Menjadi Penulis Berprofesi Editor

…berarti tanggung jawab ekstra. Sejatinya, setiap penulis harus pula mampu menyunting karya masing-masing, namun sampai hari ini masih saja ada yang berkelit dengan argumen, “Untuk apa editor digaji/dibayar? Itu kan tugas mereka.”

Menyandang label editor otomatis berkonsekuensi beban, tulisan yang diajukan diharapkan sudah rapi dan mulus. Kesalahan-kesalahan kecil yang masih dapat ditolerir tidak menjadi masalah, asalkan bukan yang fatal semisal titik setelah tanda petik dalam kalimat langsung, atau di- yang disatukan dengan kata kerja pasif. Apabila kekeliruan terjadi karena kerapnya suatu ejaan berubah, contoh ‘memerhatikan’ yang dewasa ini kembali menjadi ‘memperhatikan’ dalam KBBI IV, editor in house mampu memaklumi.

Sastrawan kampiun Sapardi Djoko Damono berpendapat bahwa belajar menulis dapat ditempuh dengan menerjemahkan[1]. Saya sudah membuktikan kebenaran pernyataan ini. Terlepas dari elemen paling berpengaruh dalam penerbitan sebuah buku atau karya terjemahan, yakni tren, menerjemahkan memungkinkan saya menyelami langsung pemikiran dan gagasan pengarang. Saya dapat belajar mengolah karakter dalam fiksi, merumuskan dialog, memilah akhir cerita yang pas, termasuk menuturkan uraian secara sistematis dan tidak berbelit-belit dalam non fiksi. Seperti halnya (atau seharusnya) penulis, penerjemah sudah harus menjadi satu paket dalam hal self-editing. Bukan rahasia lagi bahwa penerjemah yang mengabaikan tata bahasa mendasar berpotensi tidak diperpanjang kariernya dalam bidang yang ditekuni.

Repotnya, roh karya terjemahan tidak dapat diadaptasi secara serta-merta dalam tulisan asli sendiri. Katakan saja genre fantasi. Saya masih terseok-seok menikmati buku semacam ini, apalagi menghasilkan tulisan bernada demikian. Akan tetapi seorang penerjemah, editor dan penulis berjam terbang menahun (kendati ia mengaku tidak begitu senang menyunting) membuka cakrawala pemahaman bahwa fantasi tidak melulu sihir, yang relatif sukar dileburkan untuk konsumen masyarakat Indonesia yang heterogen karena berbenturan dengan keyakinan. Cerita rakyat, fabel, dan wayang merupakan unsur fantasi. Di situlah kepercayaan diri saya sempat tumbuh. Toh ide ini luntur juga sebab hasil diskusi dengan editor sebuah penerbitan yang saya pandang cocok untuk naskah tersebut memaparkan bahwa mereka tidak menerima cerita wayang tersebab dipandang berlawanan dengan ajaran agama Islam. Tidak masalah, ilham yang belum ditelurkan itu saya kembalikan dalam kerangka emas.

Dalam esai The Death of the Author, teoretikus Prancis Roland Barthes menyatakan bahwa tulisan dan kreatornya tidak boleh dihubung-hubungkan begitu sudah dilempar ke masyarakat. Ini memperkukuh rasa malas saya (yang acap dibauri ketidakpercayaan diri) ketika sebuah buku atau tulisan terbit. Dulu, saya giat memeriksa ulang, akan tetapi belakangan ini saya grogi membaca karya sendiri. Saya lebih mendahulukan komentar dan reaksi pembaca, terutama jika tulisan tersebut merupakan buah pena yang sudah lama dikonsep, dan seiring dengan waktu dirombak atau ditambah supaya memenuhi syarat terbit.

Selalu saja ada kengerian timbul, kalau-kalau ada yang berseloroh, “Yang nulis kan editor, kok banyak typo-nya?” Alhamdulillah komentar semacam ini belum pernah saya terima, walau bukan berarti naskah saya seratus persen bersih dari kesalahan. Ada yang dapat mengundang kerut kening pembaca, tetapi saat itu saya belum terjun sebagai editor. Beruntung, bukan? Atau sama saja?

Membiasakan diri berbahasa yang baik dan benar sesungguhnya susah-susah gampang. Minimal, hal itu diterapkan sesering mungkin kala berkomunikasi secara tertulis. Menulis blog, note Facebook, SMS, mengomentari postingan seseorang, dan aktivitas dunia maya lainnya (termasuk chatting, meski tidak selalu dapat diberlakukan karena memandang konteks perbincangan dan lawan bicara) merupakan sarana berlatih yang ampuh, selain membaca media cetak yang teruji keberbahasaannya dan buku-buku yang disunting baik. Dengan cara ini, atau cukup menghindari pemakaian bahasa gaul berlebihan sebagai permulaan, kita tidak perlu terlalu sering menjenguk kamus untuk memastikan benar-salah suatu istilah.

Membaca seharusnya menyuplai banyak amunisi ke benak saya, tapi memang kemauan masih sangat lemah. Saya akui, ini dikarenakan hati yang mudah ciut. Katakanlah, membaca karya seorang penulis muda (dan benar-benar jauh lebih muda) yang sangat cerdas lagi tidak biasa. Bila saya menjadi editor yang mengeksekusi naskahnya, saya jatuh cinta. Alih-alih terpacu, saya melempem dan berpikir, “Wah, kompetensi saya belum ada seperempatnya penulis berbakat ini.”

