Cita-cita di Luar Perbukuan

Semasa SMP, saya tertarik menjadi arkeolog. Gara-garanya, membaca sebuah cerpen di Majalah Aneka Ria (kini menjadi Majalah Aneka Yess! yang gaul abis) mengenai profesi ini. Cerpen tersebut, kendati lupa judul dan pengarangnya, masih melekat di ingatan saya setelah 20 tahun lebih berlalu. Ceritanya tentang seorang gadis yang menunggu tunangannya pulang. Tunangan tersebut seorang arkeolog, berjanji akan kembali untuk menyelesaikan pembangunan rumah dan menikahi sang pujaan hati. Namun ia tak kunjung pulang, bahkan ditengarai hilang dalam tugas ke luar negeri.

Almarhum Bapak, yang banyak membelikan saya buku psikologi, rupanya mengharapkan saya menjadi psikolog. Saya tak bilang ini bukan profesi mengesankan, terlebih hingga kini saya sangat menggemari bacaan dan tontonan berbau psikologi. Namun sepertinya jadi psikolog itu capek sekali (seperti dalam film Prime) sedangkan saya termasuk kurang sabar. Seandainya memungkinkan pun, saya sangat meminati psikolinguistik yang sayangnya tidak diajarkan waktu kuliah dulu. Supaya bisa seperti Dr. Foster di seri Lie to Me, pasti seru!

Kembali ke masa remaja, cita-cita saya yang lain adalah menjadi drummer. Bukan demi mengejar nama sih, barangkali itulah yang membuatnya sulit ditempuh:p. Sepertinya enak ada bahan gebuk-gebuk sebagai sarana terapi anger management. Tapi dengan cepat itu dilupakan, mengingat sesungguhnya saya lebih cinta suasana sepi dan mudah pusing dalam kegaduhan. Teringat sekilas ketika menonton School of Rock minggu lalu saja:)

Sewaktu menekuni hobi otak-atik ponsel dan komputer sekitar 8 tahun ke belakang [sekarang pun masih, hanya sudah keteteran karena tidak update teknologi banget], Mas Agus berseloroh, « Kamu ngelamar gih ke perusahaan ponsel, bagian spesialisasi virus. » Saya baru bisa menanggapinya dengan ide iseng lain, dua hari yang lalu. « Buka bisnis, yuk. »

« Bisnis apaan? » tanya Mas Agus.

« Klinik Rehabilitasi Penyakit Malas Googling. »

 

Publicités

2 thoughts on “Cita-cita di Luar Perbukuan

  1. aku dulu juga pengin jadi arkeolog, terinspirasi dari Indiana Jones…
    sempat pengin jadi psikolog, tapi kayaknya gampang bosan kalau dengar orang berkali-kali mengeluh hal yang sama, hihihi…
    lanjut pengin jadi arsitek/desainer interior, tapi enggak bisa nggambar…
    juga suka utak-atik komputer/gadget sampai sekarang, kenapa dulu enggak kuliah IT atau sebangsanya…
    pernah juga pengin masuk Sastra Inggris, tapi enggak sempat belajar IPS pas UMPTN…
    cita-cita masa kecil paling berkesan: jadi detektif dan punya rumah pohon (salahkan Enid Blyton)

    #edisinyampahdiblogorang 😀

    1. Hihihi… sebenarnya aku juga ingin punya kuda seperti Dita, pun gara-gara buku Enid Blyton dan yang terakhir, Black Beauty:)
      ‘Salah Enid Blyton’ pulalah aku masuk Sastra Prancis, sebab penasaran kenapa Mam’zelle sering bilang, « Abominable. »:))

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s