Sindrom Pasca Cuti

Jeda sejenak karena bepergian dalam jarak dekat atau urusan keluarga (yang pasti disempili nongkrong-nongkrong supaya tetap mengasyikkan) sudah biasa. Tepatnya, saya mulai terbiasa tidak panik dan stres meninggalkan kerjaan yang sedang digodok seperti tahun-tahun kemarin, tidak cemas editan jadi gosong. Mungkin ini berarti manajemen waktu energi saya telah membaik, walau masih sebatas kala mengerjakan suntingan saja. Bila sedang menerjemahkan, saya masih tergopoh-gopoh dan gelisah:)

Berikut efek-efek samping cuti jangka panjang (sekitar seminggu), terutama usai bepergian ke provinsi tetangga.

  1. Seperti pertanyaan Mas Agus pagi ini, “Ini sudah di rumah, ya?” Begitu terjaga dan mendengar tetangga mengobrol bahasa Jawa, saya sering menanyakan hal serupa dalam hati. Pasalnya, 80% tetangga kami memang asal Jateng dan Jatim:)
  2. Bangun lebih pagi. Silakan tertawa, tapi ini terbawa karena sewaktu menginap di hotel dan kediaman saudara, yang artinya tempat baru, fisik saya lebih siaga untuk bangun bagai alarm alami. Jam berapa pun tidurnya. Mungkin karena badan merasa asing, sekaligus ingin melihat pagi di kawasan yang berbeda, disertai rasa rikuh jika bangun siang di rumah saudara:D (Termasuk di rumah ibu saya)
  3. Klenger cicip-cicip dan akibat sering makan di luar. Sesampai di rumah, biasanya hanya makan bubur atau lauk biasa sekadar telur dadar.
  4. Malas mandi lagi. Ini otomatis begitu kembali ke rumah.
  5. Perlu membangun mood, bukan untuk melanjutkan pekerjaan, melainkan mencuci dan menyetrika. Sekarang gunung setrikaan pun masih banyak karena sebelum berangkat, saya hanya menyetrika yang perlu dibawa.
  6. Ingatan akan tanggal dan hari bertambah kacau.
  7. Ketika berkomunikasi dengan bahasa Sunda tertulis pun, saya terpapar kosakata bahasa Jawa. Khususnya dialek ngapak banyumasan, sebab ternyata kunci memfasihkan bahasa ini adalah melupakan secara total bahasa bandekan.
  8. Ketika bepergian dalam waktu dekat dan nongkrong-nongkrong dalam kota, biasanya saya ketagihan main lagi besok-besoknya. Tapi sepulang dari luar kota, rasanya melihat jalan saja tak mampu. Kecuali ke toko buku mungkin, sebab saat di provinsi lain saya tak pernah ke toko buku:)
Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s