Rumah Lebah, Rahasia di balik Wajah-wajah Asing

Penulis: Ruwi Meita

Penerbit: Gagas Media

Tahun: 2008

Tebal: x + 286 halaman

ISBN:  979-780-228-0

Nawai tak mengerti. Mala, putri semata wayangnya, selalu menyebut-nyebut nama asing. Ada enam sosok yang menurutnya dekat dengan keseharian mereka: Ana yang seksi, Wilis si bocah hijau, Satira yang keras dan pemarah, si kembar yang jarang menampakkan diri, dan Abuela yang mengajarinya bahasa Spanyol. Mala memang anak jenius dan tidak mampu berekspresi. Kesulitannya bersosialisasi menghambatnya berkembang di sekolah sehingga Nawai membawanya pindah ke desa yang tenang dan mengajarinya sendiri di rumah. Untuk itu, ia harus berjuang melawan penyakitnya yang sewaktu-waktu membuatnya sangat mengantuk dan sesekali berperang pendapat dengan suaminya, Winaya, yang tidak percaya pada hantu.

Salah satu novel Winaya, Venus Nymphomania, meledak di pasaran dan diangkat ke layar perak. Pemeran utama yang ditunjuk adalah Alegra Kahlo, artis peranakan Argentina nan cantik yang merupakan tetangga Winaya dan Nawai di desa. Sebenarnya Alegra lebih menyukai kota besar yang bising dan tidak begitu mengenal tetangga, namun akhirnya mereka harus berinteraksi juga. Gadis itu menempati villa bersama kekasihnya, Rayhan, seorang pengusaha yang ditengarai memiliki bisnis haram. Alegra menyimpan konflik sendiri: diperas oleh seorang wartawan koran gosip sebab kepergok mengidap bulimia untuk menjaga kemolekannya. Ia tidak ingin nama besarnya rusak, sekaligus tak mau didepak Rayhan yang mendewakan kesempurnaan.

Ketenangan desa itu porak-poranda saat si wartawan ditemukan tewas di sebuah danau. Sementara itu, sakitnya Nawai semakin parah. Ia lebih sering pingsan dan dikejutkan oleh temuan-temuan berupa sosok aneh di berbagai tempat, termasuk studio tempatnya melukis.

Dari segi karakterisasi, penulis menggarap novel perdananya ini [setelah sebelumnya menulis novel adaptasi film-film horor] dengan cermat. Benang merah terjaga apik dan masing-masing mempunyai sisi personal yang menarik. Rayhan yang suka mengendus bubuk putih di ruang penyembuh, wanita misterius yang menyerupai Alegra namun mengenakan cincin kawin, Mala yang berbicara runut bak orang dewasa dan menuturkan isi setiap halaman ensiklopedia dengan lancar bagaikan rekaman saja, serta Nawai yang terus-menerus cemas. Bahasa yang digunakan terbilang rapi, meski terdapat sejumlah kalimat yang mestinya bisa diringkas. Misalnya Sebenarnya dia bisa saja datang ke vila itu namun dia harus bertindak hati-hati. Jika perempuan itu tidak datang malam ini, maka terpaksa esok dia akan mendatanginya. Bukannya Kartika ingin melindungi nama baik artis itu. Namun jika kasus ini ada hubungannya dengan Rayhan maka Kartika harus bertindak dengan cermat [hal. 189] memuat terlalu banyak informasi sehingga pembaca tidak dibiarkan asyik menerka-nerka apa yang terjadi. Kemungkinan besar penulis ingin merengkuh pembaca dari berbagai kalangan, termasuk mereka yang tidak meminati psikologi, sehingga dapat menikmati cerita yang mengangkat karakter anak autis ini tanpa kesulitan.

Tak pelak, novel yang menganalogikan rumah lebah sekaligus menjadikannya sudut untuk meruapkan nuansa thriller ini mengandung banyak daya pikat. Mengenai hypocondria, misalnya, yang agak mirip dengan psikosomatik. Setting yang tidak biasa, kombinasi aneka persoalan yang menggiring pada terungkapnya sebuah rahasia, kebiasaan seorang penulis dan inspirasinya, bahkan dialog datar Mala dengan Alegra yang mencoba akrab dengannya. Pertengahan novel menggiring saya meluncur terus karena penasaran ingin membuktikan tebakan perihal sosok-sosok yang menghantui keluarga Nawai. Walaupun ternyata dugaan saya benar, nilai istimewa Rumah Lebah tidak berkurang sebab penguraiannya tidak menukik dari alur thriller yang kontinyu. Jawaban semua pertanyaan itu tersirat di sana-sini, juga mengenai pembunuh si wartawan yang naas, asalkan kita jeli membaca dari awal. Kata kuncinya terdapat, antara lain, pada profil singkat penulis ‘Rumah Lebah adalah novel mandiri perdana Ruwi dengan nuansa thriller meski kali ini dia mencoba tidak menghadirkan hantu-hantu’.

Aspek yang membingungkan secara fisik adalah sub judul novel ini. Di kulit luar tertulis Rahasia di Balik Wajah-wajah Asing, sedangkan di bagian dalam tercantum Rahasia di Balik Sebuah Kepolosan. Tetapi bila Ruwi Meita ingin menggugah imajinasi pembaca melalui karyanya satu ini, ia berhasil. Kala membacanya di malam hari sendirian, lebah-lebah di samping rumah saya keluar dari sarangnya dan berdengung sampai pagi. Apakah mereka merasa ‘dipanggil’? Silakan nikmati Rumah Lebah dengan sensasi yang berbeda.

Skor: 3,5/5

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s