Pengalaman Wawancara Menjadi Editor In House

Saya terkenang suatu tahun, sebuah penerbitan membutuhkan editor in house yang bersedia segera mulai bekerja. Waktu itu saya langsung datang untuk wawancara, tapi terbilang ngobrol-ngobrol singkat dan gambaran umum penerbitan yang tidak terlalu menarik diceritakan. Demikian pula kisah keponakan yang baru lulus dari fakultas yang “relevan” (bukan karena itu dia melamar, tapi memang meminati perbukuan) dan menempuh tes sebagai editor di penerbitan terkemuka di kota lain. Dia baru sampai tahap menerjemahkan saja, lalu gugur.

Seorang kolega editor in house berbaik hati menuturkan pengalaman wawancaranya, yang menurut saya seru. Saya ingin tahu karena membayangkan (dan meyakini) tes serta wawancara di penerbitan tentu berbeda dibanding bidang lain yang mirip sekalipun.

Sewaktu dipanggil, teman satu ini menjalani tiga jenis tes. Menerjemahkan, menyunting, dan menulis. Menerjemahkannya pun bukan sembarangan, melainkan novel klasik yang sangat terkenal (sekaligus tersohor berat gaya bahasanya). Yang harus ditulis adalah materi promosi buku, dengan judul buku bebas.

Dia juga diuji menulis resensi. Kali ini, yang disodorkan adalah beberapa buku terbitan calon kantor. Setelahnya, dia diwawancara oleh manajer redaksi. Wawancara tersebut mencakup obrolan ihwal dunia penerbitan, tugas editor in house, dan pertanyaan akan pengalaman kerja serta motivasi kolega tersebut untuk menjadi editor di sana. Sesuai tebakan saya, sang manajer redaksi bertanya apa saja buku terbitan mereka yang sudah dibaca dan kesan-kesannya.

Di samping obrolan soal buku dan deskripsi kerja, kolega ini diajak berbincang-bincang mengenai sedikit latar belakang pribadi, keluarga, dan beberapa hal yang tercantum di CV. Jadi pelajarannya, cermatlah menulis CV karena pasti diperhatikan oleh yang berkepentingan.

Sekadar tambahan, kolega ini memilih berterus terang ihwal buku yang disukai dan kurang disenanginya, sehingga tugas di kemudian hari sebagai editor disesuaikan dengan preferensi tadi. Tidak seratus persen memang, sekali-sekali dia diserahi tanggung jawab menangani buku yang “asing” baginya. Yang saya catat adalah ucapan sang editor, “Pekerjaan yang kita sukai bukan berarti tidak sulit. Namun yang kurang disenangi pasti lebih berat lagi. Karenanya, kita perlu “berpaling” ke tugas semacam itu sesekali, agar bisa bersyukur dan tidak panik menghadapi masalah di bidang yang disukai tadi.”

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s