Mewahnya Waktu Membaca

« Kamu menghilang dari dunia resensi? » tanya seseorang belum lama ini. Saya sendiri baru sadar, bahwa blog yang hanya satu kata ini pun sudah setengah bulan lebih tak diperbarui. Apalagi yang itu. Pertanda saya sudah lama tidak membaca, dalam arti santai dan bukan bahan kerja.

Ini masalah prioritas belaka, memang. Bersamaan dengan penutupan akun satu jejaring sosial khusus pembaca buku. Sebut saya lamban, tapi membaca satu buku sampai sebulan baru tamat pun, bagi saya bukan « dosa ». Meskipun bukunya « cuma » komik. Atau buku tipis. Kini, kriteria tipis buat saya bukan 200-an halaman lagi, tapi di bawah itu.

Alasan lain adalah perkara kode etik profesional. Dalam cara pandang saya, saya bukan lagi pembaca murni. Kendati saya bukan pekerja perbukuan in house, rasanya kurang enak « membedah-bedah » produk penerbit yang berlainan. Apalagi setelah saya tahu (sedikit) « urusan dapur » mereka. Kenapa yang satu bisa banyak typo, misalnya. Kenapa yang lain seperti mengulang-ulang, kenapa covernya begini dan begitu. Kalau mau disebut geser keberpihakan, boleh juga.

Ini proses yang tidak mudah. Ada yang mengatakan, bahan kerja pun termasuk bacaan. Namun belakangan, saya tak merasa « sampai hati » membeberkan apa yang bisa dengan mudah diketahui orang sebagai materi editan/terjemahan. Gatal sih ingin pajang di blog, tapi ada yang namanya aturan kerahasiaan produk baik secara tak tertulis maupun yang diatur jelas dalam Non Disclosure Agreement. Pemahaman ini makin terang saya dapatkan setelah singgah ke ruang redaksi sebuah penerbitan dan tidak diperkenankan memotret apa pun dalam ruangan itu. « Nanti ketahuan dong apa saja buku kita yang mau dikeluarkan, » jelas editor yang menerima saya di sana.

Jadi, kalau disebut menghilang, tidak tepat juga. Saya bukan resensor ahli yang berpengaruh. Masih banyak blogger buku lain yang lebih tekun, lebih disiplin, dan lebih rela meluangkan waktu untuk membaca serta meresensi secara teratur:D

 

Publicités