Mrs. Ali’s Road to Happiness

Penulis: Farahad Zama

Penerbit: Abacus, 2012

Tebal: 309 halaman

Desain cover: Emma Graves – LBBG

Latar cover: Richard Jenkins

« Kenapa melulu memikirkan biro jodohmu? » sepertinya hardikan Mrs. Ali itu cocok juga untuk saya, jika terus mencari-cari kemunculan biro jodoh suaminya dalam novel ini. Tidak dihapus sama sekali memang, karena bagaimanapun itu benang merah utama yang menjadikan karya Mr. Zama unik. Sekarang giliran Mrs. Ali bersuara, dengan sudut pandang yang cukup dominan namun tidak melemahkan karakter lainnya.

Dalam rumah tangga, banyak hal dapat terjadi dan potensial menjadi konflik. Kejelian Mr. Zama masih tampak di sini. Adopsi Vasu oleh Pari yang bukan beragama Hindu dipermasalahkan oleh komunitas setempat, khususnya setelah pemilihan imam masjid baru. Garapan penulis secara lebih tajam akan keberagaman dan benturan mengingatkan pada betapa variatifnya etnis India, dan bahwa selalu ada yang memancing-mancing dalam kehidupan yang sudah damai berdampingan. Rongrongan urusan Vasu dan Pari yang meletihkan tidak berhenti di sana. Sekelompok religius Hindu yang mengaku ingin « memurnikan » kembali ajaran, utamanya di benak kaum muda, berprasangka Pari serta keluarganya hendak mengubah keyakinan Vasu.

Perlahan tapi pasti, Mr. Zama bergerak dari roman kontemporer ringan ke topik yang lebih mendalam. Budaya, politik, serta kombinasi tradisi dengan keyakinan. Pernikahan tentu saja masih muncul. Saya tersenyum-senyum geli ketika seseorang bersikukuh menghadiahkan microwave untuk perkawinan cucunya, semata demi pamer karena barang itu langka di tempat tinggal baru sang mempelai. Kemudian terjadi insiden yang menyadarkan bahwa memberi hadiah harus lihat kondisi dan manfaat. Di situlah mempelai harus tegas, menimbang perasaan, dan memakai akal sehat. Seperti kata Mrs. Ali, « Showing off never leads to anything good. »

Sogok, tekanan, dan etos kerja pegawai pemerintahan khususnya layanan publik masih jadi sorotan. Saya ikut capek menyimak Mr. Ali mondar-mandir ke perusahaan listrik (PLN di sini) untuk menyampaikan keluhan, membawa segepok dokumen, tapi disuruh menunggu orang yang datang siang sampai membuang waktu seharian padahal banyak karyawan lain yang malah mengobrol di depan hidungnya. Mrs. Ali terang-terangan mengomeli pembaca meteran listrik yang usil dan mempersulit keluarganya. Apa penyebabnya? Silakan Anda baca sendiri.

Terkait biro jodoh, Mr. Ali masih menunjukkan kharisma seorang pelindung yang pengertian. Ketika orang yang ditengarai bisa mengacau (karena tampak mabuk) datang, lelaki ini spontan berbohong bahwa rumahnya bukan biro jodoh yang dicari. Mr. Ali dan istrinya kian sigap menghadapi problematika klien, termasuk anggota baru yang kelihatan sejahtera, orang terpandang, namun masih membutuhkan bantuan bironya untuk mencarikan jodoh. Ramanujam pun mengatakan, semakin lama Aruna bekerja untuk Mr. Ali, istrinya semakin filosofis.

Kembali ke Mrs. Ali. Dia kian merebut hati saya, kala seseorang yang masih terhitung keluarga dekat membujuknya. Menurut saudara satu itu, sekeras-kerasnya Mr. Ali, sesungguhnya Mrs. Ali-lah yang didengarkan di rumah tersebut. Dengan tegas Mrs. Ali menolak memengaruhi sang suami melakukan hal yang bertentangan dengan prinsip pribadinya. Empat jempol. Saya ingat salah satu episode Mentalist tentang istri pengacara kriminal yang tewas dalam tugas. Sang istri bukan tidak memperingatkan, namun menghormati suami yang berpendirian bahwa semua orang berhak dibela dalam hukum. « He has principles, you know. »

Banyak pelajaran yang saya raup dari Mrs. Ali’s Road to Happiness. Novel yang menghangatkan hati, tentang cara kompromi, pasangan-pasangan yang kompak, suami yang membantu istri melakukan pekerjaan rumah tangga, istri yang membela kehormatan suami, kasih sayang ibu pada anak, persahabatan, dan macam-macam lagi. Di salah satu bab, ada mitos untuk tidak menyebut-nyebut ular setelah hari gelap karena justru « mengundang ». Lebih baik mengumpamakan dengan « tali », katanya.

Any objections to a marriage must be raised before the wedding. Once it had been solemnised, everybody must forever hold their peace. No good could ever come from questioning a match once a couple were married.

(hal. 43)

Untuk Zaizai yang jauh-jauh membuahtangankan buku ini, terima kasih banyak:)

Skor: 4,5/5

Publicités