Nur Aini: Lebih Baik Kerja Teliti Daripada Terbirit-birit Lalu ‘Diistirahatkan’

Bisa dikatakan, hampir tiap hari saya mengobrol dengan Nui (atau Aini), demikian panggilan penerjemah dan editor freelance satu ini. Bercakap-cakap dengan istri Sam Umar yang menggemari Donal Bebek ini sangat menyenangkan, ada saja yang bisa kami diskusikan. Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tanyakan, tapi bisa-bisa artikelnya kepanjangan. Berikut obrolan kami tentang terjemahan, suntingan, dan aneka perniknya.

1. “Tertekankah” Nui ketika menggarap terjemahan/editan buku yang sudah sering ditanyakan pembacanya?
Mungkin. Agak terpengaruh sih kalau baca pertanyaan “Buku X kapan?”, “Kapaaan?”, “Mana janjimu?”, atau semacam itu. Padahal toh, bukan aku yang menentukan jadwal terbit. Toh, editor in-house juga belum nagih. Toh, lebih baik kerja dengan teliti dan minim kesalahan dibanding terbirit-birit tapi bikin editor dan proofreader jengkel dan habis itu ‘diistirahatkan’.

2. Sewaktu menerjemahkan Anne of The Island, Nui mengerjakannya bertiga. Apa kendala kerja kelompok seperti itu, dan apa saja manfaatnya?

Manfaatnya, itu mendekatkan kami bertiga yang sama-sama anak baru. Kerja kelompok memang menyenangkan. Aku lebih suka kerja individu, tapi bisa diajak kerja kelompok :)

Berhubung waktu itu aku menerjemahkan sepertiga bagian awal, rasanya tak terlalu ada kendala. Enak jadi yang pertama, peng-awal cerita. Tapi sempat ada kasus. Kalau tak salah waktu itu Mbak Esti (Esti Ayu Budihabsari, editor Qanita – RNB) pegang sepertiga bagian terakhir, lalu satu kalimat soal hidung gitu. Dia bingung. Nanya ke aku dan Indra. Kami sama bingungnya. Nanya ke bos, bos juga sama bingungnya. Aku kepikiran. Eh, ternyata di bagian aku, dong. Aku lupa karena di bagianku itu rasanya memang tidak penting.

3. Pernah ada penerjemah yang mengundurkan diri dari tes buku remaja karena merasa sudah tidak muda lagi. Menurut Nui, berpengaruhkah usia pada kemampuan mengalihbahasakan genre tertentu?

Semoga tidak. Aku masih mau nyoba dites untuk nerjemahin buku dongeng atau buku anak :) Walaupun katanya menerjemahkan buku anak itu susahnya luar biasa….

Mungkin karena tidak biasa saja? Misalnya terlalu sering menerjemahkan dan membaca genre dewasa dengan bahasa yang khas genre itu tapi tak pernah membaca buku remaja yang bahasanya lain, wajar kalau jadi kaget karena “dunia”-nya beda.

4. Ketika mengedit dan penerjemahnya sudah senior, adakah beban tertentu yang timbul? Bagaimana cara mengatasinya?
Tak ada :) ) Mungkin karena nggak kenal.

5. Sulitkah Nui beralih dari nonfiksi (yang banyak ditangani semasa ngantor dulu) ke buku fiksi? Apa tipsnya?
Nggak terlalu. Waktu di kantor dulu juga biasa pegang nonfiksi dan fiksi. Hehehe. Tapi mungkin tak berasa sulit karena bahasa keduanya masih mirip kali, ya? Mungkin kalau nonfiksinya filsafat lalu fiksinya remaja gaul, aku bakal jungkir balik, deh. :D

6. Bagaimana pengaruh bersuamikan sesama penerjemah, walau bukan penerjemah buku, terhadap pekerjaan dan proses kreatif sehari-hari?
Bisa nanya, bisa curhat, bisa ketawa bareng. Misalnya aku sedang nerjemahin terus ketemu kalimat lucu atau permainan kata, aku bacain ke suami, trus kami ketawa bareng. Habis itu aku pusing, nerjemahinnya gimana. Suruh dia mikir juga. Ntar dia kasi usulan… kadang langsung klop. Enak kalau gitu. Kadang nggak klop, akhirnya kami bantah-bantahan. Hehehe :D Gapapa. Kami jarang bertengkar. Huahahaha :) )

7. Rata-rata berapa buku yang Nui baca untuk kepentingan riset sewaktu menerjemahkan dan menyunting? Atau cukup mengandalkan Google saja?
Wah, berapa, ya? Tak pernah ngitung.
Biasanya Google dan kawan-kawan itu kurang. Tapi tergantung buku yang sedang digarap, sih. Kalau yang biasa, mungkin cukup pakai Google dan kawan-kawan, tanya suami, tanya teman, lempar di status FB, baca buku dan nonton film yang genrenya sama, cari majalah atau koran. Kalau yang berat, seperti Meluha… itu aku sampai menyengajakan diri ke toko buku demi mencari buku lain karena semua yang tadi disebut terasa masih kurang.

8. Kamus apa yang menurut Nui wajib dimiliki penerjemah dan editor?
– Kamus Inggris-Inggris. Aku pakai Encarta yang lengkap dengan Tesaurus dan kamus Prancis, Itali, Jerman, serta Spanyol… serta ensiklopedia (walaupun lebih sering memanfaatkan Wiki).
– Kamus Inggris-Indonesia
– Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia. Aku punya versi cetak, tapi setelah dapat versi luringnya jadi lebih sering pakai yang luring :D
Kalau lainnya sesuai kebutuhan :)

9. Adakalanya penerjemah yang merangkap editor harus menekan ego sewaktu menyunting karya penerjemah lain. Demikian pula editor yang ketika menjadi penerjemah dan otomatis  disunting/diperiksa orang lain.
Apa tips Nui mengenai ini?

“Kita ini satu tim yang punya misi memuaskan pembaca.”
Biasanya yang bikin ego itu muncul gaya bahasa, ya? Kadang memang geregetan, sih membaca terjemahan yang “gaya bahasanya kok nggak aku banget, ya?” Tapi aku ingat senior pernah bilang penerjemah itu posisinya seperti penulis. Gaya bahasa itu penerjemah yang menentukan. Selain itu, menurutku pribadi, aku cukup fleksibel untuk mengikuti gaya bahasa penerjemah :D
Soal istilah, biasanya aku tak merasa perlu mengganti. Ikut penerjemah saja. Kecuali kalau aku sangat yakin istilah yang dipilih penerjemah benar-benar tidak tepat lalu aku menemukan yang pas. Atau kalau istilah yang dipilih penerjemah berpotensi membingungkan pembaca. Kalau itu terjadi, baru deh diganti. Tapi sejujurnya aku lebih suka kalau tak perlu melakukan ini, cape search and replace-nya :( Saat jadi penerjemah yang karyanya disunting orang lain… aku cuma mikir, “karyaku belum sempurna. Editor lebih jeli. Proofreader lebih jeli lagi.”

Harapanku sih bisa jadi penerjemah yang “bisa dilepas”, maksudnya terjemahanku tak perlu diedit, kalau bisa tanpa typo :D

Publicités