[Arsip] Ulasan Gadis Berbunga Kamelia

Ulasan ini memenangi Lomba Resensi Bentang tahun 2009. Kini buku tersebut diterbitkan ulang dengan judul Lady of Camellias.

[Ulasan Novel Klasik Terjemahan] Gadis Berbunga Kamelia

Judul asli: The Lady of Camellias

Penulis: Alexandre Dumas, Jr

Penerjemah: Rika Iffati

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: vi + 320 halaman

Cetakan: I, Januari 2009

Beli di: Togamas, Bandung

Harga: Rp 42.000,00 (diskon 20%)

Skor: 8

Kepada Monsieur Armand Duval yang dirundung asmara,

membaca kisahmu – yang dipaparkan oleh seorang pengunjung pelelangan
dan terkoneksi denganmu melalui sebuah buku yang kau coba tebus
kembali – sungguh membutuhkan kesabaran. Setelah diayun-ayun oleh plot
perlahan di awal, sarat dialog dan renungan dua orang lelaki dengan
impresi khusus mereka, mondar-mandir ke teks asli dalam bahasa Prancis
dan Inggris pula, aku mencoba membayangkan bahwa Marguerite Gautier
seelok rupawan yang dilukiskan di sampul depan. Karena dari sekian
banyak wanita seperti dia, Mademoiselle Gautier dapat membetot
kegandrunganmu dalam sekejap mata. Bahkan para pria bangga bila
diketahui orang menjalin ‘hubungan’ dengan dirinya. Mungkin begitulah
adanya sebuah roman klasik, dengan kalimat serba panjang dan memintaku
mengendap-endap, bukan sekadar berjalan apa lagi berlari.

Monsieur, seorang lelaki pernah mengatakan padaku bahwa pria memiliki
sembilan rasio dan satu emosi. Namun bila yang satu itu terpanah
dalam, sembilan lainnya tak berdaya lagi. Agaknya itu benar-benar
terjadi pada dirimu. Mengapa begitu banyak airmata yang kautumpahkan?
Mengapa begitu mudah kau menangis? Di depan orang asing, di depan
wanita yang melemahkan hatimu dan bahkan ingin kaucium kakinya, di
depan ayahmu pula. Aku berusaha keras untuk percaya bahwa ada orang
yang kerasukan amor hingga separah kondisimu.

Kita mengasihani orang buta yang tak pernah melihat cahaya siang,
orang tuli yang tak pernah mendengar irama alam, orang bisu yang tak
pernah menemukan suara untuk mengungkapkan jiwanya. Namun, dengan
selubung kesusilaan yang tampak bagus, kita tak mau mengasihani
kebutaan hati, ketulian jiwa, dan kebisuan nurani ini..(hal. 26)

Berkat dirimu, aku mau tak mau mengagumi karakter Marguerite pada
beberapa sisi. Walau kesal menyimak ia berulang kali menanyakan,
« Apakah kau masih mencintaiku? », aku terperangah oleh kejujurannya
kala mengatakan dia menerima cintamu – orang yang baru dikenalnya
selama dua hari dan bahkan tidak memiliki kelebihan apa pun dibanding
pria-pria yang memburunya selama ini – karena tatapan sedih penuh iba
yang mengingatkannya pada anjingnya dulu (hal. 179). Tidak punya harga
dirikah kau, Monsieur? Ke manakah gadis yang di permulaan cerita
sempat disebut, saat kau begitu berhasrat untuk menghampiri Marguerite
dan berkenalan dengannya? Tak ayal, aku bertanya-tanya apakah Marie
Duplessis, wanita penghibur yang menjadi sumber inspirasi Monsieur
Dumas, fils memang berkepribadian seperti ini.

Syukurlah, alunan lambat plot yang membuat mataku harus diganjal dan
pikiran tidak mengelana itu tak berlanjut. Ketika kau menggenggam
Marguerite pada akhirnya, menyingkirkan Comte de N. dan bergerilya
dari pengawasan sang Duke yang sedari awal menempatkan kekasihmu
selaku pengganti anak perempuannya, kau disentakkan pada kenyataan
bahwa cinta dapat berubah wajah. Cinta penuh dengan muslihat, yang
bahkan sejak mula telah menggodamu dengan kecemburuan sungguhpun kau
tahu jati diri Marguerite dan bahwa ia berhak sepenuh-penuhnya untuk
berbagi ‘kasih sayang’ dengan siapa saja.

Monsieur, mabuk kepayang ternyata menyeret dua manusia pada harga diri
yang lama tak terindahkan. Akan wibawamu sebagai lelaki yang ingin
menyesuaikan diri dengan kehidupan si jantung hati, akan ketakutan
wajar seorang perempuan karena Marguerite tak ingin kelak masa lalu
kelamnya menjadi duri, akan pernyataan tegas Prudence Duvernoy bahwa
cinta telah mengaburkan sebuah masa depan dan menjadi pisau bermata
dua.

Aku ikut sakit hati kemudian, aku menaruh hormat pada prinsip kalian
berdua, aku menekuri sebuah cermin besar bahwa cinta itu egois dan
mengobrak-abrik akal sehat. Walau toh akhirnya tidak terlampau
mengejutkan, alangkah banyak yang kureguk dari membaca kisahmu ini.
Perihal penyesalan dan kendali emosi. Kendati aku masih terheran-heran
karena pekerjaanmu tak pernah disinggung, karena begitu mudah kau
kembali ke rumah ayahmu untuk jangka waktu lama dan menikmati hidup
dengan uang warisan ibumu, tuturan Monsieur Dumas yang merekam episode
cintamu – dan telah menjadi landasan opera Giuseppe Verdi -ini tak
patut dipandang sebelah mata. Une histoire magnifique.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s