Demon Seed

Penulis: Dean Koontz
Penerbit: Berkley, 1997
Tebal: 302 halaman

Jangan percayakan keselamatanmu pada mesin, karena suatu saat ia dapat
membahayakanmu. Itulah yang disampaikan Dean Koontz melalui karyanya
yang telah diangkat ke layar perak ini.

Meskipun pernah dilecehkan sewaktu kanak-kanak oleh ayahnya, Susan
menamai otak komputer yang menggerakkan semua fasilitas di rumahnya
‘Alfred’ sesuai nama depan sang ayah. Ini menunjukkan bahwa Susan
telah menerima kenyataan dan berdamai dengan masa lalunya yang pahit,
kendati untuk itu ia bahkan merusak mobil mahal kesayangan mendiang
Alfred hingga tak lebih berharga dari rongsokan.

Alfred elektronik alias Adam Two, juga menyebut dirinya Proteus,
adalah hasil kreasi Alex Harris, mantan suami Susan. Ia menganggap
dirinya mencintai sang majikan, dapat melindunginya dan tidak
menyiksanya seperti Alfred dan Alex. Susan keliru menyerahkan
keamanannya pada Adam Two, yang diam-diam memantaunya kemudian
memalsukan suaranya untuk memberhentikan semua pekerja di rumah dan
menjalankan sebuah rencana mengerikan.

Susan dipersiapkan untuk menjadi Madonna, ibu Messiah baru yang
diyakini Proteus sebagai manusia super. Guna mensukseskan misi itu, ia
memasukkan seorang kaki tangan ke dalam rumah wanita pujaannya. Enos
Schenk, mantan narapidana sekaligus buronan sadis yang pernah
memperkosa empat orang gadis cilik kemudian membunuhnya. Proteus
memerlukan tangannya dan mengontrol si lelaki sedemikian rupa meski ia
merasa khawatir Enos akan menyentuh Susan melebihi tugasnya.

Dean Koontz berhasil melibatkan emosi saya pada karakter Susan, yang
dalam ketakutan terus membenci Proteus karena membelenggunya atas nama
cinta. Seluruh cerita didominasi Proteus hingga berjalan datar. Poin
paling memikat justru cara Susan menanggulangi trauma masa kecilnya
dengan menciptakan terapi psikologi virtual.

Bila novel ini diterjemahkan, besar kemungkinan juru bahasanya akan
bosan. Banyak yang saya lompati karena terlalu bikin bergidik, apalagi
jika Enos beraksi. Di lain pihak, Proteus unjuk gigi sebagai mesin tak
berperasaan yang biar bagaimana pun tak dapat disandingkan dengan
manusia sebagai makhluk paling sempurna.

Agaknya saya akan lebih menikmati cerita Demon Seed jika membaca versi
aslinya, yang menghadirkan sudut pandang Susan, bukan versi baru ini.
Skor: 2,5/5

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s