Behind The Book: The Casual Vacancy

 

Limpahan berita, ulasan, dan artikel promosi tatkala buku asli J.K. Rowling yang memutuskan berganti genre ini tak kalah memabukkan dengan tawaran ikut menerjemahkan novel tersebut. Rasanya seperti mimpi, ketika ngobrol-ngobrol ringan via YM dengan Mbak Esti kemudian diajak ikut serta dalam tim alih bahasa The Casual Vacancy.

Seperti yang sudah diketahui, banyak aspek mendebarkan dalam penerbitan buku ini. Butir-butir kesepakatan yang ketat, utamanya demi menjaga kebocoran dan pembajakan, salah satunya. Sebenarnya terbilang aturan tak tertulis yang lumrah, agar penerjemah, editor, dan siapa saja yang terlibat ekstra hati-hati menjaga berkas materi. Saya diberi opsi berupa naskah digital atau printout. Namun yang digital pun tidak boleh dikirimkan melalui e-mail, melainkan harus di-copy ke flashdisk saja.

Mudah sekali memvisualkan cerita ini dalam benak. Misalnya ketika Parminder berhadapan dengan Howard, saya membayangkan aktris India pemeran The Japanese Wife dan Gene Hackman. Karena ada tokoh dokter yang praktik lumayan rinci, saya memperoleh acuan dari sini.

Sempat ada ramai-ramai kasting meski JK Rowling beranggapan novelnya satu ini tidak dapat ditafsirkan dengan baik dalam film, menurut saya yang paling pas adalah Kajol sebagai Parminder. Lainnya terlalu cantik, terutama Terri:D

Percaya atau tidak, ini juga referensi. Anda yang sudah membaca bukunya tentu mengerti kaitan rujukan tadi dengan bagian cerita.

Alhamdulillah, tidak terlalu banyak hambatan teknis ketika menggarap TCV. Mati lampu « hanya » sekali dan tidak sampai berjam-jam, kemudian jaringan internet cukup bersahabat. Nuansa muram novel ini yang amat kental memang sangat memengaruhi perasaan, sehingga saya « melarikan diri » sejenak nonton DVD. Selain Cabin in the Woods, saya nonton The Moth Diaries dan menyaksikan ulang Hide and Seek menjelang 30-an halaman terakhir. Beberapa hari sebelumnya, saya sempatkan nonton The Blind Side di televisi. Salah satu elemen cerita TCV berkaitan dengan tema film tersebut.

Ekspektasi masyarakatlah yang berpotensi menimbulkan tekanan tersendiri. Tapi saya « nikmati » saja ingar-bingar yang kadang penuh « drama » itu. Salah satu yang membuat senyum-senyum, ada yang berharap mendiang Ibu Listiana Srisanti menerjemahkan novel ini. Siapa pun penerbitnya, katanya. Toh penunjukan kami disetujui oleh pihak agen JK Rowling yang membaca CV dan berkomentar positif. Persisnya bagaimana tidak dapat saya rinci, karena dalam e-mail tertera:

No-one other than the intended recipient may place any reliance on the contents of this email.

Saya bukan penggemar JK Rowling, membaca Harry Potter pun belum sampai tuntas serinya. Ada keuntungan tertentu dalam hal ini, sehingga saya tidak « dibayang-bayangi » Harry Potter dan pernak-perniknya sebagaimana tujuan sang penulis untuk move on. Diksinya luar biasa, banting setirnya berhasil dengan gemilang, dan saya amat terkesan sehingga membaca novel ini dua kali.

Publicités