Stay Cool (2011)

Sumber poster: flixster

Tidak semua orang menyukai reuni, terutama bagi yang memiliki kenangan tidak menyenangkan seputar sekolah. Atau tepatnya, masa SMA. Henry McCarthy (Mark Polish) harus kembali ke kota kelahirannya dengan label baru, penulis bestseller, sebagai alumnus yang berpidato pada hari kelulusan di SMA tempatnya menimba ilmu dulu. Bahkan salah satu sobat karib Henry, Big Girl (Sean Astin) tidak mau masuk ke sana dan khawatir tak bisa keluar lagi hidup-hidup.

Yang berubah hanya satu: seorang siswi kelas teratas yang cantik, Shasta (Hillary Duff) langsung menaruh perhatian pada Henry. Selain sudut pandang pria yang rasanya baru diangkat setelah sekian banyak film bertema serupa, Stay Cool menyatakan bahwa yang dicap kutu buku dan ‘aneh’ alias tidak pandai bergaul, anak pintar yang pemalu, tidak mesti berpenampilan konyol. Atau tepatnya, Henry bisa berubah secara fisik kendati sedari dulu ia menyandang cap ‘cowok manis’.

[spoiler] Ternyata ibu Shasta adalah teman SMA Henry juga, dan saya tergelak-gelak melihat tingkah ayahnya [/spoiler]

Menjenguk masa lalu bagi Henry berarti datang ke rumahnya yang sudah 20 tahun ditinggalkan dan tetap diperlakukan seperti anak kecil oleh kedua orangtuanya. Saya tersenyum-senyum kala sang ayah memarahi Henry dan mengancamnya memotong uang saku. Ketika Henry mengingatkan bahwa ia sudah lama tidak menerima uang saku lagi, ayahnya menjawab, « Dari warisanmu, kalau begitu. »

Masa remaja yang antara lain terwakili buku tahunan sekolah pun mengingatkan Henry pada Scarlet Smith (Winona Ryder), gadis yang disukainya, dan menandatangani buku tersebut. Di sana Scarlet meminta Henry menelepon saat musim panas. Saat berjumpa kembali dan wanita itu masih cantik, juga masih ditempel ketat pacarnya yang sangar, Brad Nelson (Mark Blucas), memori lama Henry tak urung mencuat lagi. Toh ia menuliskannya pula di buku yang laris tersebut, How Lionel Got Me Laid.

Serba-serbi urusan penulis tak ketinggalan ditampilkan dalam film ini. Di antaranya, Henry kesulitan menulis pidato yang menginspirasi para siswa sekolahnya nanti. Sementara itu, beberapa orang baru berkesempatan membaca buku Henry karena selama ini tidak tahu ia menjadi penulis.

Pesan moral: menulis kisah nyata dengan nama samaran sekalipun tetap berisiko merenggangkan persahabatan.

Apakah masa lalu yang tidak menyenangkan, kegagalan konyol, harus dikenang, dikoreksi atau dilupakan? Demikianlah tema besar film ini. Menghibur dan relatif tidak biasa, termasuk ending-nya.

Skor: 3,5/5

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s