Lebih Baik di Sini, Rumah Kita Sendiri

Sampai tahun kelima kami menempati rumah ini, masih ada suara-suara yang mengherani dan menyarankan kami menjual saja kemudian mencari kediaman lain yang airnya lebih mudah diperoleh dan tidak terlalu jauh ke akses « dunia ».

Lucunya, salah satu yang getol menyarankan itu justru sering mengalami air ledeng mati. Tapi tak apa, kami hargai komentarnya.

Buat kami, rumah bagaikan proses mencari jodoh. Seperti kata seorang teman baik yang sering saya ajak diskusi, kesesuaian termasuk hal yang tak bisa ditakar akal (sehat). Sebagaimana kebanyakan hal yang ada di dunia, mudah sekali mengorek-ngorek kekurangan sekecil apa pun kalau mau. Tak perlu makan waktu. Namun kebaikan atau sisi positif justru kerap disepelekan.

Kalau bicara air, di musim kemarau begini bukan masalah baru. Mungkin sulit air di pegunungan terdengar mengenaskan, bak tikus kelaparan di lumbung padi. Tapi toh, kami belum pernah sampai harus nebeng di rumah orang seperti masa kos sewaktu kuliah dulu. Paling-paling capek karena mencuci sekaligus beberapa tumpuk karena airnya baru mengalir tiga hari kemudian. Di kota lebih gampang urusan air? Belum lama ini kami menyambangi seorang kerabat sepuh di pemukiman tengah kota, airnya hanya mengucur setengah jam tiap hari dan bayar sekitar 20 ribu per hari. Bila ingin lebih lama, ya bayar lebih juga. Barangkali kalau air sebegitu krusial dan kritisnya, pindah sekalian ke provinsi lain saja. Tapi tentu itu beda perkara. Reaksi kami dari fakta makin minimnya air (bersih) di Bandung, tidak menutup sebagian teras dengan beton. Itu akan mempersulit resapan air ke daerah bawah sana.

Lalu masalah akses ke fasilitas umum yang jauh. Sampai kini kesulitannya masih tertanggulangi, kok. Malah banyak untungnya, buat saya. Udara masih segar. Kadang sangat dingin memang, jadi tidak perlu jajan es (baca: hemat dan sehat). Ketidakterkenalan wilayah kediaman kami, yang tidak tercantum pula di peta, mengandung sejumlah sisi positif. Salah satunya, tidak berisik. Bukan rahasia lagi bahwa daerah yang tersohor lantas didatangi banyak pihak (pengembang perumahan atau turis, sebab kawasan kami termasuk suaka burung langka dan ada beberapa tempat outbound juga). Pertimbangan lain saya menjatuhkan pilihan ke rumah ini, tidak jauh-jauh amat jika hendak ikut Mas Agus pulkam. Setengah jam sudah sampai Nagrek. Dulu kami tinggal di Soreang, yang kondisi airnya lebih bagus dan segala sesuatu serbaada, satu setengah jam sudah ngos-ngosan sehingga baru sampai Nagrek malah harus istirahat.

Faktor yang lain tak bisa dimungkiri lagi: macet. Tinggal di sini, macetnya paling-paling dekat jalan tol (kalau pas lewat sana pun), pagi dan menjelang Maghrib dalam jarak yang masih manusiawi alias tidak bikin sinting dibandingkan di kota sana. Efek samping kena macet tiap hari bisa merembet ke mana-mana. Tahun pertama menikah ketika kami masih sama-sama ngantor, ketemu cuma satu jam sehari dan boro-boro sempat ngobrol. Aduh, perkawinan macam apa itu? Menyedihkan sekali.

Sekarang ada perubahan memang. Sejak dua tahun lalu, entah mengapa banyak pesawat dan helikopter lewat kemari. Saya deg-degan jika angin keras atau hujan lalu pesawatnya lumayan rendah. Jangan tanya gaduhnya di malam-malam libur panjang. Kalau sedang download kemudian pesawat lewat, lebih baik dimatikan karena koneksi pasti putus. Begitu pula berbincang di ponsel.

Ihwal kemacetan, daerah sini mulai ketularan. Namanya juga dekat jalan tol dan perbatasan. Maka kami lebih sering menempuh jalan pintas lewat ladang dan jembatan desa sebelah kalau harus ke kota. Hitung-hitung cuci mata dan tetap menghirup udara segar.

Ya ya, jalan gunung yang berlubang-lubang membuat motor kami mudah rusak apalagi kalau tidak dirawat dengan baik. Tapi di dunia ini, kita tak bisa dapat semuanya. Saya sering nyengir (istilah Sundanya seuri koneng) kalau dengar ada yang bertanya, « Pengen barang yang bagus tapi murah di mana ya? » Mengutip ucapan tukang becak di twitter Srimulatism, « Mbayar 200 perak kok njaluk slamet! » Itu versi ekstremnya.

Menyangkut pindah, kami sudah kenyang pindah tempat tinggal empat kali sejak menikah. Urusan jual rumah (milik orangtua) dulu ribetnya bukan kepalang. Belum lagi ganti kartu keluarga, buat KTP baru, dan… yang teramat penting, adaptasi dengan tetangga. Di desa inilah saya merasa nyaman dan bisa jadi diri sendiri. Ada yang bilang rumah kami menakutkan karena kiri-kanan belakang kosong. Ngapain takut? Yang ditakuti di sini, ya saya:p

Jadi kalau ada yang berkomentar, « Ih, rumahmu jauh amat, » dan seterusnya, dan seterusnya, saya tinggal bilang, « Tapi rumah sendiri. » Kalau hasrat bengisnya sedang naik, saya tambahkan, « Sudah lunas, lho. »

Publicités

2 thoughts on “Lebih Baik di Sini, Rumah Kita Sendiri

  1. Emang di mana sih mbak rumahnya? 🙂 Saya jadi terinspirasi bikin tulisan di blog saya ttg rumah 🙂 Foto rumahnya kok ga ada di sini? Saya cuma liat kucingnya 🙂

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s