Fearless (2006)

One cannot choose how one’s life begins, but one can choose to face the end with courage.

Huo Yuanjia semasa kecil sangat badung. Ia diam-diam membangkang larangan ayahnya untuk tidak berlatih wushu dan mengabaikan pelajaran. Sahabatnya, Nong Jiansu-lah yang ketiban pulung mengerjakan tugas kaligrafi dan menyalin kitab wushu yang diambil Yuanjia dari ruang belajar sang ayah.

Apa yang dimulai secara kurang baik ternyata menumbuhkan ketidakbaikan kelak. Setelah dewasa, Yuanjia memang menjadi pendekar wushu yang piawai. Namanya tersohor, namun ia mengabaikan kepentingan keluarga, terutama Jade, putri satu-satunya sepeninggal almarhumah istri. Yuanjia terus menyatakan pada sang ibu bahwa ia ingin mengharumkan reputasi keluarga dengan selalu menang di setiap pertarungan, termasuk dengan musuh yang mengejeknya sewaktu kecil.

Kemenangan demi kemenangan membuat Yuanjia mabuk dan takabur. Peringatan sahabatnya, Jiansu, dikesampingkan. Muncullah kemenarikan penampilan Jet Li yang relatif jarang memerankan antagonis namun terasa sangat manusiawi. Baru kali ini saya menonton cerita pendekar yang juga harus memikirkan perekonomian keluarga, sehingga tersadar akan keingintahuan zaman kanak-kanak, « Iya ya, pendekar itu dapat uangnya dari mana? »

Puncaknya, Yuanjia tersengat mendengar masih ada yang mengunggulinya, yakni Master Chin. Ia menantang Master Chin bertarung. Kali ini hasilnya di luar dugaan.

Yuanjia pergi ke suatu tempat yang jauh, dirawat oleh kakak-beradik yang menemukannya dalam keadaan cedera. Di sana, bersama nenek Sun, ia belajar banyak hal. Moon yang buta namun tetap menjalani hidup dengan sabar, Gui si bocah yang menangisi kematian kerbau tuanya, serta berbagai wejangan dan cara hidup warga yang amat berbeda. Perlahan-lahan Yuanjia bisa menerima kenyataan dan kembali ke Tianjia.

Sesampai di sana, kondisi sudah berubah drastis. Perang pecah dan Cina dijajah. Yuanjia memang bukan pendekar sombong yang dulu. Pertemuannya dengan orang-orang masa lalu, termasuk yang pernah disakitinya, sungguh mengobrak-abrik emosi saya. Salah satu adegan favorit saya: ketika Yuanjia diundang minum teh oleh calon lawan tandingnya, Tanaka dari Jepang. Yuanjia bahkan enggan menghakimi teh. Saat ditanya untuk apa ada pertandingan, bila memang gaya tiap orang unik dan tidak bisa saling menyaingi, ia menjawab, « Pertandingan itu untuk mengukur kelemahan, sebab kemampuan setiap orang beda tingkatannya. »

If there’s no regrets, one can die peacefully. Kira-kira begitu salah satu wejangan Nenek Sun yang melekat di benak saya.

Fearless adalah salah satu film terbaik Jet Li, bukan sekadar unjuk otot dan baku hantam. Indahnya gerakan wushu, indahnya tiupan flute, indahnya pesan-pesan dan falsafah yang terkandung, analogi hidup saling menghormati dengan benih padi yang tidak boleh ditanam terlalu rapat, benar-benar menawan.

Skor: 5/5

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s