[Latihan] Dari The Famished Road (1)

Lima tahun silam, saya berlatih menerjemahkan dari materi bab pertama The Famished Road karangan Ben Okri yang terdapat di sana. Waktu itu saya belum tahu bukunya sudah diterjemahkan dan diterbitkan Serambi. Setelah membeli beberapa bulan kemudian, saya membandingkan dengan hasil alih bahasa penerjemahnya, Salahuddien Gz, untuk mempelajari kekurangan-kekurangan saya.

A = asli

TR = Terjemahan Rini

TS = Terjemahan Salahuddien

A: IN THE BEGINNING there was a river. The river became a road and the road branched out to the whole world. And because the road was once a river it was always hungry.

TR: AWALNYA terdapat sebuah sungai. Sungai itu menjadi jalan yang bercabang hingga ke seluruh penjuru dunia. Karena dahulu merupakan sungai, jalan tersebut selalu memakan korban.

TS: Pada mulanya adalah sekelok sungai. Sungai menjadi jalan, dan jalan bercabang ke seluruh dunia. Karena berasal dari sungai, maka jalan itu selalu lapar.

 

A: In that land of beginnings spirits mingled with the unborn. We could assume numerous forms. Many of us were birds. We knew no boundaries. There was much feasting, playing, and sorrowing. We feasted much because of the beautiful terrors of eternity. We played much because we were free. And we sorrowed much because there were always thoose amongst us who had just returned from the world of the Living. They had returned inconsolable for all the love they had left behind, all the suffering they hadn’t redeemed, all that they hadn’t understood, and for all that they had barely begun to learn before they were drawn back to land of origins.

TR: Di alam asal itu, roh-roh berbaur dengan makhluk yang belum lahir. Kami dapat mengatakan bahwa bentuknya bermacam-macam. Banyak di antara kami yang dulu berwujud burung. Kami tak mengenal batas. Sering berpesta, bermain, dan berduka. Kami banyak berpesta karena indahnya pemikiran tentang keabadian. Kami kerap bermain karena bebas. Dan kami kerap bersedih karena selalu ada yang kembali ke dunia fana. Mereka kembali dilanda duka untuk semua cinta yang ditinggalkan, semua penderitaan yang belum ditebus, semua yang tidak mereka pahami dan semua yang baru mulai mereka ketahui sebelum kembali ditarik ke dunia asal.

TS: Di negeri awal-mula, roh-roh berbaur dengan yang belum-lahir. Kami bisa mengambil beragam wujud. Banyak di antara kami berwujud burung. Batas-batas tidaklah kami kenal. Ada banyak pesta, permainan, dan dukacita di sana. Kami banyak berpesta karena rasa ngeri yang indah pada keabadian. Kami banyak bermain karena kami merdeka. Dan kami banyak berdukacita karena selalu saja ada di antara kami yang baru kembali dari dunia Kehidupan. Mereka kembali dengan raut sedih atas semua cinta yang mereka tinggalkan, atas semua penderitaan yang belum mereka lepaskan, atas semua hal yang belum mereka mengerti, dan atas semua hal yang baru mereka pelajari sebelum direnggut kembali ke negeri awal-mula.

 

A: There was not one amongsts us who looked forward to being born. We disliked the rigours of existence, the unfulfilled longings, the enshrined injustices of the world, the labyrinths of love, the ignorance of parents, the fact of dying, and the amazing indifference of the Living in the midst of the simple beauties of the universe. We feared the heartlessness of human beings, all of whom are born blind, few of whom ever learn to see.

TR: Tak seorangpun di antara kami yang ingin segera lahir. Kami membenci kekakuan wujud, kerinduan tak terpenuhi, ketidakadilan dunia yang terus- menerus, kerumitan cinta, ketidakpedulian orangtua, fakta adanya maut dan ketidakacuhan makhluk hidup yang bertolakbelakang dengan keindahan semesta yang sederhana. Kami takut pada kekejian manusia. Mereka semua lahir dalam keadaan buta, namun hanya beberapa yang pernah belajar untuk melihat.

TS: Tak ada seorang pun di antara kami yang berharap untuk dilahirkan. Kami tidak menyukai kerasnya keberadaan, hasrat-hasrat tak terpenuhi, ketidakadilan dunia yang tak pernah usai, berjuta labirin cinta, kebebalan orangtua, fakta kematian yang menganga, dan pukauan ketakpedulian hidup di belantara keindahan semesta yang sederhana. Kami ngeri pada kekejaman manusia. Semua manusia terlahir buta, dan hanya sedikit yang berupaya untuk membaca.

Dari tiga paragraf ini, selain gaya saya yang masih mentah dan belum bisa puitis/variatif, terlihat perbedaan diksi. Tapi yang bikin malu sekaligus geli, rupanya beberapa bagian masih salah saya terjemahkan karena kurang teliti.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s