Saat Kebiasaan Berubah

Dalam buku Masa Dewasa, seri Perilaku Manusia/Pustaka Time Life, yang ditulis Wilbur Bradbury dan kawan-kawan, terdapat uraian berikut ini:

Bagi Levinson, peralihan pada umur 30 tahun mempunyai arti khusus. Pada fase ini, tiap orang yang diteliti oleh Levinson mengalami kemajuannya sendiri hingga saat itu dan mempertimbangkan apakah ia akan mengubah jalan hidupnya atau tidak. (hal. 22).

Dicontohkanlah seorang petinggi perusahaan yang memutuskan mengundurkan diri kemudian mendirikan usaha sendiri.

Saya pribadi berharap perkembangan, sekecil apa pun, atau perubahan yang positif dicapai tidak hanya di usia 30-an ini. Ihwal pilihan karier, saya sudah mantap menerjuni penerjemah dan editor buku (kendati belakangan lebih banyak menyunting, dan saya sangat menikmatinya:D) sedari lima tahun terakhir, memang tepat di usia 30 tahun. Tak ada kesengajaan, ini « cita-cita » yang menjadi nyata.

Terkait perubahan, saya merasakan peralihan sikap yang ada hubungannya dengan profesi ini. Masih relevan dengan manajemen energi, « kecil-kecil » kelihatannya tapi cukup sukar bagi saya untuk membiasakannya.

Membaca untuk bersenang-senang. Punya jiwa bawel, OCD, atau apa pun sebutannya ketika membaca (di luar bekerja) sungguh menyiksa. Ini editornya kok lalai, sih? Ini penerjemahnya siapa ya, kok nggak bener? Sikap tersebut dapat dikikis, berangkat dari pemikiran bahwa saya sendiri bukan editor dan penerjemah yang tanpa cela. Ditambah kata-kata Hatta (kalau tidak salah) yang dikutipkan Mas Agus. Bunyinya kira-kira, « Jika buku harus sempurna, takkan pernah ada yang terbit. » Inspirasi tersebut dikokohkan oleh postingan lama blog Bhai Benny Rhamdani ini.

Seiring berkurangnya mengomel, apalagi setelah saya tidak lagi menulis buku, saya bisa membaca pelan dengan nikmat. Bukunya tidak selalu ringan, tapi tidak mengikat diri dengan target yang ternyata membebani.

Efek lainnya tidak lagi stres menghadapi editan tertentu. Dulu rem saya gampang dol (bukan berarti sekarang sudah supersabar, masih jauh:D), misuh-misuh melulu di medsos. Pikir-pikir, arogan betul saya. Dan tindakan itu kontraproduktif. Lebih baik saya menulis catatan koreksi dan masukan untuk penerjemah bersangkutan, sembari belajar bersama tinimbang mencak-mencak tak keruan.

Bila ada kesalahan semacam typo, saya usahakan menganggapnya lucu. Bukankah tertawa itu sehat? Tentunya bukan tawa mencemooh. Lucu karena saya pasti pernah melakukan hal serupa, dulu atau sekarang. Salah satu yang saya ingat, pernah terbalik menerjemahkan « summer » jadi « musim dingin »:))

Suatu waktu, Bhai Benny bilang entah di forum atau blog beliau, « Sayang sekali, di workshop yang merupakan kesempatan langka bertemu penulis-penulis besar, pertanyaan yang diajukan masih standar. Bagaimana cara menulis novel? Penerbit mana yang cocok? Atau bahkan berapa halaman dan font ukuran berapa? Semua itu bisa diperoleh di Google dengan mudah. » Tidak persis demikian kata-katanya, namun cukup membuat saya merenung. Membiasakan googling sebelum bertanya perlu digalakkan. Kendati ada efek sampingnya, yakni terseret keasyikan dan lupa waktu, banyak manfaat ketika saya mencari istilah atau daftar kata tertentu yang dibutuhkan. Contohnya situs ini, salah satu temuan tak sengaja.

