Nung Nurchasanah: Penerjemah/Editor Sebaiknya Tidak Takluk Pada Mood

Meja kerja Nurcha dan sang suami yang juga freelancer

1. Andai bisa memilih spesialisasi, Nur ingin mengkhususkan pada genre atau topik buku apa?

Hehehe, ini boleh cerita dulu dan ngelantur, ya.
Keinginan terdalam sebenarnya ingin ke fiksi. Jadi teringat pas dulu baca cerpen dan novel pas masih SMP. Wah enak kayaknya jadi orang yang pertama bisa baca duluan sebelum terbit. Seperti dubber, yang bisa nonton duluan, sebelum film tayang. Dulu masih belum tenar profesi editor. Jadi, sejak awal, sebenarnya tidak tergerak untuk jadi penulisnya, tapi jadi orang yang pertama membacanya. Nah, bisa jadi karena itulah, pas lulus kuliah di Biologi Undip, bukannya ngelamar jadi dosen atau guru, tapi ngelamar jadi wartawan di Radar Cirebon. Sudah lolos seleksi kedua waktu itu, tapi Bapak (alm) enggak kasih izin untuk kerja, malah nyuruh kuliah. Ya, saya pun nurut kuliah. Di kampus ketemu dengan Prof. Ali Khomsan, yang tulisannya sering banget nongol di media massa, Kompas, terutama. Nah, dari sana baru muncul keinginan nulis artikel di koran. Tujuannya, selain rasanya keren (apalagi bisa masuk Kompas), tentunya honornya juga lumayan. Hahaha, tujuan yang buruk. Saya pun keasyikan riset dan cari bahan untuk nulis artikel. Kadang diterima, seringnya ditolak.
Oh, satu lagi, semasa di IPB saya menemukan buku-buku bagus. Salah satunya adalah buku Nutrition Concept and Controversies. Saya sukaaaa sekali buku itu, oh, malah jatuh cinta. Sangaaat cinta buku itu, saking cintanya buku itu sering dibaca sampai akhirnya lecek karena keseringan dibuka dan dibaca dan selalu dibawa ke mana-mana (sempat nomaden jadi editor, dari Jakarta, Bandung, Jakarta, balik lagi  ke Bandung).
Dari situ mungkin, saya jadi terilhami, wah, kalaupun saya belum bisa nulis tentang ilmu gizi, (sesuai kuliah di IPB), setidaknya saya bisa menjadi penerjemahnya, kalaupun tidak menerjemahkannya, saya bisa menjadi editor yang membantu kelahiran buku itu. Jadi editor fiksi, enggak kepikiran sama sekali. Pengennya jadi editor di bidang ilmu gizi dan ngedit buku Nutrition Concept and Controversies (masih belum kesampean sampe sekarang … hahaha).
Lulus kuliah dari IPB, dengan sadar sepenuhnya, saya melamar menjadi editor di beberapa penerbit. Nyangkutlah saya di salah satu penerbit buku perguruan tinggi di Jakarta. Harapan besarnya, bisa ngedit buku itu, tapi harapannya belum terkabul, saya dipasrahi buku-buku keperawatan dan metode penelitian. Tugasnya diterima dan dikerjakan dengan baik, sembari mengajukan buku Nutrition itu untuk diterjemahkan dan dibeli rights-nya. Sebelum resign, (lebih karena alasan capek karena jadi komuter Jakarta-Bogor yang berangkat masih gelap dan pulang sudah gelap) bukunya sudah ada, tapi entah jadi diterjemahkan atau tidak.
Nah, sepanjang menjadi komuter Bogor Jakarta itu, muncullah kembali keinginan jadi editor fiksi. Kenapa? Karena dalam perjalanan dari stasiun Pasar Minggu menuju kantor pasti ngelewatin MP Book Point di kawasan Jeruk Purut (di sini lemon tea dingin atau panasnya uweeenaak banget). Dan di sanalah aku menghabiskan lima persen uang gaji pertamaku untuk membeli buku Sang Pemimpi miliknya Andrea Hirata. Mata pun hijau ketika melihat banyak buku fiksi baik lokal maupun terjemahan. Dari sanalah saya baru pengen pindah haluan jadi editor fiksi karena sepertinya dunianya lebih “berwarna”.

Bukannya nonfiksi tidak berwarna, tapi rasanya kadang jemu. Belum lagi untuk mengkaji atau menemukan “nyawa” satu paragraf nonfiksi harus ngubek-ngubek berbagai referensi. Ya, fiksi juga begitu sebenarnya (malah lebih sulit fiksi mungkin) karena bahasa di fiksi harus diolah sedemikan rupa.
Ah, jadi bingung. Hihihi. Intinya, kalo sekarang pingin lebih ke fiksi, supaya bisa belajar untuk rada “ngayay” sedikit dalam berbahasa alias mengasah rasa bahasa. Karena selama ini terlalu straight alias terlalu lurus. Mungkin karena itu juga malah lebih dipercaya ngedit naskah nonfiksi. Malah suami mengatakan bahasa saya cenderung kaku jika mau jadi editor fiksi. Hihihi, entahlah.

2. Adakah kontribusi ilmu yang diperoleh di bangku kuliah terhadap penerjemahan/editan selama ini?

Banyak banget kontribusinya. Malah saling melengkapi. Hal-hal yang semula ketika kuliah hanya sepintas lalu tahu, jadi bisa lebih mendalami ketika mengedit. Dan hal-hal aneh di naskah yang tidak sesuai dengan fakta (sesuai ilmu pas kuliah) bisa langsung terendus. Langsung dapet hunch gitu kalo ini ada yang aneh. rasanya bukan gini. Dan untuk memastikan tetap harus membaca lagi fakta yang dituliskan.