 

Problematika lain yang, bagi saya, sama sekali tidak perlu ditanggulangi adalah jadwal. Berbeda dengan menulis yang acap kali tidak bertenggat (kecuali hendak mengikuti sayembara, seleksi karya bersama, dan/atau menulis dengan tema yang dipesan penerbit), menyunting harus diselesaikan dalam tempo tertentu. Paling tidak, saya harus sudah membaca sebagian naskah materi dan dapat menjawab apabila penulis, terutama yang giat dan berinisiatif melakukan perubahan sendiri, mempertanyakan sejauh mana perkembangan pekerjaan tersebut. Di samping itu, menunda-nunda memang amat saya hindari. Tenggat dapat berubah menjadi monster yang menghantui, menyulitkan mata terpejam, dan tentu saja membahayakan reputasi seandainya saya coba-coba tidak menepati. Berlama-lama menghadapi suatu naskah kerap menciptakan kejemuan pula.

“Apa susahnya menulis cerpen tiga halaman, kan tenggatnya masih dua hari lagi?” tanya seorang kenalan penulis. Saya hanya tersenyum. Pertama, saya tidak biasa menyerempet deadline sampai detik-detik terakhir. Mengapa? Ini berkaitan dengan yang kedua, saya meyakini bahwa dalam dua hari yang terlihat ‘lengang’ pun, segala sesuatu mungkin terjadi. Komputer batuk-batuk (yang ini amit-amit), jaringan internet ambruk, listrik mati, hujan petir yang membuat hati waswas untuk menyalakan netbook, dan banyak lagi. Barangkali kedengaran pesimis, namun saya lebih senang mengirimkan atau mengajukan sesuatu yang dianggap matang dan siap sehingga dapat dipertanggungjawabkan kelak.

 

Sebelum menulis cerita ini, saya menjenguk folder arsip tulisan. Ternyata ada beberapa yang belum tuntas, dan satu naskah fiksi yang diperkirakan sesuai dengan kebutuhan serta segmentasi sebuah penerbit kenamaan. Giranglah hati, saya duduk tegak dan siap-siap menyunting. Tebakan saya, paling-paling yang perlu diubah hanya ejaan dan beberapa unsur cerita.

Dugaan itu salah besar.

Sedari halaman awal, saya sudah mengernyit tidak senang. Kalimat-kalimat dialognya terlalu konvensional, tidak cocok untuk zaman sekarang. Membutuhkan waktu untuk menggali percakapan yang lebih segar. Nama karakter saya ubah karena sama persis dengan karya sejenis yang telah saya baca, berikut deskripsinya. Berhubung cerita saya tulis beberapa tahun silam, masih ada fakta-fakta yang perlu dimodifikasi karena saya sangsi mencantumkan ‘latar tahun delapan puluh sekian’ memuaskan pembaca yang haus keterangan.

 

Menulis sesuatu yang baru setelah lama vakum benar-benar tidak mudah. Saya pernah mencuri waktu di sela sebuah proyek terjemahan, total satu hari untuk menulis satu seri naskah cerita anak. Dalam urusan ini, saya benar-benar acung jempol kepada beberapa karib penulis yang terbiasa dikejar waktu untuk menyelesaikan naskah relatif tebal. Selama satu hari itu, saya didampingi suami tetapi enggan diajak bicara sepatah kata pun. Sekali lirik saja, ia mengerti bahwa saya sedang ‘hanyut’ dan tidak mau diganggu. Dalam waktu tidak terlampau lama, penerbit yang saya tuju menyatakan berminat atas naskah tersebut. Tunggu punya tunggu, ilustrasi udah siap dan saya telah menjelaskan begini-begitu, datanglah sebuah ‘petaka’. Mendadak penerbit tersebut berganti manajemen dan naskah saya termasuk yang diralat dalam keputusan sidang ulang redaksi.

Saya hanya tersenyum kecut, berpikir bahwa belum waktunya saya come back dengan gagasan baru. Baiklah, ‘jatah’ saya barangkali di penyuntingan dan penerjemahan saja. Saya kembali menenggelamkan diri.

 

Kuota halaman adalah perintang lain yang belum berhasil saya tepis. Saya penganut aliran kalimat ekonomis yang lumayan ‘keras’ dan tidak menyukai deskripsi sehingga lebih kerap melewatkannya saat membaca buku. Agaknya sebab itulah, kala mulai berkiprah di kepenulisan, saya menulis naskah skenario komik dan drama, meski tidak berarti kedua genre itu bisa dianggap enteng.

Seorang editor pernah menghubungi saya melalui YM dan mengusulkan sebuah tema untuk saya tulis. Saya menjawab setengah malas, karena bagaimanapun, saya tidak mampu menulis dengan batasan waktu. Lebih-lebih, penerbit tempat editor ini bekerja mensyaratkan naskah cukup tebal, minimal 150 halaman spasi 1,5.

Saya menanggapi, “Ya, tunggu setahun.”

Perbincangan itu terjadi pertengahan tahun kemarin, dan sekarang editor tersebut telah pindah ke penerbitan lain. Apakah saya merasa rugi?

Tidak. Saya belum mulai menulis satu kalimat pun.

 

Seorang editor lain tidak kalah gigih membujuk saya menulis. Segala dalih saya dipatahkan beliau.

“Aduh, nggak bisa nulis percintaan.”

“Ya, persahabatan juga boleh.”

“Sulit buat saya ikut pakem di sini. Karya saya agak keluar jalur.”

“Kita bisa negosiasikan, kok. Yang penting kan tidak melanggar SARA,” sang editor tersenyum-senyum.

“Hmm, kapan ya?” saya mengingat-ingat jadwal.

“Nggak buru-buru, Mbak Rini santai saja,” ia membesarkan hati.

Kemudian rekan sejawat beliau melintas dan editor ini teringat sesuatu. “Oh ya, Mbak Rini mau ngedit naskah yang baru kami baca? Menarik, lho.”

Saya menegakkan tubuh. “Tentang apa, Mbak?”

Menulis? Kapan-kapan, deh.

 

 

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s