My Life As Film Director

bukukita.com

Penulis: Haqi Achmad

Penyunting: Gina S Noer, Ardito Wahyu O

Penerbit: PlotPoint (Bentang Pustaka), 2012

Tebal: vi + 186 halaman

 

Bicara tentang sosok-sosok yang mondar-mandir di pelbagai media, termasuk sutradara-sutradara muda ini, membutuhkan penggalian agar jatuhnya tidak « biasa ». Segi personal semata disorotkan pada latar belakang para narasumber, apa yang menginspirasi mereka menjadi sutradara, dan hal-hal lain yang relevan dengan kepentingan topik buku.

Seperti My Life As Video Music Director, Haqi Achmad masih mengetengahkan bahasa wawancara yang utuh ketika mengutip pernyataan para narasumber. Entah untuk menghindari salah tafsir atau bukan, kalimat-kalimat cakapan tersebut dapat mencairkan bahasan ihwal dunia film yang memiliki « bahasa » tersendiri. Toh, penulis menyuguhkan tahap-tahap yang perlu diketahui dalam proses pembuatan film dengan ilustrasi yang simpel dan mudah dipahami (hal. 50-53).

Bagi saya pribadi, bagian paling mengasyikkan tatkala keempat sutradara bercerita mengenai pengalaman masing-masing. Saya jadi tahu bahwa Brownies diharapkan menyetarai AADC, Garuda di Dadaku merupakan film panjang pertama Ifa Isfansyah setelah sebelumnya lebih menyukai film-film pendek, skenario Janji Joni ditulis tangan di kelas, serta pengakuan jujur Joko Anwar akan sound film tersebut yang hancur.

Yang membuat trenyuh, uraian berikut ini di subbahasan Film Adaptasi Novel (hal. 146):

Hanung merasa dirinya dijadikan terdakwa oleh penonton yang merasa dirinya hakim.

Ada pula hal-hal nonteknis yang mesti dikuasai sutradara, contohnya komunikasi dengan pemain, pendekatan dengan pemain anak, hambatan mendekati pemain yang lawan jenis karena rentan mengundang prasangka, serta kemampuan mendengarkan orang lain. Uniknya, dalam proses reading, Joko Anwar tidak memberikan skrip peran yang seharusnya agar tidak « basi ».

Hanya itu? Tidak. Para narasumber mengingatkan pentingnya kemampuan presentasi, berhubung di Indonesia tidak ada agen yang mencarikan job. Di samping momen menyebalkan yang meliputi benturan dengan produser, mereka menuturkan trik-trik mengatasi bad mood di kala syuting. Keempat sutradara ini pun kompak bahwa penghargaan bukan tujuan utama mereka.

Skor: 3,5/5

Sumber cover: bukukita

 

Publicités