Penerjemah Banting Setir Genre, Bagaimana Caranya?

Terkadang, kita menempuh spesialisasi secara tak sengaja. Katakan saja, terjerembap di area itu. Biasanya terjadi karena lulus tes menerjemahkan satu genre di sebuah penerbit (yang memang mengutamakan genre tersebut dan membutuhkan banyak penerjemah), lalu order-order selanjutnya masih bertopik sama. Sementara kemungkinan menerjemahkan genre lain relatif kecil lantaran penerbit bersangkutan belum meliriknya. Kalaupun ada, sudah pasti persaingannya lebih ketat.

Wajar saja jika setelah menerjemahkan novel-novel dewasa (bukan dewasa dalam arti yang satu itu), contohnya, seorang penerjemah ingin mengikuti ‘panggilan hati’ alias minatnya untuk menggarap fiksi remaja. Selain perkara animo yang acap kali berbanding lurus dengan performa, meski tidak selalu mutlak demikian, variasi kerja menumbuhkan semangat, menghindarkan kejemuan dan menambah pengalaman baru yang sudah pasti mengasyikkan. Sebutlah itu tantangan.

Lalu bagaimana dengan CV yang sudah telanjur bertabur novel dewasa tadi? Agar lebih meyakinkan, meski saya sudah menduga caranya, saya bertanya pada seorang kolega editor in house yang tidak ingin disebutkan identitasnya. Begini tanya-jawab kami.

Bisakah seorang editor mengendus gaya penerjemah bahwa ia lebih cocok menggarap tema spesifik?

Tergantung jam terbang editor itu sendiri. Rata-rata sih dilihat dari hasil tesnya.

Apakah bila seorang penerjemah melamar dan CV-nya didominasi buku tertentu, ia pasti diorder terjemahan genre yang sama (setelah lulus tes)?

Kemungkinan besar, ya.

Bagaimana caranya jika ingin merambah genre lain?

Pertama, di contoh terjemahan, lampirkan genre yang diinginkan tadi (Catatan: tak usah kecil hati hanya karena belum mengerjakan genre itu, simak pengalaman Lulu ini). Maksudnya kalau ingin garap fantasi, lampirkanlah fantasi. Namun saran saya, untuk order perdana, manut saja apa yang diberikan lalu kerjakan sebaik mungkin. Kemudian setelah kenal dan melakukan pendekatan personal, bisa menyampaikan pada editor bahwa dia ingin mencoba genre lain. Singgung sedikit-sedikit dan harus mau dites, sebab penanganannya pasti berbeda.

Kalau langsung tulis keinginan itu di surat lamaran, bagaimana?

Editor, yang kerjaannya segudang, pasti akan berpikir-pikir. Kecuali mereka memang sedang mencari penerjemah genre tersebut dan mempunyai waktu luang untuk memeriksa ini-itu.

Pendekatan personal itu rincinya seperti apa? Mengingat para editor sibuk, mungkin penerjemah juga agak segan ‘mengganggu’.

Berakrab-akrab di sini maksudnya pernah berkomunikasi. Bukan berarti penerjemah harus rajin mengajak ngobrol. Contohnya, pas menyerahkan pekerjaan, bilang, « Mbak/Mas, aku ada minat menerjemahkan buku remaja. Kira-kira ada peluang tes untuk itu, nggak? »

—–

Sekadar berbagi, saya meminta variasi genre baru sewaktu menyunting saja. Itu pun mengerjakan dua buku. Baca juga pengalaman Femmy Syahrani.

Terima kasih kepada narasumber yang rela saya tanya-tanya dan berbagi informasi ini. Semoga berfaedah:)

Publicités

16 thoughts on “Penerjemah Banting Setir Genre, Bagaimana Caranya?

