Kembali Menjadi Freelancer

Sejak masih kuliah, saya sudah yakin bahwa status yang paling cocok untuk saya adalah freelancer. Sedari tahun-tahun terakhir SMA, saya meraba-raba bidang pekerjaan guna ditekuni serius (kalau tak hendak disebut ‘kutu loncat’) termasuk terjemahan bahan kuliah. Waktu itu belum terpikir oleh saya menerjuninya secara penuh. Menulis, apalagi menerbitkan buku, pun jauh dari bayangan. Ketika kuliah mulai longgar, saya memilih mengajar privat bahasa Prancis tanpa naungan lembaga apa pun.

Dalam tersendatnya skripsi, sekitar tahun 2000, saya memutuskan untuk bekerja kantoran. Pertimbangannya selain keharusan mandiri (meringankan beban orangtua yang masih harus membiayai kuliah adik), saya menjajal hobi baru di bidang IT kendati masih berbau tulis-menulis yakni copywriting. Menjadi karyawan merupakan penyegaran tersendiri kala diterpa kejenuhan berskripsi-ria, yang makin semarak setelah saya berumah tangga. Tetapi ketika persiapan sidang menuntut perhatian lebih, saya mengundurkan diri. Atasan mengatakan, saya boleh kembali kapan saja, namun dalam hati saya tahu itu tidak akan terjadi.

Nekat, memang. Pada hari wisuda (meski kelulusan yang valid menurut saya adalah seusai sidang akhir), saya tidak mengantungi ‘pegangan’ apa pun. Semua proyek freelance dilepaskan, baik menulis maupun menerjemahkan dokumen, demi kepentingan studi. Tahun 2002 saya mulai dari nol lagi ketimbang menghubungi relasi-relasi yang pernah bekerja sama. Toh keadaan pun sudah banyak berubah.

Saya menerjemahkan lagi (belum ada kesempatan untuk proyek buku waktu itu), merambah materi kuliah dan makalah seperti dulu, namun dengan klien berbeda dan lebih beragam. Mulai dari mahasiswa sampai orang kantoran yang sibuk, menuntut saya berkomunikasi interpersonal cukup sering. Tantangan yang tidak mudah mengingat pribadi saya yang relatif introvert. Saya bertemu topik-topik yang menarik minat, seperti psikologi dan manajemen SDM (dulu sempat berniat melanjutkan kuliah jurusan ini) sembari mengembangkan hobi utak-atik komputer dan menjadi ghostwriter.

Pada hakikatnya, pengalaman ngantor yang sebentar itu menjadi bekal berharga bagi saya. Sedikitnya, saya paham seluk-beluk prosedur dan memperoleh ilmu berjejaring. Postingan ini ditulis karena kenangan tersebut berkelebat ketika saya sekali-sekali menerima tawaran menggarap terjemahan IT dan kegiatan lain di luar buku. Ibarat menyeberang jalan, butuh ancang-ancang dan tengok kanan-kiri, namun tetap menyenangkan karena dinamismenya. Sudah barang tentu, skala prioritas tetap berlaku.

 

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s