Penimbun Insaf

Ketika pengeluaran belanja buku saya menurun setengah, saya merasa perlu bertempik sorak. Gelombang naik-turun masih terjadi, namun seperti diet, memang butuh waktu. Saya memulai dengan trik sama ketika mengerem belanja majalah semasa kuliah dulu. Menanamkan kalimat penangkal “setan penggoda belanja” dengan pertanyaan, “Kalau saya tidak punya ini, apakah akan mengganggu urusan sehari-hari?” atau, “Kalau tidak beli ini, memangnya saya bakalan mati?” Itu versi ekstremnya.

Ibarat putus cinta, menghindari tempat-tempat “bersejarah” bisa membantu mempercepat move on, kata anak sekarang. Namun sampai kapan saya harus menghindar? Itu mudah dilakukan di dekat-dekat rumah, sebab toko bukunya kecil saja dan buku-buku baru tidak semua masuk. Dalam beberapa bulan belakangan, Togamas cabang terdekat ikut tutup. Bukan berarti saya sering belanja di sana pula, malah baru satu kali dan “hanya” beli globe. Harus diakui, acap kali jarak ke kota yang jauh perlu disyukuri.

Sepertinya niat saya ini diridhoi-Nya. Tiap kali ada pameran buku atau diskon besar-besaran, selalu pas ada halangan. Kalau bukan kerjaan yang masih jauh dari tuntas, urusan keluarga (termasuk enggannya Mas Agus bepergian keluar kompleks), yang paling standar: tak ada dana. Kemudian saya sadari, salah satu pemicu belanja kalap adalah hasrat untuk ikut tren. Ada buku baru, ingin langsung beli dan punya. Habis itu? Sampai rumah, disampuli, ditaruh dalam lemari. Kadang sampai lengket dengan buku lain karena tak kunjung dikeluarkan dari rak. Dengan cepat, perasaan bersalah tumbuh dan semakin besar. Apalagi wadah penyimpanan meluap dan rumah terasa bertambah sempit.

Kalau dipikir-pikir, buat apa saya serta-merta berhasrat beli begitu? Memang ada beberapa penulis favorit yang mengeluarkan buku baru, dan salah satu alasan “hawa nafsu” untuk segera memilikinya adalah takut buku itu ternyata tidak laku sehingga nanti-nanti sudah dicari, atau malah laku banget sehingga kehabisan sewaktu saya baru punya uang. Tapi situasi berubah. Kadang buku yang diincar sekian tahun silam, ada di depan mata saya dan diskon pula, tidak menarik lagi. Mood-nya sudah “lewat”. Dan itu menguntungkan.

Ada yang bilang, trik ampuh mengerem belanja satu ini ialah menjadi anggota perpustakaan. Saya hanya tersenyum. Itu berlaku untuk mereka yang sanggup baca cepat. Pinjam-meminjam pun bukan “saya banget” karena malah mempertinggi tumpukan. Wong kalau sedang ke luar kota atau nginap di rumah ortu, buku yang saya bawa tidak pernah tersentuh.

Lingkungan juga memengaruhi. Sekarang saya lebih banyak berpaling pada Mas Agus atau kawan-kawan yang terbukti mampu mengontrol hasrat kalap ini, supaya tidak “terilhami” mencari pembenaran atas pemborosan yang saya lakukan. Ada yang berseloroh, “Wah, kalau kamu mengurangi belanja, bisa-bisa pedagang buku gulung tikar.” kemudian mengaitkannya dengan profesi saya sendiri di bidang perbukuan. Tapi jika menuruti nafsu membabi-buta tadi, saya justru bersalah karena mengonggok buku-buku begitu saja, padahal itu dicetak/diterbitkan untuk dibaca, bukan untuk jadi pajangan.

Sampai sekarang saya masih beli buku, sih. Hadiah ulang tahun atau kamus/referensi lain yang memang dibutuhkan, bukan sekadar karena belum punya/ingin punya. Pergi ke bursa diskon kalau sempat, dan sudah pakai “kacamata” baru. Mudah sekali mengingatkan diri, “Yang di rumah juga banyak yang belum dibaca.” atau “Sudah lama nggak sempat baca buku.” seumpama dihadapkan pada mi instan namun sudah tidak ngiler lagi. Mungkin saya sudah berhasil mempraktikkan jurus yang disebut-sebut Mas Agus, yakni membunuh keinginan. Semoga.

Publicités