Behind The Book: The Black Angel

 

Ini bukan buku perdana John Connolly yang saya baca. Sebelumnya, saya sudah « berkenalan » dengan pemikiran imajinatifnya yang tidak biasa lewat The Book of Lost Things dan Bad Men. Penulis satu ini memiliki kekhasan berlimpah darah dalam cerita.

Seperti biasa, saya browsing dulu sambil menunggu buku aslinya tiba. Mantap deh, hardcover tebal dan hurufnya besar-besar. Saya benar-benar mujur karena penerjemah The Black Angel ini tidak asing lagi, setidaknya bagi saya, yaitu Mbak Esti Budihabsari. Sepengamatan saya, beliau terbilang kampiun menerjemahkan thriller dan horor.

Bab novel ini panjang-panjang, namun bukan berarti bertele-tele apalagi boros kalimat. Karakternya juga banyak, sehingga saya harus membuat daftar khusus. Agaknya itu disebabkan keterkaitan The Black Angel dengan kisah-kisah Charlie Parker, sang mantan polisi, dengan buku-buku sebelumnya. Dalam proses penyuntingan, saya meluangkan waktu membolak-balik Every Dead Thing yang juga diterjemahkan Mbak Esti dan sudah terbit lebih dulu.

Setelah membaca buku thriller, baik dalam area pekerjaan maupun bukan, saya belakangan mendapati bahwa kisah semacam itu kerap mengandung kemuraman yang menyedihkan. Unsur kepedihan itu selalu terasa di buku dan film bergenre ini. Sejujurnya, secara psikologis The Black Angel sangat dalam dan berpotensi mencabik-cabik emosi.

Deserved or not, you’ve been punished enough. Don’t add it by punishing yourself.

The problem is that there are no small evils.

Not all that we tried to achieve was without value, and not every aspect of our lives was unworthy of celebration or remembrance

only someone involved with the devil would call at g:30 A.M.

We are all flawed in our own way

It was the silence that brought them, the sense of existences briefly halted.

« You’re going have to stop trying to change the past. »

You couldn’t save someone who didn’t want to be saved, didn’t matter how hard you tried.

« He wouldn’t make enough out of it to feed flies if it weren’t for his sidelines. »

Secara umum, novel ini membaurkan fantasi dan spiritual dengan horor yang pekat. Hanya beberapa kali saya berani menyunting malam-malam. Karena ini, misalnya:

« … and then she heard the scuffling noises coming from the roof of the house. » *mendongak ke genteng*

Namun sesuai keterangan sang penerjemah, terbukti John Connolly sangat mahir menghasilkan karya thriller yang liris. Bisa dikatakan, dari segi alih bahasa, termasuk salah satu yang paling lentur dan membuat saya banyak belajar. Bahkan saya dapat menyelesaikannya sekitar dua minggu lebih awal dari tenggat:)

Saya lampirkan juga referensi selama menyuntingnya: referensi_blackangel

Publicités