Bicara Usulan Buku dengan Editor In House

Alkisah, beberapa tahun ke belakang sebuah penerbit cukup terkemuka membuka kesempatan untuk usulan-usulan buku terjemahan dari pembaca melalui e-mail. Saat itu pembaca yang hendak memberi usul diberi semacam file berformat dengan poin-poin usulan, hampir mirip tugas pre-publishing review yang pernah saya jalani.

Sekarang, kesempatan untuk itu lebih besar lagi. Saya mendengar cerita seorang kolega, ada penerbit yang benar-benar memperhatikan permintaan pembaca setianya yang dihimpun dalam satu forum. Mungkin itu salah satu forum teramai terkait komunikasi penerbit dengan konsumen, sependek pengamatan saya. Jika permintaan judul-judul tersebut dipenuhi, terlebih pengusulnya banyak, wajar saja karena penerbit tidak perlu lagi riset pasar (KSBS = Koreksi Saya Bila Salah) dan sudah ada proyeksi pembaca yang lebih jelas. Pembaca dalam arti pembeli, tentunya.

Sekitar akhir tahun silam, saya mengajukan sebuah novel thriller ke sebuah penerbit besar. Satu lininya menginformasikan, sedang berkiblat ke genre lain dan menghentikan produksi thriller sementara. Pahit memang, tapi saya maklum. Ternyata novel itu tengah dipelajari di lini lain dan divonis negatif juga. Pasalnya, dianggap mendukung (bahasa kerennya ‘mempromosikan’) perselingkuhan.

Perselingkuhan itu nyata, fakta, bukan hal aneh, mungkin begitu kata Anda. Tapi saya tidak menyalahkan pendirian penerbit tersebut. Meminjam kacamata mereka, okelah perselingkuhan bukan barang ‘asing’ lagi. Namun bila ada buku yang lebih baik, lebih mendorong hal-hal yang positif, mengapa harus ‘bertaruh’ dengan menentang prinsip subjektivitas (maaf, saya sedang bosan istilah ‘selera’) mereka? Kontroversi memang menjual, tapi tidak selalu menjadi pilihan wajib.

Kemudian saya dengar, satu penerbit lain yang ‘kebetulan’ saya kenal editornya juga meminati buku tersebut. Apa daya, keputusan akhirnya ‘tolak’ dengan alasan terlalu berat untuk konsumen Indonesia. Alasan itulah yang mengantar saya memberanikan diri memperbincangkannya dengan editor lain, di penerbit lain. Bisa dikatakan, inilah pilihan terakhir saya. Entah kenapa saya ngotot. Mungkin penasaran belaka, meski tahu thriller di Indonesia pasarnya seret:p

Editor ini berkata, mereka sedang selektif sekali. Lagi-lagi, lumrah. Dari obrolan kami yang singkat tapi padat itulah, saya meraup pengetahuan baru. Yang pertama, buku yang difilmkan tidak menjamin booming. Momentum kadang memberi kejutan, ketika dua buku lain genre sama-sama diangkat ke layar lebar lalu filmnya sama-sama diputar di Indonesia. Buku dengan genre yang lebih ‘mewabah’ bisa menelan buku kedua itu.

Pengetahuan kedua cukup membuat saya tersadar. Kata sang editor,

Ceritanya betulan bagus, Mbak? Pembaca kita sih kebanyakan ingin pengarang yang terkenal, apalagi genrenya tidak populer.

Saya terdiam dan Mas Agus bilang, « Iya juga sih. Kalau pengarangnya ‘sudah kenal’, cerita mengecewakan juga ditelan aja. »

Oh begitu.

 

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s