Hotel on the Corner of Bitter and Sweet

Penulis: Jamie Ford

Penerjemah: Leinovar Bahfein

Penyunting: Lisa Indriana Yusuf

Korektor: Tisa Anggriani

Penerbit: M-Pop, 2011

Tebal: 398 halaman

« Kadang kita harus mencoba sesuatu yang paling sulit. »

(hal. 236)

Cukup lama saya mengangankan novel drama, roman atau bukan, yang ditulis oleh pria. Bukan berarti selama ini tidak ada, namun relatif sedikit. Harapan tambahannya, karakter utama yang diangkat atau menjadi penutur kisah adalah laki-laki berusia paruh baya. Seorang ayah, paman, atau mungkin kakek. Atau suami seseorang. Mengapa? Semata langka saja. Saya tergerak mengetahui « isi hati » dan « isi kepala » laki-laki, yang rasanya lumrah.

Jamie Ford memberi bonus. Memang ada unsur romannya, tapi drama keluarga Henry juga kental. Semula, sebagai pembaca yang tidak getol menyimak sinopsis, saya tak menyangka Henry keturunan China (sesuai ejaan dalam buku ini). Kemudian dalam seketika, Jamie Ford (« berkolaborasi » dengan penerjemahnya yang tidak asing lagi bagi saya, tentu) menjerembapkan saya dalam haru-biru yang sukar dilukiskan.

Ayah memang bukan orang sempurna. Tetapi sekalipun ayahmu buruk, itu masih lebih baik ketimbang tidak punya ayah sama sekali

(hal. 95)

Tetapi akhir yang indah masih bisa dijumpai di ujung hari yang dingin dan menakutkan.

(hal. 104)

Kecamuk batin Henry yang mematuhi keinginan orangtua bersekolah bersama warga Amerika lain yang berkulit putih, membuatnya menahan cibiran dan cemoohan. Di rumah pun ia dibiasakan berbahasa Inggris, kendati sang ibu sering kali tak mengerti. Kebanggaan yang dibayar mahal, sementara Henry mendapat « pelipur » dari kenalan barunya, gadis kecil bernama Keiko. Semakin keraplah Henry memperoleh perlakuan diskriminatif dan dikira Jepang. Kondisi perang memperparah karut-marut yang terjadi.

Plot ulang-alik tidak menimbulkan kesulitan untuk menyimak cerita ini, bahkan seperti menjelaskan perilaku Henry, sikap diamnya, rahasia yang disimpannya dari sang putra dan perlahan-lahan dikuak. Unsur budaya yang sekali-sekali diketengahkan, perbincangan, dan kesadaran Henry bahwa ada saatnya berubah, menerima bahwa putranya tidak seperti dia. Juga membuktikan sangkaan Marty, sang anak, akan kemiripan dirinya dengan sang kakek, ayah Henry yang anti Jepang. Kesenduan yang menyentuh muncul dari kenangan-kenangan Henry terhadap Ethel, istri tercinta yang berpulang karena kanker.

Dan kadang harapan sudah cukup untuk melalui apa pun.

(hal. 182)

Dan di menit-menit terakhir hidupnya, Ethel hanya ingin pergi, butuh pergi.

(hal. 234)

Apakah memiliki kenangan lama yang terpenggal, kisah kasih yang masih diingat itu semacam pengkhianatan? Kapankah seorang yang sudah berpredikat orangtua, ayah, boleh bahagia? Apakah setelah teman hidup pergi, kemerosotan akan terjadi atau kita bisa menatap masa depan dan menjalaninya sendiri dengan berani? Henry, memori akan Keiko dan Ethel, persahabatannya dengan Sheldon sang pemain jazz, konflik komunikasi dengan Marty, serta tikaman pahit percekcokan dengan ayahnya adalah kombinasi « sempurna » yang manis.

Novel yang membuat saya sesak akan emosi, terdorong untuk menulis ulasan lagi, juga membubuhkan stabilo pada kalimat-kalimat mengesankan di dalamnya. Bahkan tatkala saya menulis ini, mata kembali berkaca-kaca.

Keterpisahan waktu menciptakan jarak. Lebih dari yang ditimbulkan pegunungan dan zona waktu. Jarak yang sesungguhnya. Jarak yang membuatmu pedih dan berhenti bertanya-tanya. Menimbulkan rindu yang sangat dalam, sehingga besarnya cinta mulai terasa menyakitkan.

(hal. 333)

Skor: 4,5/5

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s