Nikmatnya Membaca Perlahan

Dulu, saya sangat ambisius. Tiada hari tanpa memperbarui entri buku yang saya peroleh, baik sebagai hadiah maupun beli sendiri. Angkanya makin menggelembung, tak perlu saya sebut rinci. Demikian pula jurang lebar antara yang sudah dibaca dan yang terus menyesaki lemari.

Tapi seseorang harus tahu kapan saatnya berhenti.

Waktu saya, waktu semua orang, takkan pernah lebih dari 24 jam. Tak ada gunanya mengeluh kekurangan, karena saya bayangkan jika ditambah satu jam pun (dalam khayalan tentu) tetap terasa kurang. Saya harus membenahi prioritas, terutama untuk orang-orang tercinta yang membutuhkan perhatian sebagaimana mestinya.

Lalu ketika berbenah dan mengeluarkan beberapa buku dari rak untuk dijadikan rujukan bekerja, rupanya ada yang halamannya lengket satu sama lain karena lama tak dibuka. Duh, sedihnya.

Kesadaran itu kian tumbuh setelah saya menutup akun sebuah jejaring sosial kepembacaan tiga bulan yang lalu. Ketika tak mungkin menambah lagi, bagi saya itu berarti harus ada yang dipangkas. Rasa sayang, berat, karena sudah lama, karena sudah begini-begitu, selama ini hanya pembenaran sendiri yang memperparah kebiasaan kurang baik saya.

Tisera, Jatos
Diskonan Tisera Jatos

Saya masih tergiur info-info buku baru yang mengalir dari sumber lain, namun sudah berkurang kadarnya. Saya melepaskan diri dari target tahunan, bulanan, bahkan sudah berhenti memposting bacaan bulanan. Itu membuat saya lebih tenang dan nyaman. Jauhnya lokasi toko buku, kerepotan tingkat tertentu untuk belanja online, serta pengertian beberapa orang yang sangat berharga mengangkat ‘beban’ dari pundak saya. Jangan salah paham, saya masih gemar baca dan butuh buku. Pergi ke toko buku masih menyenangkan, belanja buku walau tak sekerap dulu pun tetap mengasyikkan, hanya kini lebih terarah. Dulu saya pakai dalih ‘siapa yang tahu kapan kamu butuh buku itu, jadi tumpuk saja dulu’, sekarang kami saling mengingatkan untuk membeli yang memang diperlukan. Contohnya, sebisa mungkin menambah koleksi kamus. Ini salah satu dampak positif yang langsung terasa, jauh lebih mudah menegur diri, « Hei, masih banyak yang belum dibaca di rumah, mau ditaruh di mana lagi? » ketimbang dulu.

Sekarang saya tahu arti membaca untuk bersenang-senang, membaca yang sungguh-sungguh di luar bahan tugas. Tidak terburu-buru mematok sekian halaman per hari, sebab itu tindakan yang lebih sesuai dilakukan ketika bekerja. Lain tidak. Apa yang saya baca relatif lebih meresap, karena tidak merasa dikejar-kejar atau ‘kesetanan’.

Sebut saya malas, beralasan klise, ketinggalan zaman lantaran belum membaca buku-buku baru yang naik daun/ngetren, namun jika timbunan buku saya bisa dikategorikan ‘dosa’, kini sudah waktunya ‘bertobat’. Walau perlahan-lahan.

Keterangan: foto di atas diambil di salah satu sudut Periplus Bandung, bukan isi lemari saya.

Publicités

2 thoughts on “Nikmatnya Membaca Perlahan

  1. Setuju, Rin. Membaca tanpa target memang lebih menyenangkan. Membeli buku hanya kalau memang ingin membaca buku itu. Kalau tidak ada buku yang benar-benar ingin dibaca saat itu juga, lebih baik membaca stok buku di rumah daripada membeli buku baru.

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s