My Life as Video Music Director

pengenbuku.net

Penulis: Haqi Achmad

Penyunting: Gina S. Noer

Penerbit: Plotpoint Publishing (PT Bentang Pustaka), 2012

Tebal: viii + 136 halaman

Harga: Rp 45.000,00

 

Pada suatu masa ketika saya sedang ruwet menghadapi perkuliahan skripsi, saya gemar sekali membaca Majalah Hai. Kala itu, isinya belum ditebari selebritas dalam dan luar negeri seperti sekarang. Banyak profil « tidak terkenal » atau masukan-masukan dalam artikel atau liputan khusus yang menggugah semangat. Kebanyakan mengenai remaja dan anak muda berprestasi atau mulai belajar berdikari. Ada yang menang lomba desain Clip Art tingkat internasional, ada yang mengeruk pengalaman di EO, dan macam-macam lagi. Tentu ada selipan ujaran para praktisi. Salah satu yang saya ingat, Seno Gumira Ajidarma mengatakan bahwa internet sebaiknya dimaksimalkan untuk menggali informasi dan memperkaya wawasan. Rizal Mantovani pun berkata, percuma punya ponsel jika hanya untuk gaya-gayaan. Ponsel baru berguna bila dipakai mendiskusikan tugas kuliah atau kerja sambilan.

Sejak itu, saya sudah mencari buku-buku nonfiksi (fiksi juga, meski jumlahnya minim) yang bermanfaat praktis untuk anak muda. Oke, saya memang termasuk tante-tante, namun masih butuh asupan energi dan suntikan semangat dari bacaan semacam itu. Karenanya, saya tidak menyesal sedikit pun memilih buku bersampul hijau Gedebage ini (orang Bandung pasti tahu maksudnya). « Buat apa, Rin, memang kamu tertarik menerjuni bidang itu? Atau mau riset novel tentang sutradara video klip? » Yah, terlalu banyak alasan bagus untuk mengenal suatu profesi, menurut saya. Di antaranya, penyegaran otak.

Buku Haqi Achmad, yang mengaku penulis galau, ini jeli menilik situasi remaja sekarang yang relatif lebih akrab dengan jesos dan gadget tinimbang buku. Font-nya dibuat jumbo. Kalau tidak salah, dalam buku tipografi yang saya pernah baca, ini teknik yang bermanfaat guna menyampaikan informasi singkat namun melekat. Uraian dibuka dengan teori-teori, kebergunaan video musik, sedikit sejarah, sampai menuju wawancara yang bukan main menariknya. Saya tidak terlalu mengenal ketiga sutradara dalam buku ini, namun tidak penting. Pemikiran merekalah yang mengesankan.

« Kalau lo dikasih duit budget syuting 50 juta, lo bisa ngasih orang yang ngangkat lampu dengan resiko kesetrum dan mati ketiban lampu itu uang yang layak? Enggak bisa. Lo enggak bisa ngasih mereka uang yang layak sedangkan resiko mereka besar. »

(hal. 58)

Di sampul belakang, tertera sejumlah poin bahwa pembaca membutuhkan buku ini karena beberapa hal. Di antaranya « Mau pacarin model video clip. » Sebenarnya itu sama sekali tidak disinggung oleh penulis maupun para narasumber. Bahkan mereka menegaskan bahwa glamor bukan tujuan menekuni profesi sutradara, terutama Sim F yang mengaku jarang menerima job videoklip karena punya standar tertentu dan Angga D. Sasongko yang menyebut diri kurang laku lantaran tidak suka diatur.

Unsur favorit saya adalah uraian rinci ihwal panjang dan berlikunya proses menjadi sutradara. Renny Fernandez menuturkan bahwa dia mulai dari talent coordinator, menanjak ke asisten produser dan seterusnya. Masing-masing « mata rantai » mengandung tugas yang tidak mudah, tentu melimpahkan pengalaman menarik juga. Intinya, jarang saya temukan (bahkan hampir tak pernah) cerita selengkap ini. Kebanyakan relatif mengiming-imingi, membombastiskan segi positif dan kesenangannya, kurang mencorongkan kerja keras yang sudah menjadi syarat. Misalnya, Sim menceritakan bahwa di permulaan karier dia tidak punya waktu untuk main dan bergaul. Acap kali, dalam berbagai situasi, kerja « memaksa » kita tersisih dari pergaulan. Namun itu pengorbanan yang setimpal bila kita ingin menyeriusi suatu bidang.

Kejujuran dan rasa percaya diri yang terpancar dalam keterangan setiap narasumber sungguh mengagumkan. Berikut pernyataan Renny, yang mengaku sempat panik kala kebanjiran job gara-gara kurang pede, ihwal diskriminasi wanita:

« Pertama, aku orangnya enggak peduli dengan feminisme. Karena buatku, ketika kamu bicara feminisme jusrru kamu malah mengotakkan gender itu sendiri. Ketika kamu berjuang untuk feminisme, itu malah kamu mempermasalahkan bahwa di dunia ini ada bias gender. Yang harus kamu lakukan adalah ya lakukan aja, tanpa merasa kamu cewek, tanpa merasa kamu didiskriminasi. Aku tidak pernah merasa didiskriminasi. »

(hal. 91)

Yang tak kalah menarik, ketika mereka ditanya perihal prospek menjadi sutradara dan jaminan masa depan. Angga balik bertanya, « Lo mau hidup seberapa boros? » Sedangkan Sim menjawab simpel, bahwa risiko idealis adalah kurang job sedangkan jika ingin order mengalir terus, tentu kompromi harus selalu dilakukan. Mereka sepakat bahwa selagi muda, khususnya belum berkeluarga, manfaatkan kesempatan mengeksplorasi diri dan kreativitas. Mumpung belum ada tuntutan dan tanggung jawab menafkahi keluarga.

« Kamu tidak boleh menunda langkahmu, tapi bukan berarti kamu menjadi asal jalan. »

(hal. 137)

Skor: 4/5

Sumber cover

Publicités