Behind The Book: Forest of the Pygmies

Penyuntingan buku ini berjarak beberapa bulan lebih jauh ketimbang buku kedua dan pertamanya. Selain butuh penyegaran otak, saya bermaksud memberi kesempatan pembaca potensial “mengenal” dan menikmati kedua buku terdahulunya. Meski harapan konsumen rata-rata adalah langsung memperoleh satu seri sampai tamat di pasaran, apalagi ini “hanya” trilogi, ada sebersit pikiran saya bahwa rasa penasaran juga perlu ditimbulkan sehingga penutupnya lebih “nendang”.

Tidak sia-sia, stamina menyunting saya sudah lebih bugar ketika buku yang sampul aslinya semolek buku puisi (menurut Mei, editor penanggung jawab) mampir ke meja. Saya belum lupa karakter-karakter lama, meski tentu yang paling “menempel” adalah dari Kingdom of Golden Dragon: Tensing dan Dil Bahadur. Seperti biasa, Isabel Allende menghadirkan karakter baru yang salah satunya seorang wanita unik lagi kuat. Namanya Angie, pilot pesawat carteran yang sibuk dan menjadi teman akrab Kate dalam perjalanan kali ini.

Saya begitu menikmati cerita dan penerjemahan Fanny yang semakin empuk, ditambah setting Afrika yang penuh pesona. Lalu tersadar buku ini termasuk tipis, tidak sampai 300 halaman. Napas petualangannya bertambah kental, bahkan di satu bab kerinduan saya pada suasana yang mencekam dan berbau roh terobati seketika. Seperti halnya novel-novel yang ia peruntukkan konsumen dewasa, Isabel Allende sanggup menciptakan deskripsi roh ini menjadi fenomena spiritual yang indah. Bahkan tatkala Alex berubah wujud menjadi jaguar, saya bisa membayangkan dan mendengar aumannya.

Seiring perjalanan waktu, tentu saja hubungan Kate dan Alex sedikit bergeser. Saya mempelajari fase pertumbuhan remaja lewat Alex pula, bahwa usia itu mereka menganggap teman “dunia”, tidak nyaman dengan perubahan fisik tapi malu mengutarakannya pada orangtua. Perubahan yang sulit dimengerti, memang, bahkan bagi remaja yang mengalaminya sendiri.

Singkatnya, Forest of the Pygmies adalah pamungkas seri Eagle and Jaguar yang impresif sekali.

Whenever a tree falls, everyone is instantly ready to make a firewood.

Publicités