Soal pertanyaan « salah alamat », dicontohkan oleh Gradien Mediatama di twitter-nya, ihwal redaksi/penerbit yang ditanya mengenai ketersediaan buku. Menurut mereka, « mirip bertanya kepada orangtua Messi mengapa dia (Messi) tidak bisa membawa Barcelona juara liga tahun ini. »

Masih berhubungan dengan pertanyaan « standar » di atas, saya berhenti « mempermasalahkan » cover. Sedari dulu buat saya memang bukan « faktor penentu » yang diprioritaskan, sih. Yang saya pandangi hanya sinopsis, nama penulis, kemenarikan judul, dan sematan harga, jelas. Saya sudah berhenti memikirkan, « Kok covernya lain dengan buku asli? » [setelah tahu proses panjang nan berat merumuskan desain cover berikut pernak-perniknya, terutama. Lagi pula, cover asli tidak selalu lebih bagus dibanding karya anak bangsa] atau « Ih, malas beli, covernya kayak gitu sih. » Mungkin pendapat saya sudah bias karena « keberpihakan », namun saya belajar dari jual-beli di warung sayur saja. Saya tak boleh menjadikan alasan « itu sudah tugas produsen » atau « itu risiko pedagang » untuk menawar mati-matian, misalnya. Kalau memang tidak mau, tidak butuh, ya jawab saja, « Tidak, terima kasih. » Selesai.

Bila berhadapan dengan penulis dan penerjemah yang terkesan emoh diedit (besar-besaran sekalipun perlu), saya kerap berkelakar, « Ya sudah, nanti kalau ada pembaca protes, saya tinggal nunjuk penerbit/penulis/penerjemahnya. » Jika ini dipraktikkan, tentu tidak etis. Seperti halnya mengeluhkan di tempat publik masalah tenggat yang mepet atau bayaran yang « kecil ». Saya ingat ucapan Ibu Sofia Mansoor, « Kalau sudah mau, sudah menerima pekerjaannya, ya lakukan sebaik-baiknya. » Pula kata-kata seorang rekan, « Hasil akhir adalah kerja tim, sudah satu paket. » Lebih tegasnya lagi sebagaimana dinyatakan Mbak Hetih Rusli suatu ketika di Twitter, « Penulis dan editor itu seperti mertua dan menantu. Nggak baik ah, menjelek-jelekkan keluarga sendiri. »

Di samping itu, komunikasi efektif. Basa-basi memang bagian sopan santun, jangan sampai ada kesan, katakanlah, « hanya ngontak kalau butuh ». Dulu saya bertanya-tanya mengapa beberapa kolega menulis e-mail begitu resmi, pendek, dan sebagainya sehingga tampak « kurang hangat », padahal memang demikianlah komunikasi bisnis. Seorang editor in house memberi wejangan berdasarkan buku yang pernah beliau tangani, « Tidak perlu memberi alasan kalau tidak ditanya. Jawab pun secukupnya saja. » Contohnya, seperti kata editor lain, « Kalau minta perpanjangan waktu, ya karena belum selesai. Titik. » Aih, boros benar saya selama ini, mungkin membuang-buang waktu para editor dengan « drama » yang sebenarnya tidak perlu.

Salah satu hobi saya yang merugikan diri sendiri adalah melayani debat kusir. Saya mudah terpancing postingan « sensitif », pernyataan multitafsir, dan sejenisnya. Setelah berpanjang-panjang, yang kadang malah didiamkan juga oleh si empunya pernyataan, saya jadi bete total seharian. Bahkan lebih. Orang-orang tidak bersalah jadi pelampiasan. Sekarang? Aduh, malaas! [ini agaknya malas yang perlu dikembangbiakkan, bahkan diproduksi dalam jumlah besar]. Jika dirasa sudah « gatal », saya meniru resep seorang kenalan dengan mengalihkan ke kegiatan lain. Beserta tindak pencegahannya, menjauhi area negatif atau topik-topik yang menciptakan hawa negatif. Apa dan seperti bagaimana, biarlah saya dan Tuhan saja yang tahu:)

Satu lagi, kadang-kadang lupa ternyata menjadi berkah. Alhamdulillah.

Semoga program « penghematan energi » ini bisa berjalan lancar sehingga hati, pikiran, dan hidup saya adem lagi hijau:D

Publicités

2 thoughts on “Saat Kebiasaan Berubah

  1. bener mbak rin, sama aku jg ngerasa gitu. meskipun lebih sibuk di rumah daripada ketika ngantor, sekarang aku malah bisa menyempatkan diri enjoy buku-buku yang hampir tidak pernah kusentuh selama ngantor. Sempat baca novel, jalan-jalan cari buku buat sendiri (dan buat jualan tentunya) … dan belajar enggak bikin pusing semua hal, kecuali yang editan yang memang bener2 bikin kepala ngebul sampai rasanya banyak kabut di kepala (i feel it right now) …
    thank you for sharing mbak rin … love this post!

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s