Introspeksi Diri Seputar Kepekerjalepasan

Terilhami artikel Martine de Luna yang saya baca pagi ini.

Di artikel lain yang saya lupa URL dan sumbernya, sang penulis menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan mencakup penilikan kesalahan pribadi. Mengingat perjalanan saya sekian tahun ini, tentu sudah banyak sekali kekeliruan yang saya buat.

Secara teknis, di antaranya:

  1. Titik dua dan titik tiga. Saya sudah sering diperingatkan Mas Agus, yang semasa masih luang bisa mem-proof terjemahan saya sebelum disetorkan. Mungkin dia sudah berbusa-busa membicarakan titik yang benar itu tiga (misalnya, « Dia tidak mau… »). Namun baru setelah editor mengatakan sendiri, saya tersadar kemudian memperbaikinya. Bukan karena mengejar karakter, tapi saya sendiri pernah menyunting dan harus menambahkan banyak sekali titik yang kurang. Betapa repotnya.
  2. Mengentengkan softcopy. Saya paling bersorak jika memperoleh materi berupa PDF, atau kalau ternyata bukan, bela-belain men-scan kemudian konversi ke Word. Pikir saya, enak banget tinggal mengetik hasil terjemahan menimpa di teks asli itu daripada tengak-tengok kiri-kanan lalu pegal. Seiring dengan waktu saya tahu, cari gampang malah berbuntut kerja dua kali. Untuk awalnya, saya acap menyusahkan Mas Agus merepotkan hasil copy PDF ke Word yang berantakan. Kemudian editor mendapati beberapa kalimat terlewat saya terjemahkan atau ada yang lupa saya hapus.
  3. Menyunting dengan tampilan Final Showing Markup. Ini lagi-lagi kebandelan, mengabaikan Mas Agus yang bilang, « Duh, runyam banget sih kerjaanmu itu. » Saya terlalu asyik dengan hal-hal lain, lalu belum lama ini iseng utak-atik menu setting Track Changes, dan… ooh, ternyata balon-balonnya bisa disembunyikan. Ooh, kalau pakai tampilan Final mata tidak cepat lelah. Sudah barang tentu, loading file jadi tidak seberat tampilan utuh yang ramai tadi. Kesalahan yang dapat merugikan klien, seperti kelebihan spasi, juga dapat diminimalisir.
  4. Menggampangkan buku tipis. « Dua ratus halaman? Ah, kecil. » Mungkin orang lain sudah jago terkait itu, tapi saya tidak. Apalagi jika genre dan topiknya relatif asing, baik karena belum pernah saya tangani atau sudah namun terakhir kalinya berjarak sekian tahun silam. Otak butuh pemanasan dan adaptasi. Saya juga pernah menggampangkan genre, menilai nonfiksi jauh lebih enteng. Padahal ketika tes, gugur. Tamparan yang setimpal:))

Hal-hal lain:

