lain mengisyaratkan saling pengertian ihwal bidang masing-masing. Ini pun perlu saya koreksi. Pasangan yang terjun di area nonbuku pun bisa mengerti, tergantung individunya saja. Saya kenal seorang penulis dan blogger yang aktif sekali. Suaminya sama sekali tidak bersentuhan dengan buku dalam konteks pekerjaan, ‘sekadar’ penikmat baca. Namun beliau sangat mendukung istri, tahu seluk-beluk kegiatannya, dan bahkan sering ikut repot dalam acara-acara yang diikutinya.

Ada lagi yang beropini, melakoni bidang sama ibarat mempunyai teman satu tim yang siap menggantikan kapan saja. Bak anak kembar, jika satu berhalangan mendadak, kesempatan bisa dioper ke saudaranya. Barangkali yang mengutarakan pendapat tersebut belum tahu bahwa dunia perbukuan sangat luas. Ada ilustrator, desainer cover, layouter, setter, distributor, dan banyak lagi. Bukan hanya penulis, penerjemah, penyunting, dan korektor. Tiap profesi itu sendiri mempunyai cabang-cabang yang lebih spesifik.

Tanpa bermaksud menyepelekan atau menyebut ‘sambilan’ apalagi ‘sampingan’, kegiatan Mas Agus tidak terbatas pada menulis (menjadi ghostwriter) dan menyunting. Ia menyukai aktivitas fisik seperti bertukang dan merintis usaha kecil. Pekerjaan ghostwriter dan editornya pun mayoritas berurusan dengan klien perorangan, mengandung plus-minus dalam banyak hal, karena itu pulalah ia tidak memiliki akun sosmed. Email pun harus saya buatkan lagi karena sudah dua kali dibekukan administrator lantaran lupa password dan bertahun-tahun tidak login/digunakan. Otomatis, modem lebih sering terpasang di laptop saya.

Mungkin karena tidak beredar di dunia maya itulah, proyek Mas Agus yang menyangkut penerbitan buku relatif sedikit dan frekuensinya pun tidak sering. Alhamdulillah, rata-rata proyeknya tidak bertenggat mepet.

Tanpa maksud menghitung ‘jasa’, sayalah yang lebih sering mengingatkan jadwalnya, kadang-kadang mengecek emailnya, atau memberi tahu ada SMS masuk ketika Mas Agus tidur (klien yang sudah kenal lama pun kerap lupa bahwa ia manusia malam yang sewaktu matahari terbit malah baru masuk selimut). Sudah barang tentu ia sendiri yang hafal tenggat dan keharusan revisi berikut persentasenya, maka saya tak ingin merepotkan dengan jadwal saya.

Kerap terjadi suasana menggelikan sewaktu Mas Agus membalas email editor, misalnya. Ia bertanya pada saya, sebaiknya kata-kata yang ditulis seperti apa. Haruskah sangat formal atau santai saja? Demikian pula SMS, mengingat Mas Agus lebih suka bertelepon daripada SMS kendati punya kebijakan yang sama dengan saya: tidak menjawab telepon dari nomor tak dikenal.

Sekitar 7-8 tahun silam, Mas Agus masih sempat membantu saya sedikit-sedikit. Di antaranya, mem-proof hasil terjemahan sebelum disetor ke klien. Sebaliknya, saya pernah menjadi penyambung lidah beberapa pekerjaan kepadanya (walau ada juga yang tidak berakhir mulus dan membuat saya tidak enak pada Mas Agus). Pendek kata, bukan kami tak ingin saling menolong lagi, hanya saja kesibukan masing-masing membuat kami lebih mudah mendukung secara moril dan menjadi pendengar yang baik satu sama lain.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s