Mengenal Selingkung (2)

Dalam penerbitan buku, selingkung merupakan kaidah yang dijadikan pedoman kebahasaannya. Dengan kata lain, penggunaan selingkung merupakan ciri khas gaya bahasa sekaligus tata tertib yang dapat ditemukan dalam buku-buku produksi sebuah penerbitan. Sifatnya luwes, berubah-ubah sesuai kesepakatan internal antara para editor di penerbit bersangkutan.

Penerapan selingkung penerbit satu dengan lainnya berbeda-beda dan tidak semua penerbit menaati Ejaan yang Disempurnakan [atau tepatnya patuh pada Kamus Besar Bahasa Indonesia] seratus persen. Hal ini dikarenakan bahasa adalah sesuatu yang ‘cair’, sehingga bahkan perubahan dan ketentuan dalam KBBI tidak senantiasa disetujui oleh semua pihak. Di sisi lain, panduan selingkung bukan materi hafalan melainkan rujukan yang perlu ditengok terus-menerus. Dengan demikian, seorang penerjemah atau penyunting lepas harus giat membaca buku-buku yang diterbitkan mitranya guna memudahkan penyerapan selingkung dalam pekerjaan masing-masing.

Salah satu contoh sederhana adalah pemakaian kata ‘napas’. Ini benar menurut KBBI terbaru, namun ada penerbit yang tetap menggunakan ‘nafas’ dengan alasan tertentu. Kata ‘shalat’ pun cukup beragam. Ada yang memilih ‘sholat’, ada juga yang menggunakan ‘salat’. Penerbit tertentu memakai kata ‘Al-Qur’an’ namun penerbit lain menetapkan ‘Al Quran’.

Selingkung bukan hanya menyangkut ejaan, namun diksi secara luas. Kadang-kadang penerbit lebih menyukai ‘para lelaki’ daripada ‘lelaki-lelaki’, misalnya. Bahkan, apabila ‘lelaki’ mengacu kepada kaum Adam keseluruhan [contohnya pada kalimat ‘Men are all the same’] penerbit acap kali mengartikan ‘Lelaki’ dan bukan ‘Kaum Lelaki’.

Gejala bahasa yang relatif semarak dewasa ini adalah penyerapan kosakata asing. Peran media massa termasuk besar dalam sosialisasinya, secara langsung maupun tidak. Akan tetapi di lingkungan penerbitan, ada pihak-pihak [baca: penerbit] yang memprioritaskan penggunaan bahasa Indonesia sebagai mayoritas dalam buku-bukunya. Ini menuntut kerja ekstra, yang bermuatan mencerdaskan dan menantang tentunya, bagi penerjemah dan penyunting mengingat tidak semua kata asing memiliki padanan. Contohnya sebagai berikut:

Tugas memanggil sehingga ia dan mitranya harus segera berangkat.

Yang dipakai adalah ‘mitra’, bukan ‘partner’

 

Aidan hanya dapat berharap segera meninggalkan tempat itu dan berfokus menemukan orang yang mematahkan leher anak berumur 6 tahun seperti ranting kering.

Padanan kata berfokus adalah berkonsentrasi. Sebenarnya ini pun masih merupakan serapan asing. Alternatif lainnya adalah mencurahkan perhatian.

Kendati ketentuan ini memicu kreativitas berbahasa penerjemah dan penyunting, mengindonesiakan peristilahan tidak senantiasa dapat dilakukan. Sebut saja pada buku-buku remaja. Tanpa bermaksud merendahkan kemampuan berbahasa generasi muda kita, ‘suasana’ dalam buku yang lincah dan renyah dapat dijaga dengan membiarkan sejumlah kosakata sesuai tempat asalnya. Terlebih apabila cerita berlatar kehidupan kota besar dan serba modern. Mari kita tengok contoh berikut.

Woy… orang-orang! Pada ke mana teman-temanku di Ohio saat kubutuhkan? Di sana sudah masuk waktu makan malam, mestinya ada dong yang bisa chat denganku.

 

Kebanyakan penerbit menerapkan bentuk dan struktur kalimat persis buku aslinya. Selain untuk menjaga rasa orisinalnya, tindakan ini bertujuan mempertahankan gaya pengarang. Maka tidak mengherankan bila kita kerap mendapati kalimat-kalimat di bawah ini.

Diterkam dingin, giginya bergemeletuk dan kaki-tangannya sukar digerakkan.

Aku ingin pergi ke sana dan makan roti dan berjemur di panas matahari dan berlari-lari di padang rumput dan tidak memikirkan apa pun yang menyebalkan.

Ia hendak lari — tetapi pandangan wanita itu membekukan; yang bisa dilakukan hanya diam, diam, lalu mencari kata-kata yang tepat.

Beberapa penerbit memandang struktur yang tidak biasa menjadikan kesulitan bagi pembaca, terlebih jika tema buku relatif berat. Oleh sebab itu, disusunlah aturan selingkung yang menyangkut pemenggalan kalimat berikut penyesuaiannya dengan gaya bahasa yang lebih berterima bagi masyarakat Indonesia. Perubahannya menghasilkan kalimat-kalimat ini:

Akibat diterkam dingin, giginya bergemeletuk dan kaki-tangannya sukar digerakkan.

Aku ingin pergi ke sana lalu makan roti, berjemur di panas matahari, berlari-lari di padang rumput, dan tidak memikirkan apa pun yang menyebalkan.

Ia hendak lari tetapi pandangan wanita itu membekukan. Yang bisa dilakukan hanya diam, diam, lalu mencari kata-kata yang tepat.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s