The Accidental Bestseller

Penulis: Wendy Wax

Penerjemah: Maria Renata Wilson Perdana

Editor: Prisca Primasari

Proofreader: Enfira

Penerbit: Qanita

Tebal: 676 halaman

Cetakan: I, April 2012

kaifa.mizan.com

Fiksi tentang penulis dan kehidupan personal berikut profesionalnya relatif masih sedikit, walau bukan berarti belum ada. Apa yang menarik dari novel The Accidental Bestseller ini?

Penulis juga manusia. Penekanan itu terasa sekali dari bab ke bab, menghadirkan empat karakter sekaligus yang menekuni profesi sama. Pertemanan mereka, status, masalah pribadi masing-masing, diskusi, dan kerja sama. Bagusnya, di mata saya, karakter-karakter ini tidak lagi muda, termasuk Kendall Aims yang menjadi sorotan sentral, bahkan Faye Truett yang sudah punya cucu. Pengarang seperti menyisipkan pesan implisit bahwa tak ada kata terlambat untuk memulai karier menulis. Berlainannya genre yang digarap Kendall, Faye, Mallory, dan Tanya berikut kadar kepopuleran masing-masing menambah warna cerita.

“Yang paling menjengkelkan adalah bahwa kau ini teman yang luar biasa baik, sehingga aku tidak punya alasan sedikit pun untuk membencimu.” (hal. 167)

Kekariban, apalagi di antara wanita, harus diakui memiliki segi-segi sensitif dan rawan gesekan. Berteman bukan berarti tak pernah bentrok, selalu rukun dan sependapat.

Setiap kata baginya adalah pertempuran, dan setiap detik yang ia habiskan di depan komputer adalah kemenangan yang diraih dengan susah payah. (hal. 167)

Bukan karena ladangmu lebih rimbun, tapi karena aku takut ladangku sudah tak menghasilkan lagi. (hal. 168)

Kembali pada sisi manusiawi penulis tadi, keempat penulis ini bisa dikatakan bergantung pada pekerjaan mereka. Kebanyakan mengandalkannya sebagai nafkah, selain mengobati diri, memenuhi kebutuhan untuk meraih pencapaian, sehingga jelas kerja keras amat mutlak menjadi syarat. Tidak mengherankan bila kegiatan kreatif mereka dengan segala keunikannya bisa menyinggung orang terdekat, membuatnya merasa dinomorentahkan. Toh, menulis untuk memperoleh uang bukan “dosa”.

Wendy Wax melontarkan dialog, perumpamaan dan kalimat-kalimat cerdas yang membuat novel ini kian sayang untuk diletakkan barang sejenak.

“Aku tidak tidur, hanya berpikir dengan mata tertutup.” (hal. 184)

“Kalau kau masih ingin jadi temanku, kau harus berhenti membaca pikiranku.” (hal. 204)

Bagian-bagian tertentu dalam kepenulisan boleh jadi tidak asing bagi yang menerjuni bidang ini. Serunya, saya tetap suka membaca alinea tersebut dan menyelaraskannya dengan dunia penerjemah serta editor, yang hanya berbeda tipis.

“Ada satu aura misterius dalam kehidupan penulis, walaupun ini mungkin profesi yang paling sederhana di dunia. Berjam-jam menghabiskan waktu di depan komputer sendirian, keraguan yang menyelip, dan naik-turunnya bisnis itu sendiri.”

“Kau kurang mandi dan menjalani perawatan selama mengejar tenggat, ketika kau tidak meninggalkan komputermu selama berhari-hari dan ending buku itu mulai tercurah tanpa henti.”

“Atau yang lebih buruk lagi… ketika kau begitu dekat dengan mengetik kata “Tamat”, dan kau tak bisa memikirkan apa pun kecuali menyelesaikannya, tapi tiba-tiba kau harus berhenti bekerja, atau membawa anakmu ke suatu tempat.”

(hal. 246)

The Accidental Bestseller merekam seluk-beluk penulisan berikut yang terkait, khususnya tentu penerbitan buku, secara gamblang dan realistis. Tidak ada yang namanya penulis “mapan”, ada tenggat teratur, citra di pasaran, pantauan media, kolaborasi dengan bagian promosi, ditambah lagi pernak-pernik yang tampak “sepele” namun tidak diketahui banyak orang seperti urusan sampul (hal. 266), rasa takut akan kehilangan pekerjaan yang membuat penulis memaksakan diri (hal. 299). Memang ada unsur-unsur yang tidak familier di perbukuan Indonesia, seperti agen penulis. Kendati demikian, beragam hal bisa dipelajari dan terbukti bahwa di mancanegara sekalipun, ini bukan bidang yang mudah dan sekadar gilang-gemilang kemudian mencetak banyak uang. Bila bukan karena buku ini, barangkali saya tidak akan pernah tahu kasus heboh James Frey, penulis yang menjadi tamu Oprah Show.

Cerita berbingkai yang disajikan Wendy Wax kian tidak biasa dengan adanya elemen ghostwriter, profesi yang juga belum akrab di masyarakat kita, berikut konsekuensi dan kendala-kendalanya. Masih ada lagi internal penerbitan, yang dengan jeli memotret sudut berbeda daripada buku-buku sejenis semisal The Devil Wears Prada dan Because She Can. Pengetahuan meyakinkan tim penerbitan sebelum rapat editorial dan siasat Lacy, asisten editor yang kekejaman bosnya mengingatkan saya pada hubungan kerja Andrea dan Miranda di buku Lauren Weisberger, bagi saya merupakan sesuatu yang baru. Di sinilah terlihat perlunya novel ini dibaca banyak orang, agar tidak lagi gampang menyimpulkan akan proses terbitnya sebuah buku dan melekatkan stigma semena-mena pada (praktisi) penerbitan beserta bisnisnya. Setegas ucapan Dana di hal. 519,

“Fiksi adalah tulisan yang sangat subjektif dan sangat sulit dipromosikan.”

Singkat kata, The Accidental Bestseller adalah novel yang kaya. Saya sampai “melawan” kebiasaan, duduk membaca sampai tamat dan tidak sambil rebahan.

Skor: 4/5

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s