  1. Baca ini serasa bercermin pengalaman sendiri. Dua kali coba banting setir dengan cara yang salah. Pertama2 lulus tes yang diadakan suatu penerbit yang ternyata mengkhususkan diri pada satu genre, sehingga setelah 3 kali menggarap buku yang mirip2 akhirnya bosan dan berusaha ‘memaksa’ redaksi lewat email untuk memberikan buku bergenre berbeda (kebetulan di penerbit ini penerjemah gak punya hak pilih :p). Berhasil juga sih akhirnya, tp jadi malu sendiri nginget cara maksanya hihi. Yg kedua waktu berusaha masuk lagi ke penerbit besar yg pernah ‘nendang’ saya karena terjemahan terlalu kaku *tersipu*. Maunya jd penerjemah chicklit tapi ngasih contohnya teenlit (karena gampang, dan waktu itu saya pikir keduanya sama saja), jd ya jelas dikasih order pertamanya teenlit. Saya terima ordernya (yg skrg sudah terbit) sambil mohon2 buku chicklit, tp katanya semua sudah dibagi ke penerjemah lain. Sampai sekarang saya belum dpt order lagi dr mereka. Gara2 terlalu ceriwis kali ya? *tepok2 mulut* :p

    1. Terima kasih sharing-nya, Mbak Linda.
      Pikir-pikir, benar kata editor in house di atas, tiap kali mencoba genre baru mungkin sebaiknya dites ulang. Aku merasakan sendiri, menakar kemampuan pribadi itu sulit:D. Dulu pas melamar, CV masih mencantumkan mayoritas buku klasik dan lampiran contohnya pun klasik, eh begitu dites klasik malah keteteran.
      Oh ya, menurutku menerjemahkan teenlit seru, asyik sekaligus menantang (baca: lumayan susah:D) *lirik Nadiah Alwi*. Pengen juga sekali-sekali ketemu chicklit, tapi mau belajar dulu dari buku yang ada:)

  2. Pernah setelah hubungan dengan penerbit sudah lumayan santai (mereka order via sms), saya balas dengan ‘Kalau ada genre lain saya juga mau lho, Mbak… » hehe.. tapi kata mereka kebanyakan memang yang seperti yang saya kerjakan (romance). Mau lebih mendesak lagi nggak enak 😀

    Aku mau coba kirim lagi dengan contoh terjemahan genre yang kumau ah… Makasih Mbak Rini sudah ‘meriset’ tentang bahasan ini 😀

    1. Sama-sama, Tika. Semoga berhasil:) Sudah santai sekali ya kalau lewat SMS. Kadang-kadang ada penerbit yang langsung kirim saja tanpa pemberitahuan, tapi alhamdulillah aku tak pernah mengalaminya:D
      Oh ya, insya Allah akan ada lanjutan bahasan ini. Mudah-mudahan tidak lupa, hehehe.

      1. kalo yang kirim langsung begitu apa sudah ada kontrak untuk menerjemahkan beberapa buku gitu ya Mbak?

        *menunggu artikel lanjutannya mode on*

      2. Nggak, Tika. Belum pernah kudengar sistem kontrak eksklusif:) Tapi kalau penerjemahnya sudah langganan dan jadi andalan (dan ini juga kasus yang relatif langka), bisa dikirimi berturut-turut sampai tertimbun antrean untuk beberapa bulan ke depan.

      1. Jadi harus cermat ya Selvy, siapa tahu mendadak penerbitnya banting setir juga, hihihi.

  3. *jleb*

    aku pas pertama ditawarin nerjemahin malah nolak gara2 ga mau nerjemahin genre itu. Harusnya mau aja yah, Teh? 😥

    Tapi waktu itu aku pribadi sih gini mikirnya:

    Kalo ngerasa ga sreg ama yang ditawarin (apalagi belum pernah baca satu pun), mending ga usah aja. Karena kan kalo nanti hasilnya ga memuaskan kasihan bukunya…

    Sebenernya sih aku ga pemilih, hanya memang mikir ulang aja. Yah karena aku takut hasilnya ga memuaskan. Dan kemarin pas ditawarkan menerjemahkan karya sastrawan dunia, aku menolak lagi. *kebanyakan nolak* 😦 Alasannya tetap sama… 😀

    *mery yang labil*

    1. Itu pilihan, Mery. Semua punya alasan dan tidak bisa dipaksakan. Hanya idealnya, tawaran pertama tidak ditolak karena menurutku, semua genre bisa dijadikan bahan belajar:)
      Aku sendiri pernah menolak, ya konsekuensinya ada yang tidak menghubungi lagi. Masalah rezeki juga mungkin:)

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s