Behind The Book: At Last Comes Love

Pernikahan ternyata begitu penting, tidak hanya bagi kaum wanita, namun juga pria di kalangan bangsawan.

Meg, sulung empat bersaudara Huxtable, merupakan potret yang cukup familier. Ia banyak berkorban untuk adik-adiknya, menepati janji pada almarhum ayah mereka untuk membesarkan ketiga adik tersebut. Toh, sebagai manusia biasa, Meg berhak memperoleh kebahagiaan. Usia tiga puluh tahun membuat pilihannya tidak banyak, bahkan dipandang « kritis » di masa itu. Nilai tambahnya hanyalah status terhormat sebagai kakak Earl Merton dan memiliki kecantikan yang istimewa.

Uniknya, Mary Balogh berhasil menggali alasan lebih spesifik mengapa Meg harus menikah. Di sini disajikan betapa jalan meraih kebahagiaan dalam perkawinan itu sungguh berliku, memperoleh jodoh yang tepat dari segala segi, sekaligus sesuatu yang tampaknya menjadi penekanan Mary Balogh, bahwa siapa pun orangnya, apa pun kesalahannya di masa lalu, layak mendapat kesempatan kedua.

Seperti Vanessa, yang paling pertama menikah di First Comes Marriage, karakter Meg relatif tidak biasa. Ia tegas dan matang. Jadi siapakah laki-laki yang cocok untuk mendampingi wanita sedewasa Meg?

Seperti yang sudah-sudah, banyak nasihat tentang karakter manusia, pergaulan, hubungan cinta, bahkan yang berulang kali, menyangkut gosip yang dengan sendirinya akan memudar jika tidak diperpanjang, disisipkan dalam novel ini. Penyuntingannya cukup « mendebarkan » dan perlu taktik khusus karena menjelang akhir, tiba bulan Ramadan. Bagian-bagian tertentu tetap dibaca dengan « mematikan tombol rasa ». Rentang waktunya agak lama karena saya sakit sehingga terpaksa ditunda beberapa hari.

Yang menambah seru, sudah ada pembaca yang menanyakan dan tampak meminati seri ini sehingga saya bertambah semangat menyelesaikan penyuntingannya.

Publicités