3. Hobi apa yang Nur tekuni di waktu senggang atau ketika jenuh, pernahkah terhanyut keasyikan mengerjakannya sehingga harus « memaksa diri » melanjutkan pekerjaan?

Kalau sekarang, sedang hobi dagang. Hati terasa riang gembira kalau pergi belanja buku, kopi, dan benang. Meskipun uang terbang, tapi pulang membawa benang dan buku serta mencium harumnya kopi aroma rasanya pusing pun hilang hahaha.

Pernah banget! Terutama kalau naskahnya sulit. Ketika ngedit cepet banget bosennya. Kalo enggak inget singa mati, mah mending ditinggal ngerjain yang lain. Biasanya udah mulai panik ketika sudah ada koling-koling dari editornya. Hihihi, tepat seperti gambar yang pernah diposting di wall fb-nya mbak Rini. [Saya sendiri lupa gambar mana itu:p – RNB]

4. Setelah terjun menjadi full time freelancer, apakah Nur masih punya waktu membaca buku sebagai hiburan atau bersantai?

Masih. Malah rasanya bisa lebih menikmati bacaan ketimbang pas masih kerja. Kalau lagi senggang, bisa baca buku, keliling cari buku yang bagus. Mengulang bacaan yang dipengen. Bisa hunting benang eh salah, buku. Hahaha.

5. Lebih suka kerja pagi hari atau malam sambil begadang?

Dua-duanya suka. Pas lagi dapet mood-nya aja. Cuma kalo pagi agak riweuh, mengingat merasa punya kewajiban harus masak, cuci piring, cuci baju dan lain-lain. Jadi biasanya kalau pagi kerja, bangunnya dini hari, sekitar pukul 2-3, kerja, sampe subuh, lanjutin bentar. Kalo udah jam 6 udah enggak konsen kerja. Biasanya potong masak dll dulu baru mulai kerja lagi sekitar jam 10-an, tentunya kalau tidak ada jadwal belanja hahaha. 
Kalo malem abis makan malem, kalo on, biasanya dihajar aja terus ngerjain sampe ngantuk. Mumpung lagi on fire.

6. Apa kamus pertama yang Nur miliki?

Kamus Bahasa inggris John M Echols, dibeliin ortu. Kalau yang beli sendiri, KBBI, belinya pas kuliah di IPB dan dapet honor dari nerjemahin tugas temen.

7. Apa perbedaan yang paling terasa antara menjadi editor in house dan pekerja lepas seperti sekarang?

Kudu pinter ngatur waktu dan enggak boleh patuh sama mood, kecuali memang fisik lagi enggak mendukung, semisal lagi kena sakit kepala parah atau murus-murus.
Pas awal-awal jadi freelancer sempat jetlag, tapi lama-lama ketemu ritmenya sendiri. Apalagi sekarang juga dagang, jadi bener-bener harus disiplin dan fokus ketika mengerjakan editan, dagangan (memilah dan memilih pesanan barang, dan bebungkus), dan kerjaan domestik harian. Aku masih belajar untuk bisa lebih efektif dan efisien dalam mengerjakan  berbagai hal. Dan itu yang susah, mengingat aku yang moody dan gampang hilang fokus. Suami sering nasihatin soal efektif dan efisien itu, bener-bener masih kudu belajar. Belum kebayang nanti kalo misal dikasih anugerah punya anak. Hihihi.

8. Jika penerjemah fiksi ingin merambah nonfiksi, apa saran Nur agar bahasa dan penerjemahannya lebih berterima?

Menerjemah fiksi dan nonfiksi punya tingkat kesulitan masing-masing. Tapi yang terasa adalah di rasa bahasa. Ada rasa bahasa fiksi yang tidak bisa diterapkan di nonfiksi demikian juga sebaliknya. Jadi kayaknyaa … hehehe … mungkin setelan rasa bahasa itu yang harus disesuaikan. Kayak frekuensi radio gitu. Keuntungan penerjemah fiksi adalah lebih kaya bahasa yang familier dan sering didengar daripada nonfiksi. Jadi, kadang untuk satu kata atau kalimat, atau paragraf tertentu bisa jadi rasanya malah lebih pas dibaca ketika diterjemahkan oleh penerjemah yang biasa menerjemahkan fiksi.

9. Lebih suka menyunting naskah lokal atau terjemahan? Mengapa?

Suka dua-duanya kalau menarik. Hihihi. Tapi lebih ke terjemahan karena secara struktur lebih teratur daripada naskah lokal.
Tapii … repotnya kalo terjemahannya parah, bisa berdarah-darah dan marah-marah terus pas ngerjainnya. Mulut seringnya enggak berhenti ngomelin penerjemahnya, karena mau enggak mau harus bolak-balik cek buku terjemahan dan parah-parahnya malah nerjemahin ulang.
Untuk naskah lokal, kan, sebenernya sama juga gitu, ngomelin penulis kalo naskahnya kacau dan kalo nonfiksi struktur naskahnya berantakan dan enggak runtut.
Hihihi, makanya kudu banyak-banyak tobat diriku ini. Astaghfirullah.

10. Adakah tips khusus untuk penyunting buku nonfiksi?

Enggak boleh malas riset dan belajar, trus jangan pula terlalu pede dengan dasar ilmu pengetahuan yang dimiliki. Ilmu berkembang terus dan kita manusia banyak lupanya.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s