  1. Menerima proyek Sangkuriang, Bandung Bondowoso, atau apa pun sebutannya untuk yang sejenis. Kebiasaan lama sukar dikikis, memang. Saya meninggalkan dunia terjemahan dokumen lantaran tidak kuat sprint. Namun di dunia buku, saya masih mengulangi kesalahan (saya sebut kesalahan karena tidak mengukur kapasitas diri, terutama tubuh) ini sekian kali. The power of kepepet yang menjadi kekuatan sejumlah orang justru « musuh » saya. Mati listrik mendadak, komputer ngadat (mungkin ngambek diajak kebut-kebutan sampai dinihari), internet pingsan sedangkan warnet tidak ada yang dekat, badan meriang dan sakit kepala lalu maag kambuh, sudah jadi akumulasi. Kalau tidak sadar juga, kebangetan.
  2. Berusaha menyenangkan semua orang. Ternyata ini makan waktu, mengacaukan prioritas, dan emosi saya. Saking mudahnya memasukkan ke hati, saya pernah lesu dan tidak bersemangat kerja akibat suatu umpan balik negatif. Ini terjadi berhari-hari. Konyol ya? Silakan tertawa. Rupanya para klien sendiri tidak mengetahui komentar-komentar itu, sebagaimana ucapan seorang editor in house yang menohok, « Urip kok mung mentelengi TL. » (Hidup kok hanya melototi TL). Bukan menolak saran, namun demi kesehatan mental dan konsentrasi, saya harus lebih menomorsatukan tanggung jawab pada klien. Editor sudah saya ajak diskusi dan suka diksi saya, selesai. Editor masih memercayai saya, tahu dan bahkan menginstruksikan penyesuaian bagian tertentu terkait selingkung, aman sudah. Seperti kata suami seorang teman baik, « Malas ah merasa sebal atau jengkel, merusak hari. Lebih baik fokus ke kerjaan. » Juara:))
  3. Rakus. Benar, freelancer harus bekerja ekstrakeras sebab tidak ada tunjangan dan fasilitas ini-itu. Namun yang saya alami, berusaha meraup order sebanyak mungkin bukan jalan keluarnya. Sebagaimana rata-rata pekerja di rumah, multitasking dengan urusan rumah tangga sudah menuntut porsi waktu dan energi tersendiri. Predikat laris dan serbabisa kedengarannya keren. Setelah direnungkan lagi, saya beralih dari menulis buku (terutama yang bertenggat/sistem pesanan) ke penulisan secara umum. Tidak apa-apa deh, andai tak « diakui » hanya karena tak menerbitkan karya lagi. Masih banyak jalan untuk menekuni bidang yang saya senangi. Saya sepakat dengan artikel Barbara Seifert, even wonder woman hangs it up now and then.
  4. Gemar « curcol » tatkala menjelaskan sesuatu. Yang tersering, tatkala mengajukan perpanjangan waktu pada editor. Bilang sakit, sudah cukup. Selebihnya, kolega lain menyarankan, « Bilang saja belum selesai. Titik. Klien kan tidak perlu tahu kenapa. » Ini manjur juga dalam situasi berbeda, contohnya pembaca yang mengkritik cover atau terus-menerus bertanya kenapa buku seri tertentu tidak dilanjutkan, dan sebagainya. Dulu saya berusaha memberi jawaban pada siapa pun. Tapi karena penanya tak pernah puas, benarlah kata seorang editor, « Tidak semua orang perlu diberi informasi serinci-rincinya. » Saya hanya dapat menyampaikan sebagaimana postingan ini, dengan batas tertentu yang diizinkan etika konfidensial kerja. Kalau yang diberitahu tidak mau terima atau tidak mau mengerti, itu sudah di luar « kuasa » saya.
  5. Memperrumit masalah. Jalan keluarnya simpel belaka. Menganggap ketidakcocokan selingkung satu penerbit sebagai hal prinsipil yang dapat menghambat proses kerja, tak usah kerja sama. Jangan sampai seperti kata orang Sunda, « Dipoyok dilebok. » Sudah dicela, kok ya dimakan juga. Daripada koar-koar negatif, lebih baik kerahkan upaya semaksimal mungkin menggarap yang di depan mata dan dianggap lebih « sehati ». Menggerutu dan membicarakan panjang lebar kekurangan klien (baca: ketidakpuasan kita) sejauh ini belum pernah mendatangkan manfaat. Klise kedengarannya, namun kita tidak bisa memperoleh semua. Honor tinggi, tapi tak dapat jatah terbit atau dikabari waktu sudah terbit. Deadline mepet, tapi bayarnya  tepat waktu. Tinggal pilih saja.
  6. Berekspektasi lingkungan, famili, kenalan baru memahami dan berhenti bertanya. Di permulaan, okelah wajar. Setelah lebih dari 10 tahun, lupakan sajalah berharap ini dianggap lazim. Selalu ada orang yang datang pagi-pagi ketika saya masih menghimpun nyawa, mengajak ngobrol ngalor-ngidul kala saya menekuri laptop. Jika punya energi untuk bersopan santun, jelaskan singkat, tunjukkan karya, senyum, kemudian konsentrasi lagi. Jika ingin merespons ekstrem, tunjukkan lembar SPK atau bukti potong pajak. Saya pernah baca satu kutipan, « What other people think about you is none of your business. » Yakin deh, banyak juga profesi lain yang « dipertanyakan » begini.

Begitu keras kepalanya saya (dan ini bukan bangga), butuh waktu sekian tahun untuk memahami semua ini lalu belajar darinya. Ihwal kinerja saya menjadi lebih baik atau belum setelah merenungkan semua ini, bukan saya yang mampu menilai. Hanya saja, saya merasa lebih sehat dan bahagia.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s