Long Weekend Untuk Siapa?

Saya tidak ingat apakah semasa kuliah (sekitar 18 tahun lampau) sudah ada musim cuti bersama. Harpitnas pun rasanya jarang. Malah saya belum lupa, sewaktu ngantor, pihak HRD sampai mengirim memo ke semua departemen bahwa saat harpitnas tetap harus masuk. Jadi saya tidak bisa menggambarkan seperti apa rasanya menjalani libur berjudul long weekend, apalagi ketika itu Bandung belum semacet sekarang.

Setelah 12 tahun menjadi freelancer penuh, saya merasa bukan masanya lagi mempertajam perbedaan dengan kerabat dan kenalan yang kantoran (ihwal komentar bernada miring pun, jujur saya sudah tak terlalu peduli). Terkait long weekend ini, kalau harus saya jelaskan, berikut hal-hal yang tidak saya senangi:

1. Jika tanggal deadline pas bertepatan dengan hari-hari merah itu (bukan tanggal haid ya). Menyiasatinya sudah jelas, selesaikan lebih awal. Yang kadang sukar dilakukan apabila pekerjaannya butuh riset banyak, padahal…

2. … bukan rahasia lagi, di akhir pekan biasa saja internet bisa macet seperti lalu lintas Bandung terutama seputaran daerah wisata. Lebih-lebih di long weekend. Bisa tersambung saja sudah alhamdulillah.

3. Katakanlah merahnya itu hari Senin, sedangkan jadwal pembayaran/pencairan honor di penerbit tertentu adalah hari Senin. Solusinya: ancang-ancang dan hindari pengeluaran yang bisa meludeskan dompet pada hari-hari penantian ini. Tapi tetap saja, itu berarti mundur seminggu lagi alias menunggu Senin depan untuk ditransfer.

4. Saat-saat yang sangat tidak tepat untuk keluar rumah. Namun bayangkan bila kondisi mengharuskan, contohnya belanja bulanan yang tidak bisa ditunda (dengan konsekuensi antre kasir panjang), ke ATM (dengan risiko ATM rusak atau kosong), dan urusan sosialisasi dengan keluarga yang tidak bisa dikesampingkan.

Benar, long weekend tidak pengaruh benar terkait pekerjaan. Hendak kondangan saja saya sempatkan dulu paginya mengerjakan beberapa halaman. Tetapi jika menginap di rumah orangtua, saya merasa repot membawa-bawa berkas kerja atau laptop. Pengalaman membuktikan, butuh usaha sangat keras untuk menyempatkan diri menengok pekerjaan sembari menjaga perasaan orang terdekat supaya tidak merasa diabaikan/mengganggu. Saya tidak bermaksud mengeluh, tapi justru keluarga dan lingkungan sekitar punya ‘hak’ untuk mengajak saya dan suami berpaling dari deadline pada akhir pekan yang panjang ini. Sebut saja kerja bakti, rapat RT, bertemu saudara yang memang sangat sibuk sehingga hanya punya waktu Sabtu-Minggu, menjenguk cucu, dan lain-lain.

Katakanlah pekerjaan sudah selesai semua. Bisa tarik napas sejenak. Mau ke mana ya? Saudara saya yang tinggal di tengah kota dan berumah di pinggir jalan tiap akhir pekan (long atau short) hanya bisa nonton kemacetan. Jika ingin pergi, harus pagi-pagi sekali atau malam sekalian. Pulangnya pun harus berhitung waktu. Alangkah tidak nyamannya.

Mari kita bicara soal libur dalam arti senang-senang/pelesir. Teman saya yang suaminya ngantor pun tidak serta-merta bisa piknik di waktu long weekend. Sang suami sering kali tetap masuk, bahkan tugas ke luar kota. Keponakan kami yang sama-sama kantoran harus jumpalitan mencocokkan jadwal dengan pasangannya. Satu libur, ternyata satunya harus meeting atau sebaliknya. Minggu lalu saja, saya baru sadar bahwa anak-anak sekolah tetap masuk di hari Sabtu.

Kalau begitu, long weekend untuk siapa? Entahlah, sampai tulisan ini berakhir saya belum tahu jawabannya.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s